kaos kutang fields of nephilim-mu membuatku merasa
renda saja selendang emasmu dari cikini raya hingga senayan
hiraukan mantra dan jampi di answering machine-mu
tempa rubahku dalam serentetatan tinta hitam
kau, dewaku berbuntut tikus
Eine kleine Mekifantasie
kaos kutang fields of nephilim-mu membuatku merasa
renda saja selendang emasmu dari cikini raya hingga senayan
hiraukan mantra dan jampi di answering machine-mu
tempa rubahku dalam serentetatan tinta hitam
kau, dewaku berbuntut tikus
sembilan belas tahun
udah pernah
dari tiga bulan
udah dua kali
sehat
resepnya ibu yang kasih kan
kalok lagi puasa gini paling muntah
175 ribu
halo adeeek
160 paling
150 bu
sudah setahun
habis itu udah nggak papa
sekali
lulus SMEA
di bogor
gimana ya
sejak 2008
o gitu
Beberapa waktu lalu Julian Aldrin Pasha, jubir Presiden RI, menulis artikel di Kompas menanggapi kritik Mochtar Pabottinggi terhadap Presiden SBY. Jika seperti George Orwell bilang, “good prose is like a window pane”, prosa (kalau bisa dikatakan begitu) Julian ini seperti daun jendela yang terlalu banyak ukirannya sampai lupa menyisakan lubang buat kacanya. Untuk memudahkan pembaca menjebol jendela itu dan meloaknya di Pasar Rumput, saya sempatkan untuk mengedit artikel Julian. Dua kali. Enjoy. (Yang pertama yang asli.)
Konsistensi Presiden
Julian Aldrin Pasha
Kompas, Rabu, 25 Agustus 2010
Mendalami tulisan profesor riset Mochtar Pabottingi atas pernyataan Presiden pada peringatan Hari Konstitusi di Gedung MPR/DPR di Kompas, 23 Agustus 2010, perlu dibuat tanggapan klarifikatif.
Setelah pernyataan Ruhut Sitompul dilontarkan, banyak pertanyaan datang kepada saya. Intinya, bagaimana sikap Presiden? Terus terang, perasaan saya sama dengan perasaan Prof Pabottingi: seperti mendengar pernyataan yang jatuh dari langit di siang bolong tanpa ujung pangkal. Atas nama akal sehat, pernyataan itu harus diluruskan. Mengapa ditanggapi serius?
Jawabannya: karena concern media massa. Menjadi penting karena hampir semua media, baik elektronik, dunia maya, microbloggers (Facebook dan Twitter), maupun media cetak, tampak begitu bersemangat menaikkan dan mengedepankan ”nyanyian” sumbang itu. Substansinya spekulatif. Seputar bahwa apakah suara itu sesungguhnya berasal dari Istana? Atau, mungkinkah ia hanya orang suruhan? Atau, sebaliknya, sebagai menu pembuka hidangan politik, hitung-hitung testing the water? Atau, mungkin ini justru perintah ”certiorari” dari dalam parlemen sendiri?
Rangkaian probabilitas di atas kemudian mendorong saya menyampaikan kepada Presiden bahwa perlu dibuat pernyataan pada saat sambutan peringatan Hari Konstitusi. Pertimbangannya, momentumnya tepat karena wacana itu bersinggungan dengan konstitusi. Seandainya tanpa ada pernyataan Presiden, hampir pasti isu tersebut kemudian menggelinding memenuhi ruang publik, menggeser isu atau substansi penting lainnya, seraya memberi ruang yang lebih dari cukup bagi para komentator, pengamat, atau pakar komunikasi politik untuk mengemukakan hipotesis dan analisisnya yang belum tentu sepenuhnya benar, kalau tidak pantas dikatakan ngawur.
Diskursus semu
Wacana seputar citra Presiden tidak perlu didramatisasi. Wacana dan diskursus terhadap hal itu sungguh tidak relevan dalam konteks Presiden SBY. Bahwa ada garis batas dan perbedaan jelas antara politik pencitraan serta keseriusan bersikap dan konsistensi tindakan. Politik pencitraan adalah bentuk lain dari ”pepesan kosong”. Tidak ada permanenitas dan konsistensi di dalamnya. Ibarat salon mobil atau salon kecantikan, cukup dipoles sehingga baret atau luka dapat tertutupi. Beberapa konsultan politik telah demikian mahir sehingga mampu dalam sekejap ”memoles” sesuai dengan citra yang ingin diciptakan. Namun pasti, make up semacam itu tidak tahan lama, cepat luntur, karena tidak bersumber dari hati dan dilakukan secara konsisten. Keseharian seorang SBY adalah bersikap dan bertindak secara konsisten, disiplin, berdasarkan kebiasaan serta keyakinannya.
Berangkat dari realitas, tudingan bahwa Presiden menghabiskan waktu untuk membangun citra ilusif dan bersikap evasif menunda konfrontasi dengan masalah serta sama sekali tidak fully in charge, sebagaimana disebut sang Suhu, mahaguru, membuat saya bertanya, apakah postulat ini berdasarkan kajian riset dan terhindar dari harum-scarum serta bebas-nilai? Atau, hanya keyakinan berdasar informasi dunia maya dengan sejuta ilusi di dalamnya? Undreamed-of, memang sulit memahami secara utuh cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang presiden bila dibayangkan atau dilihat hanya dari kejauhan.
Sedikit orang yang tahu bahwa hampir seluruh waktunya didedikasikan bagi kepentingan, kemajuan, dan keselamatan bangsa dan negara. Bagaimana seorang SBY harus menghadapi kompleksitas luar biasa dalam memimpin negara Indonesia. Dibutuhkan wawasan pemahaman komprehensif yang cerdas, bijak, dan terukur. Permasalahan senantiasa muncul. Sejauh ini, sebagian telah dikelola dengan baik, sisanya masih merupakan tantangan untuk diselesaikan sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab pemerintahan SBY hingga Oktober 2014.
Sejarah mencatat bahwa bangsa yang maju ditopang oleh kerja keras dari orang- orang terbaik. Ibarat logam mulia atau crème de la crème, mereka memiliki semangat segar-sehat-harmoni, dengan pikiran maju untuk membangun negaranya. Mereka maju karena pemerintahan berjalan optimal tanpa diganggu oleh intrik dungu, narrow-minded, kesinisan, atau hujatan yang ”dimainkan” oleh sekelompok orang yang punya vested-interests.
Negara ini memiliki segalanya, termasuk resources yang diperlukan menjadi negara maju. Menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara dalam menjaga dan membangun negara, sebagaimana diamanatkan founding fathers bangsa lebih dari enam puluh lima tahun lalu.
Presiden sebagai lembaga
Sering kali disalah mengerti bahwa presiden sesungguhnya lembaga, bukan pribadi. Bahwa presiden sebagai kepala pemerintahan tidak serta-merta dikultuskan sebagai individu sebagaimana seorang pemimpin ultra-Vires. Pandangan semacam ini mungkin bisa dipahami di masa lalu. Ketika ekspektasi terlalu besar dialamatkan kepada lembaga kepresidenan, jangan dilupakan bahwa ada pranata politik atau institusi lain yang juga—harus—bekerja. Lebih dekat, spesifik, dan teknis. Lembaga kepresidenan bukan segalanya. Di pusat juga ada kementerian dan lembaga, sementara daerah pun memiliki lembaga sesuai tugas dan fungsi dalam menjalankan pemerintahan.
Akhirnya, secercah harapan kepada para peneliti sosial untuk melakukan kajian demi menjawab keraguan dan kecemasan dalam menyongsong tantangan lima tahun ke depan, pasca-2014. Perlu dibuat proyeksi bangsa kita ke depan. Harus diakui, setidaknya dalam lima tahun terakhir bangsa ini telah melangkah maju. Tidak perlu terlalu pelit memberi apresiasi karena masyarakat dunia mengakuinya. Tentu banyak hal yang masih harus dikejar, diperbaiki, dan disempurnakan. Sebaliknya, sebagai antisipasi hal-hal yang dapat menjerumuskan kita menjadi failed state, sebagaimana dikhawatirkan, akan sangat diapresiasi bila muncul kajian empiris yang mengungkapkan filling the gap, what went wrong with our lovely country? Dan para komentator politik tidak cukup punya waktu melakukannya.
Julian Aldrin Pasha Juru Bicara Presiden RI
Konsistensi Presiden
Julian Aldrin Pasha seandainya ia tidak berasal dari Mars
Saya ingin menanggapi tulisan Mochtar Pabottingi tentang pernyataan Presiden pada peringatan Hari Konstitusi di Gedung MPR/DPR di Kompas, 23 Agustus 2010.
Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana sikap Presiden tentang pernyataan Ruhut Sitompul yang mengusulkan masa jabatan Presiden Yudhoyono diperpanjang sampai tiga masa jabatan? Terus terang, perasaan saya sama dengan perasaan Prof Pabottingi: seperti habis ditimpa meteor yang jatuh dari langit di siang bolong. Lalu kenapa harus ditanggapi?
Jawabannya: karena hampir semua media, baik elektronik, dunia maya—termasuk microbloggers di Facebook dan Twitter, maupun media cetak, begitu bersemangat menyitir nyanyian sumbang Ruhut itu. Mereka bertanya, apakah suara itu sesungguhnya berasal dari Istana? Atau, mungkinkah Ruhut hanya orang suruhan? Atau, pernyataan Ruhut hanyalah menu pembuka hidangan politik, untuk mengetes reaksi masyarakat umum? Atau, mungkin ini justru perintah dari parlemen?
Kemungkinan-kemungkinan di atas mendorong saya menyampaikan kepada Presiden bahwa ia perlu membuat pernyataan pada saat sambutan peringatan Hari Konstitusi. Pertimbangannya, saatnya tepat karena komentar Ruhut tadi menyinggung masalah konstitusi. Seandainya Presiden tidak berkomentar, hampir pasti debat tentang komentar Ruhut akan menggeser perdebatan tentang hal-hal yang lebih penting, seraya memberi ruang bagi para komentator, pengamat, atau pakar komunikasi politik untuk mengumbar hipotesis dan analisis yang belum tentu sepenuhnya benar, bahkan malah ngawur.
Debat semu
Citra Presiden tidak perlu didramatisasi. Ada garis batas dan perbedaan jelas antara politik pencitraan serta keseriusan bersikap dan konsistensi tindakan. Politik pencitraan adalah bentuk lain dari “pepesan kosong”. Tidak pernah abadi maupun konsisten. Ibarat di salon mobil atau salon kecantikan, cukup dipoles sehingga baret atau luka dapat tertutupi. Beberapa konsultan politik telah demikian mahir sehingga mampu dalam sekejap memoles citra seseorang sesuai permintaan. Namun, ketok magic semacam itu tidak akan tahan lama, cepat luntur, karena tidak bersumber dari hati dan tidak dilakukan secara terus-menerus. Sementara, setiap hari SBY bersikap dan bertindak secara konsisten, disiplin, berdasarkan kebiasaan serta keyakinannya.
Tudingan bahwa Presiden menghabiskan waktu untuk membangun citra dan menolak untuk menanggapi masalah—sehingga ia terlihat impoten—sebagaimana disebut Prof Pabotinggi, membuat saya bertanya, apakah tudingan ini berdasarkan kajian riset dan tidak ngawur? Atau, hanya keyakinan berdasar informasi dunia maya dengan sejuta ilusi di dalamnya? Seorang profesor seharusnya tidak melakukan hal ini. Sulit—dan salah— menilai secara utuh cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang presiden hanya dari kejauhan.
Sedikit orang yang tahu bahwa hampir seluruh waktu Presiden SBY didedikasikan bagi kepentingan, kemajuan, dan keselamatan bangsa dan negara. Ia harus menghadapi kerumitan luar biasa dalam memimpin negara Indonesia. Ia membutuhkan—dan mempunyai— wawasan yang luas dan pemahaman yang lengkap, cerdas, bijak, dan terukur. Sudah begitu pun, permasalahan senantiasa muncul. Sejauh ini, sebagian telah diselesaikan dengan baik, sisanya masih menunggu waktu hingga Oktober 2014.
Sejarah mencatat bahwa bangsa yang maju ditopang oleh kerja keras dari orang- orang terbaik. Mereka seperti logam mulia atau idiom Perancisnya, crème de la crème. Mereka orang-orang yang memiliki semangat segar-sehat-harmoni, dengan pikiran maju untuk membangun negara. Mereka melancarkan pemerintahan tanpa mau diganggu oleh intrik dungu, cara berpikir sempit, kesinisan, atau hujatan dari orang yang menyimpan udang di balik batu.
Negara ini memiliki segalanya, termasuk sumber daya yang diperlukan untuk menjadi negara maju. Kita bersama sebagai warga negara bertanggung jawab menjaga dan membangun negara, sebagaimana diamanatkan para pendiri bangsa lebih dari enam puluh lima tahun lalu.
Presiden sebagai lembaga
Sering kali orang tidak tahu bahwa presiden adalah lembaga, bukan pribadi. Presiden sebagai kepala pemerintahan tidak harus dikultuskan sebagaimana seorang raja tempo doeloe. Harapan terlalu besar sering dialamatkan kepada lembaga kepresidenan, sementara orang lupa bahwa ada pranata politik atau institusi lain yang juga—harus—bekerja, secara lebih dekat, spesifik, dan teknis. Lembaga kepresidenan bukan segalanya. Dalam pemerintahan pusat juga ada kementerian dan lembaga lain. Pemerintah daerah pun memiliki lembaga-lembaga dengan tugas dan fungsi mereka sendiri.
Peneliti sosial sebaiknya melakukan kajian akademik untuk menjawab keraguan dan kecemasan masayarakat. Perlu diperkirakan bangsa kita lima tahun yang akan datang akan seperti apa. Harus diakui, dalam lima tahun terakhir bangsa ini telah melangkah maju. Tidak perlu terlalu pelit memberi pujian karena masyarakat dunia mengakuinya. Tentu banyak hal yang masih harus dikejar, diperbaiki, dan disempurnakan. Sebaliknya, kita juga harus menghindar dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kita menjadi negara gagal. Akan sangat berguna bila muncul kajian berdasarkan fakta yang mengungkapkan apa yang salah dengan negara ini? Tapi kelihatannya para komentator politik tidak punya cukup waktu melakukannya.
Julian Aldrin Pasha Juru Bicara Presiden RI lovingly edited by me
Konsistensi Unyu
Julian Unyu Pasha
Mengunyui unyu profesor unyu Mochtar Pabottingi atas perunyuan Presiden pada peringatan Hari Unyu di Gedung Unyu di Kompas, 23 Agustus 2010, perlu diunyu unyuan klarifikatif. Setelah perunyuan Ruhut Sitompul diunyukan, banyak unyu datang kepada saya. Intinya, bagaimana unyu Presiden? Terus terang, unyu saya sama dengan unyu Prof Pabottingi: seperti mengunyu perunyuan yang jatuh dari unyu di siang bolong tanpa ujung unyu. Atas nama akal unyu, perunyuan itu harus diunyukan. Mengapa diunyui serius?
Jawabannya: karena unyu media massa. Menjadi unyu karena hampir semua unyu, baik elektronik, dunia unyu, microunyu (Facebook dan Twitter), maupun media unyu, tampak begitu berunyu menaikkan dan mengedepankan ”unyu” sumbang itu.
Unyunya spekulatif. Seputar bahwa apakah unyu itu sesungguhnya berasal dari Istana Unyu? Atau, mungkinkah ia hanya unyu suruhan? Atau, sebaliknya, sebagai unyu pembuka hidangan politik, hitung-hitung testing the unyu? Atau, mungkin ini justru unyu ”certiorari” dari unyu parlemen sendiri?
Rangkaian unyu di atas kemudian mengunyu saya mengunyukan kepada Presiden bahwa perlu diunyu perunyuan pada saat sambutan peringatan Hari Unyu. Perunyuannya, unyunya tepat karena unyu itu bersinggungan dengan konstitusi unyu. Seandainya tanpa ada perunyuan Presiden, hampir pasti unyu tersebut kemudian menggelinding memenuhi ruang unyu, menggeser unyu atau substansi penting lainnya, seraya memberi unyu yang lebih dari cukup bagi para komentator, pengamat, atau pakar komunikasi unyu untuk mengemukakan unyu yang belum tentu sepenuhnya unyu, kalau tidak pantas dikatakan unyu.
Diskursus unyu
Wacana seputar unyu Presiden tidak perlu didramatisasi. Wacana dan diskursus terhadap unyu itu sungguh tidak unyu dalam konteks Presiden UNYU. Bahwa ada garis unyu dan perbedaan jelas antara politik perunyuan serta keseriusan berunyu dan konsistensi unyu. Politik perunyuan adalah bentuk lain dari ”pepesan unyu”.
Tidak ada permanenitas dan konsistensi di dalam unyu. Ibarat salon mobil atau salon keunyuan, cukup diunyu sehingga baret atau luka dapat tertutupi. Beberapa konsultan unyu telah demikian mahir sehingga mampu dalam sekejap ”mengunyu” sesuai dengan unyu yang ingin diciptakan. Namun pasti, unyu semacam itu tidak tahan lama, cepat luntur, karena tidak bersumber dari unyu dan dilakukan secara berkesiunyuan. Keseharian seorang UNYU adalah bersikap dan bertindak secara unyu, disiplin, berdasarkan keunyuannya.
Berangkat dari unyu, tudingan bahwa Presiden mengunyukan waktu untuk membangun unyu ilusif dan berunyu evasif menunda konfrontasi dengan unyu serta sama sekali tidak fully in unyu, sebagaimana disebut sang Unyu, Mahaunyu, membuat saya berunyu, apakah postulat ini berdasarkan kajian unyu dan terhindar dari harum-scarum serta bebas-unyu? Atau, hanya keyakinan berdasar informasi dunia unyu dengan sejuta unyu di dalamnya? Undreamed-of for an unyu, memang sulit memahami secara unyu cara berpikir, bersikap, dan berunyu seorang presiden bila dinilai atau dilihat hanya dari keunyuannya.
Sedikit unyu yang tahu bahwa hampir seluruh waktu Presiden UNYU didedikasikan bagi kepentingan, kemajuan, dan keunyuan bangsa dan negara. Bagaimana seorang UNYU harus mengunyui kompleksitas luar biasa dalam memimpin negara Unyu.
Dibutuhkan wawasan pemahaman unyu komprehensif yang cerdas, bijak, dan terunyu. Unyu senantiasa muncul. Sejauh ini, sebagian telah diunyu dengan baik, sisanya masih merupakan tantangan untuk diunyukan sebagai bagian dari tugas dan unyu pemerintahan UNYU hingga Oktober 2014.
Unyu mencatat bahwa bangsa yang unyu ditopang oleh kerja keras dari unyu-unyu terbaik. Ibarat logam mulia atau ünyü de la ünyü, mereka memiliki semangat unyu-unyu-unyu, dengan pikiran unyu untuk mengunyu negaranya. Mereka maju karena pengunyuan berjalan optimal tanpa diunyu oleh intrik unyu, unyu-minded, keunyuan, atau hujatan yang ”diunyukan” oleh sekelompok orang yang punya vested-unyus.
Negara ini memiliki segala unyu, termasuk unyus yang diperlukan menjadi negara unyu. Menjadi unyu kita bersama sebagai warga unyu dalam menjaga dan membangun unyu, sebagaimana diamanatkan founding unyus bangsa lebih dari enam puluh lima tahun lalu.
Presiden sebagai unyu
Sering kali disalah mengerti bahwa presiden sesungguhnya unyu, bukan pribadi. Bahwa presiden sebagai kepala pengunyuan tidak serta-merta dikultuskan sebagai unyu sebagaimana seorang unyu ultra-Vires. Unyu semacam ini mungkin bisa dipahami di masa lalu.
Ketika ekspektasi terlalu besar dialamatkan kepada unyu kepresidenan, jangan dilupakan bahwa ada pranata unyu atau institusi lain yang juga—harus—unyu. Lebih dekat, spesifik, dan unyuis. Lembaga keunyuan bukan segalanya. Di pusat juga ada kementerian dan unyu, sementara daerah pun memiliki unyu sesuai tugas dan fungsi dalam menjalankan perunyuan.
Akhirnya, secercah unyu kepada para peneliti unyu untuk melakukan kajian demi menjawab keraguan dan kecemasan dalam menyongsong unyu lima tahun ke depan, pasca-2014. Perlu dibuat proyeksi unyu kita ke depan.
Harus diunyui, setidaknya dalam lima tahun terakhir bangsa ini telah mengunyu. Tidak perlu terlalu pelit memberi unyu karena masyarakat unyu mengakuinya. Tentu banyak unyu yang masih harus dikejar, diperbaiki, dan disempurnakan.
Sebaliknya, sebagai antisipasi hal-hal yang dapat mengunyukan kita menjadi failed unyu,sebagaimana dikhawatirkan, akan sangat diapresiasi bila muncul unyu empiris yang mengungkapkan filling the unyu, what went wrong with our lovely unyu? Dan para komentator unyu tidak cukup punya waktu mengunyukannya.
Julian Unyu Pasha Juru Unyu Unyu RI
aku tidak ingin berada kembali.
gang yang asing.
matahari pukul 10.
pagar hitam.
tangan yang menyelip di sela-sela.
aku kembalikan: kacamata, gus tf, kaos seringai.
kau terima tanpa kata-kata.
hanya matamu.
seperti bola hitam berair.
menyembunyikan pedang.
yang menyangga pundakku.
oleh Afrizal Malna
Yayasan Bentang Budaya, 2000
580 halaman (dapat salam dari War and Peace)
aku sudah beli buku ini lama, bertahun2, tapi tak pernah membacanya karena berat, like literally, this book is a doorstopper/brick/a ton of bricks. berat banget. kertasnya tebal, kertas sampulnya art paper tebal. makes me think mungkin ipad gak berat2 amat kali yak.
afrizal adalah seorang intelektual yg cerdas, dan gila bahwa buku ini tidak terdengar gaungnya dan orang jarang menyebut atau menyitir isinya. padahal, bagiku sendiri paling tidak, buku ini tempat pertama kali aku akhirnya menemukan jawaban untuk pertanyaan2 yg kedengarannya tolol dan naif tapi aku memang belum pernah menemukannya di buku lain, seperti: kenapa puisi sdd suka disebut puisi suasana? atau apakah itu sebenarnya puisi gelap?
afrizal ternyata memang pembaca puisi dan kritik puisi dan sejarah puisi yang tekun, pengetahuannya ttg puisi indonesia, baik yg didapatkannya dari membaca atau dari pergaulan pribadinya dengan penyair2 lain, sangat ensiklopedik. ternyata puisi sdd sering disebut puisi suasana karena subjek aku-lirik suka dihilangkan. puisi gelap (duistere poezie) ternyata istilah yg pertama kali digunakan oleh chairil anwar utk menilai puisi2 amir hamzah. bagi chairil puisi2 amir “gelap” karena memerlukan pengetahuan sejarah dan agama untuk memahaminya.
selain arsipis yang tekun, afrizal juga pemikir yg orisinil. ide2nya ttg puisi indonesia terkesan homespun/autodidact, but what a spin on things! misalnya idenya ttg puisi sebagai indeks semiotika dunia di sekelilingnya (makanya hampir setengah dari antologi arsitektur hujan-nya dimakan indeks!), dan bagaimana puisi jadi lebih menarik saat dunia jadi semakin susah untuk di-indeks-kan (terutama karena kemajuan teknologi–afrizal sudah sampai pada tahap membahas TV dan komputer, it would be fuckin interesting to know what he thinks of twitter!), yang mungkin saja mirip dengan ide2 formalisme rusia yang memberi ponten lebih kpd puisi yg lebih rumit dan padat hubungan puitik antara tiap elemen puisinya, tapi disampaikan dgn lebih simpel, dan karena homespun, juga lebih closer to home (harr harr), lebih relevan dgn kenyataan dunia puisi indonesia.
masih banyak lagi analisa2 afrizal ttg dunia/sejarah puisi indonesia yg menarik. yg aku ingat off the top of my head: “pembaca tidak memesan puisi modern”, dan “kritikus tanpa konvensi.” tapi yg juga menarik dan sempat membuat aku tertegun dengan kecemerlangan ide dan ketekunannya adalah cara dia mengutip puisi2 yg dia analisa di buku ini. jadi dia mengutip puisi hampir semua tidak dalam bentuk asli puisi itu ditulis tapi malah dengan menghilangan bentuk asli/tipografinya, menjadi seakan2 baris2 itu kalimat2 (prosa) biasa. jadinya seperti “apakah arti sajak ini, kalau anak semalam batuk2, bau viks dan kayu putih melekat di kelambu, kalau istri terus mengeluh tentang kurang tidur, tentang gajiku yang tekor” (subagio sastrowardoyo), atau “apa yang berharga dari puisiku, kalau adikku tak berangkat sekolah karena belum mebayar uang SPP. apa yang berharga dari puisiku, kalau becak bapakku rusak.” bahkan afrizal tidak memakai garis miring/yang kadang2 dipakai orang untuk memisahkan baris jika mengutip puisi.
afrizal melakukan ini karena macam2 hal. salah satunya, dia percaya teks bisa di-“mobilisasi”. baginya “teks tidak memiliki keharusan mengabdi hanya pada kesatuan orisinal dari konteks aslinya.” tentu ini berguna tatkala afrizal perlu teks untuk mendukung argumennya, dia bisa memobilisasi yg perlu! 😀
namun ada juga maksud lain (yg dia akui juga): “dengan metode pengutipan seperti ini pula, kelemahan2 puisi segera memperlihatkan dirinya… cenderung berubah jadi prosa atau sekadar catatan harian ketika ia dilepaskan dari rekayasa tipografinya.” ya haha, selain tekun dan cerdas, afrizal juga seorang penyindir yang sopan!
itu alasan yg dia akui. menurutku ada juga satu alasan yg jelas bisa dilihat juga dari baris2 subagio dan wiji thukul yg kukutip di atas (yg juga dikutip oleh afrizal berdekatan, dalam satu halaman). dia sering melakukan ini untuk menunjukkan (show not tell) dua atau lebih teks puisi yang saling mempengaruhi (kalau tidak saling contek) tanpa harus melancarkan j’accuse ala masteng2 sastra. contoh satu lagi selain di atas adalah waktu dia menyandingkan dua kutipan puisi ini: “meluruskan kain baju dahulu, meletakkan lekat sanggul rapi, lembut ikal rambut di dahi, pertarungan dimulai” (toeti heraty, 1974) dan “sekalian ucapan telah kuberi bingkai, jerat muslihat sebanyak rambut terurai, di tiap lipatan gaun bersembunyi isyarat.” (siti nuraini, 1969) hehehe, pandai ya afrizal.
tanpa menyebutkan sekali pun istilah pembacaan dekat/close reading, afrizal tanpa pamer diam2 telah melakukannya kepada puisi indonesia di buku ini. tidak seperti nirwan dewanto yg ngemeng melulu ttg pembacaan dekat tapi masih juga belum punya satu pun buku esei yg bukan kumpulan salinan makalah seminar!
by TS Pinang
very interesting post-afrizal collection of poems. if afrizal’s poems contain words that serve as indexes of the world/semiotic relationships around them, ts (apa itu ts, tanya anak2 buma di antologi buma 1) pinang’s poems are like extended footnotes to these index entries. “kami membaca kulkas dan televisi di selebaran promo diskon belanja, bukan di sajak afrizal malna.” (“seterjal makna”, p.35.) and what “kulkas” and “televisi” mean you find out by reading these poems in kunci. there are four kuncis (chapters) in this book. kunci 1 gives you the key to objects/nouns in the “house” that is ts pinang’s poetry. afrizal wrote a foreword for his “di dalam rahim ibuku ada anjing” called “rumah kata” where he said that “kata seperti sebuah rumah, memiliki ruang luar dan ruang dalam.” semiotically, ruang luar is where words interact/negotiate with things (power structure, economy, etc) outside them and ruang dalam is where those same words cook up their own meaning. probably in the “dapur”, spiced with “bumbu dapur”, fried into “telur dadar” (some of the titles in this collection). kunci 3 gives you the key to the adjectives in ts pinang’s rumah kata, “suram”, “dungu”, “mabuk”, and kunci 4 to the verbs, “mengaso”, “terbang”, “bersepeda”. kunci 2 gives you all the other things that perhaps can’t be categorized so easily, “koran minggu”, “memoar dermaga”, “kuliah pagi”. these extended footnotes are meditative forays into the “ruang dalam” of ts pinang’s “rumah kata”. not as hacep as afrizal’s poems, but it’s unlikely they were ever intended to be so, though afrizal is clearly a big influence (and not just in the short-paragraph(s) form of the poems). they are footnotes, and naturally they’re a bit more sober if not downright “muram”.
selepas cut copy aku menggelar lapak, berjualan harem pants, kaos kutang dan potongan-potongan keriaan. juga booties tak lupa. dalam berbagai macam gaya dan warna. namun angin malam seakan tak mau beranjak dari diam. sehingga kubuka lagi sekaleng dua anker 500ml dan kutenggak gedung-gedung bertingkat bersamanya.
seorang pelanggan bertanya, “apakah tersedia repetto zizi homme dalam white patent leather?” saya jawab, dengan sesimpul senyum, “tidak, namun ada sepasang trippen lou in cloud waw jika mau.” ia menggelengkan kepala dengan ganas dan melangkah pergi meninggalkan jejak-jejak kaki yang melelehkan aspal.
the customer is king. dan kadang-kadang seorang ratu akan menolak dimadu.
the most interesting thing about glee’s gaga episode was ryan murphy’s extended, veiled commentary on gaga’s music and image, best delivered through puck’s offhand quip, “gaga, isn’t he just like a guy in girl’s clothes? like… bowie?” like bowie indeed. and marilyn manson. and hedwig. all cross-dressing artists (one of them is fictional, though which one that is i’ll let you decide for yourself) who rely less on cock than shock to rock.
i don’t think it’s mere coincidence that the gaga episode also features the guys doing cover versions of kiss. that’s right, perhaps the greatest shock rockers of all time. ryan murphy was obviously saying that, what, gaga?, she’s just kiss sans (yet) the lunch box.
but i think ryan murphy’s most interesting critique of gaga’s music was in how the two gaga covers were done. poker face was a stripped back piece, with rachel berry and another cross dresser idina menzel (she is more andro than gyny) belting it out over a single piano. like many mtv unplugged covers, this understated version of poker face reveals the pleasant melodic structure of a song that for so long has been buried under over-the-top sonics, a theatrical singer’s antics and the occasional underwear worn as mask.
the other cover, of bad romance, was done in totally the opposite way. the campness was turned up to eleven, with über-androgyne kurt taking lead and the rest of the cast in cast-off ersatz gaga costumes (finn’s was made from shower curtains). this is a deliberately bad version (complete with a harder, better, faster, sillier vocodered verse and stadium house remix synth everywhere) which ironically also reveals that the song is actually pretty catchy. the song survives the intended butchery. kinda impressive.
so by doing one cover really well and another one really bad, and showing that done better poker face could sound better and bad romance done badly couldn’t get any worse, ryan murphy showed that gaga is really neither really good nor really bad. in other words, she’s just mediocre.

danke cyins. wasit geblek. sofa lipat depan tv. decolsin. augmentin. mata sendu pesut ozil. substitusi marinasi. jogi metrosexy löw. sesal. cinta yang bisa dirasakan dari jauh. terima kasih.
hepi buzzday mike. from all of us: @yoshife @edophilia @nininditya @pancrutkancut.
celtics kalah. jerman kalah dari serbia. klose kartu merah. podolski miss the penalty. tukeran film always sunset on third street. thesaurus. cranberries. ga cukup flash disk buat tukeran stok danger. lol. 4square cheating tricks. animal farm. nasi goreng. raptures, opening act: agrikulture (feat. edo).
liking country was kinda de rigeur circa 1992/3 what with the wilcomania and gram parsons nostalgia that were on as a sort of mildly depressing underground to the entertain-me grunge mainstream. once the obsessive clinging to whatever the hoi polloi missed lost its charm though it was pretty clear nu alt country and oldskool country rock actually sucked. their depression was affected. phony. it was like gleemonex compared to the primitive hollerin yodelin ole white trash country as purveyed most lyrically and mansion-on-the-hill hauntingly by hank williams sr. remember before country cred went down the bayou with hank williams jr and hank williams III, hank sr was as kool a kat as elvis. he just happened to have no objection to the prevailing grand ole opry fashion statement of stetson hats, nudie suits, leather belts with huge intricately carved metal buckles, 7-inch heel cowboy boots and holding your guitar just that little bit too high and too tight to your chest. hang on! those things ARE cool!
anyways i’m a dad and i’d hate to have to hear my daughter call another man papa.