Second-rate Life

Saya membaca majalah Tempo pagi ini, ya, saya membaca majalah Tempo pagi ini, yang bertajuk ‘Pergulatan Demokrasi Liberal, 1950-1959: Zaman Emas atau Hitam’, kemudian saya berpikir tentang suatu sore kira-kira 10 tahun lalu waktu saya menerima bingkisan dari ibu saya berisi kaset-kaset pidato Bung Karno yang katanya ia beli di emperan Monumen Proklamasi. Dari seorang Soekarnois yang menjualnya dari bak Kijang. Ada dua atau tiga kaset, sampulnya berwarna tapi cetakannya murahan. Warna two-toned merah putih apa lagi, dengan potret Bung Karno berkaca mata hitam. Bentuknya mirip Ray-Ban klasik yang sekarang menjamur lagi, tapi jumlah pixel di sampul murahan itu tidak cukup menangkap merek di gagangnya, kalau memang ada.

Isi kaset itu berbagai macam pidato di berbagai tempat, yang saya ingat dua, satu di PBB berbahasa Inggris dengan suara seperti dalang, dan satu lagi ceramahnya di sebuah universitas di Malang, dengan nada yang lebih santai dan sempat ada tanya jawab, walaupun pertanyaannya tidak kedengaran, tapi dalam jawabannya Pemimpin Mimpi Besar Revolusi [mungkin Pemimpi Besar Revolusi lebih lucu?] itu sempat melucu.

Waktu itu saya senang dengan Bung Karno. Atau tepatnya, waktu itu saya bangga punya bekas presiden seperti dia. Walaupun sebenarnya, waktu itu, saya tidak begitu tahu juga tentang dia, dan, kadang-kadang, susah merekonsiliasi menonton footage Pinochet dalam sebuah acara kenegaraan berbaju militer lengkap dengan epaulet berumbai-rumbai kemudian berpikir, what an idiot, kemudian menonton footage BK berpeci, berkaca mata hitam yang sama, berbaju militer lengkap dengan papan tanda jasa seukuran alun-alun di dadanya, melambai-lambaikan tongkat komando kepada rakyat Amerika yang menyambutnya bermobil konvertibel bersama JFK, kemudian berpikir, what a fuckin cool guy.

Dalam berbagai artikel di Tempo tadi, ada banyak cerita tentang bagaimana Soekarno suka melakukan banyak hal yang tidak rasional, seperti mengkritik Menteri Keuangan yang dianggapnya terlalu sibuk mengurusi ekonomi, hahaha, daripada membebaskan Papua dari Belanda, memanggil TB Simatupang “poept” (tai), dan menyatukan Indonesia. Pokoknya Tempo edisi ini setuju dengan Herbert Feith yang menyebut pemimpin seperti Soekarno sebagai solidarity maker yang “pemikirannya sentimental dan kebijakan pemerintahnnya tak rasional” (Tempo, 17 Agustus 2007, h. 27) tapi tentu saja tak mau terang-terangan mengakuinya jadi mengutipnya saja sebagai pendapat Feith dalam sebuah laporan besar yang tak pelak seimbang dan obyektif.

Yang membuat saya jadi ingat bahwa waktu itu setelah mendengarkan kaset-kaset pidato Bung Karno saya sebenarnya kecewa, tapi tidak mau mengakuinya. Nada suaranya di podium PBB memang gagah, walaupun aksennya membuat beberapa bagian kedengaran seperti bahasa Belanda, atau tepatnya seperti aksen pemain ketoprak yang memainkan tokoh kopral Belanda di TVRI Jogja circa 1985, tapi isinya sebenarnya tidak lebih dari propaganda tentang gerakan Non-Blok dan Pancasila. Dan buat yang masih yakin Soekarno sebenarnya seorang komunis: buku pertama yang dikutipnya dalam pidato ini adalah Al-Quran. Dan yang kedua, Injil. Sementara yang saya ingat dari ceramahnya di Malang itu adalah leluconnya kepada mahasiswa penanya tadi, yang tidak lucu.

Kemudian saya berpikir, betapa banyak orang-orang seperti itu di negeri ini. Orang-orang yang kalau kita melihat gambar mereka, di koran, di TV, di kolom foto multiply, begitu menarik, mengesankan, ganteng, cantik, kece, keren, muda, berbakat, sophisticated, totally with it, kosmopolitan, membuat iri, gokil, nendang, dar!, lucu, anjrit, tuinggg!, tapi sebenarnya hanya dilletante second-rate.

Jimi Multhazam misalnya, orang menganggapnya lucu dan gokil sehingga dia laris manis sebagai MC. Tapi di panggung dan dalam interview-interviewnya saya bingung, dia hanya mengulang-ulang kata “fren” dan “Mars”, dan semua orang ketawa? Pengkultusan Jimi Upstairs sebagai l’homme gokil extraordinaire ini sebenarnya mengaburkan kenyataan bahwa mungkin dia sebenarnya adalah seorang penyair first-rate, lirikus terbaik Indonesia sejak Oddie Agam, sekaligus meyakinkan bahkan dia sendiri mungkin untuk, sejauh ini, menjalani karir sebagai Iggy Jagger second-rate dan Raja Pensi.

Kemudian Joko Anwar. Kebanyakan orang menganggapnya jenius setelah Kala. Tapi apakah sebuah film, karena dibangun di atas lelucon—yang harus diakui agak subversif, tapi subversif di negeri yang penuh dengan orang second-rate apakah benar-benar subversif?—bahwa Ratu Adil, the Queen of Justice, ternyata seorang Rice Queen, dan disusun dari kolase koleksi video Tarantino, otomatis bagus?

Atau Ayu Utami. Selain pemberontakan seksualnya yang lugu—lihat buku Katrin Bandel Sastra, Perempuan, Seks tentang vagina dalam Saman yang “haus”, butuh sperma untuk orgasme, vagina butuh sperma untuk orgasme???????—buku ini juga diakhiri dengan kalimat imperatif “Perkosalah aku” yang selain inversinya bisa ditebak, ya, yang mengucapkan itu Saman, seorang lelaki, efeknya juga kurang nendang karena itu diucapkan … dalam email.

Begitulah. Bulan lalu saya ke Ende, ternyata di situ ada rumah tua yang dirawat dengan baik, dengan pekarangan luas, pohon mangga, sumur dan halaman rumput di belakang, bekas tempat pengasingan Soekarno. Itu setelah seminggu mendengar cerita penuh semangat dari sopir bus, nakhoda kapal, kenek, preman pasar, tentang kesaktian Bung Karno yang membuat politisi-politisi lawannya tidak berani mengunjungi Ende. Politisi terakhir yang nekad adalah Adam Malik yang mengunjungi Danau Kelimutu, tempat Bung Karno bertapa, dan begitu pulang ke Jakarta dia langsung mati. Begitu cerita mereka. Di “kamar semedi” di rumah pengasingan itu penjaga rumah yang bermata satu menunjukkan tiga lingkaran lonjong mengkilat di lantai semen, katanya, “Itu bekas dahi, dan dua tangan Bung Karno waktu solat. Setiap kali kita pel, selalu muncul lagi.” Di sumur, pengunjung mengambil air sumur untuk cuci muka sambil berdoa (seorang gadis setengah berteriak, “Semoga jodoh lancar Bung Karno”) dan beberapa membeli botol Aqua di warung seberang jalan, membuang isinya, dan menggantinya dengan air sumur.

Saya mengamati semua itu sambil duduk di lantai beranda belakang yang dingin, rumah ini begitu isis, padahal Ende panas, penjaga rumah yang duduk di samping saya menatap saya dengan matanya yang cuma satu, “Bung Karno sempat punya istri juga di sini. Orang Flores asli. Anaknya dua.”

The life of a second-rate. Enak juga kelihatannya.


 

Advertisements

6 thoughts on “Second-rate Life

  1. wah jangan2 kita semua ini memang hanya manusia-manusia second-rate yang hidup di negeri second-rate, dipimpin oleh presiden (atau calon gubernur?) yang second-rate, membaca novel-novel second-rate, menulis review-review second-rate, disuguhi film-film second-rate dari para filmmaker second-rate duh, duh, duh….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s