COLD UNREGISTERED

Cold unregistered
on the thermometer

The city only wet

The wind along the river
drives us away, yet we stay

there. As though

the drizzle vanishes
and the light swims

playing with colour

God, why can we be
happy?

– Jennifer Lindsay’s version of Goenawan Mohamad’s ‘Dingin Tak Tercatat’, pilfered from Linus Suryadi AG, Di Balik Sejumlah Nama, p. 212.

COLD UNREGISTERED

Cold unregistered
on the thermometer

City wet

The wind along the river
driving us away, yet we stay

rain invisible
and the light swimming

playing with colour

God, how can we ever
be happy?

– Harry Aveling’s version, also from Linus’s book, pp. 211-212.

Cold Unregistered

Cold unregistered
on the thermometer

The city is but wet

Along the river the wind
chases us away, but we stay

there. As if

the light were swiming
in rain unseen,

playing with colors.

God, why can we be this
happy?

– Laksmi Pamuntjak’s version in Goenawan Mohamad, Selected Poems, p. 33.

What should it be; the body of dew, wholly at the mercy of wind?

“mana pula yang lebih nyata, berjalan
merunduk karena angin kencang, atau
gemerlapan lampu di Amsterdam”

Pada pilihan itu aku tambahkan
pohon-pohon ramping pipih
dan beton baru putih
seperti salju

Kamegayega-Yatsu

Pupur tebal
terlalu tebal
di pipimu

O Hitomaru

Tetes air mata
tak mencetak jejak
di lengan kimonomu

Warna musim semi
pilihan Shogun purba.
Setitik noda di awan.

Payung kayu
matahari kedua
di atas gelungmu.

Anak-anak sekolah
menggodamu, sekerei!
Bahu mereka mencium tanah.

Tapi lihatlah
mereka begitu kokoh
berdiri di samping pokok ceri.

“sejak dahulu memang, yang
tidak terucapkan, lebih berarti”

Odometer

Menghitung kilometer
di antara kita.

Malam ini kau seperti bintang:
Kau di mataku adalah kau
berjuta tahun yang lalu.

Malam ini kita berdua
pengelana yang tak mungkin bersama.

Tapi lihatlah, betapa jauh kita telah melangkah.

Jaya Savige, Latecomers, University of Queensland Press, St Lucia, 2005, hlm. 7.

Baby, you’re gonna miss that plane.

I know.

Dan banyak orang tak melihat

ia meraba cincin kawin dengan ujung ibu jari.

Di luar jalan batu menunggu.

Katedral beku.

Orang berbicara dengan tangan

dan mulut bisu,

Mademoiselle telah mencat lagi palang merah Le Café Pure.

Waktu itu kau berkata, tak mungkin arus Seine berbalik arah.

Seperti cinta mereka?

Ya.

Tapi aku hanya sibuk tersenyum

pada matahari yang hilang di balik Pont Neuf.

Kau tak berhati, katamu.

Ya.

Sembilan tahun lagi yang tersisa mungkin hanya kwaci

di kotak rokok besi, batik Bali di atas lututmu,

dan rokok basi yang kau hidupkan lagi. Mungkin percakapan jam empat pagi.

Mungkin juga tak akan ada yang tersisa.

Karena tak pernah ada yang terjadi.