(Tak Berjudul)

Setelah turun dari kuda, untuk menjabat tanganmu,

Aku bertanya, “Mau ke mana?”

Kau menjawab, “Pulang bertapa ke Gunung Selatan.”

Aku tak berkata apa-apa,

Hanya mendongak, awan putih berarak di kejauhan.

Wang Wei, dari versi William Carlos Williams di The New Directions Anthology of Classical Chinese Poetry, New Directions, 2003, hlm. 70. Terjemahan oleh Mikael Johani.

SUNGAI SALJU

Seribu gunung: tanpa burung-burung.
Sepuluh ribu jalan setapak: telah hilang semua jejak.

Dengan sebuah sampan yang kesepian, mantel hujan dan topi jerami,
seorang lelaki tua memancing di dingin sungai salju.

Liu Tsung-Yüan, diterjemahkan oleh Is Mujiarso, dari versi David Hinton di The New Directions Anthology of Classical Chinese Poetry, New Directions, 2003, hlm. 139.

Ya Ya Ya

“Kisah ini sudah diceritakan berkali-kali,”

katamu sambil mengikis ranting dengan bilah belati.

“Mungkin, penderitaan di mana-mana memang sama saja.”

(Dan aku berpikir tentang kulit yang matang bukan oleh matahari

dan bapak tua di buritan kapal karatan. Kau yang berteduh di

bayang jangkar.)

Ya Ya Ya

“Kisah ini sudah diceritakan berkali-kali,”

katamu sambil mengikis ranting dengan bilah belati.

“Mungkin, penderitaan di mana-mana memang sama saja.”

(Dan aku berpikir tentang kulit yang matang bukan oleh matahari

dan bapak tua di buritan kapal karatan. Kau yang berteduh di

bayang jangkar.)

Buta Kala

Siapkan telingamu, untuk tangis iriku usai film ini, bisikku padamu.

Dan layarpun sudah lama dibuka, dan kotak putih di dinding berubah berwarna.

Bising yang mendengung di telinga, seorang polisi berparas Sparta.

Jika semua orang bersalah, untuk apa jijik pada darah?

Dia Eros, semua orang adalah Erastes, apakah kau sepakat tentang itu?

Dia Janus, dewa bermuka dua, peragu di pintu gerbang.

Melihat ke depan dan ke belakang.

Dinding-dinding tua, seperti lorong-lorong Wong Kar-Wai.

Dan payung-payung yang berdansa itu, Bollywoodkah menurutmu?

Dan Golum, kali ini dia memanjat dinding dengan kecepatan The Ring.

Membuahkan Lara Croft di masa lalu yang genting.

Masa lalu dan masa depan adalah dongeng dan kenyataan.

Dalam lagu sore yang menjemukan, dan poster-poster yang palsu.

Dari balik selimut tua, muncul Agathon muda.

Dan Pausanias kali ini pergi untuk kembali, mungkin hanya nanti.

Dada mereka mengkilat, dan dari puting mereka yang gelap timbul geliat.

Sejauh ini apakah kamu telah iri, kasihku?

Tanyakan padaku dua babak lagi, ini baru sebuah prolegomena.

Aku tahu semua ini akan berakhir dengan kening yang berkerut.

Mungkin juga jakun yang menyentak.

Saat ini aku tak merasakan apa-apa.

Bukankah itu poinnya, menikmati yang sekarang, bukan nanti dulu?

Ini seperti sebuah speakeasy, di mana semua orang tiba-tiba jadi teetotal.

Seperti sebuah ulang tahun, di mana tak ada tar.

Sebuah desa yang tak pernah hambar.

Apakah aku harus peduli pada sebuah estetika yang baru hanya di negeri itu?

Semua ini adalah kenyataan yang dipelesetkan.

Dongeng yang diskenariokan.

Hadirin yang dipusingkan.

Nama-nama yang diberi arti baru.

Cobalah cari pekerjaan yang lebih gampang.

Seperti memanggul dunia antah berantah?

Beritakan itu pada Atlas, Cupid, biarkan Hermes melipat sayap di tungkainya.

Apakah masih ada yang peduli dengan mutu?

Perempuan itu menungganginya, dan Janus tak kuat lagi memalingkan muka.

Darah itu menetes seperti oli tua.

Untuk apa semuanya?

Yang penting hanya semua yang sudah lama tak pernah dilakukan, yang baru.

Pinggang celana yang kembali naik.

Topi Dickens pada paras Asia yang tegang.

Di ujung payungmu, masihkah ada langit?

Apakah semua orang sekarang benci warna biru?

Jadi, Lara Croft anak Golum yang bertugas melindungi Sang Penidur.

Yang diantarkan oleh seseorang yang tak bernama Eros ke sepeti harta karun.

Yang siap mengorbankan dirinya adalah yang berhak selamat.

Ratu Adil benar-benar seorang Ratu.

Bonafide Faerie Queere.

A Rice Queen of Justice!

Dengan panglima-panglimanya yang murung.

Berbalik badan menuju senja seakan ia hanya layar biru.

Dan di kedai bubur yang buka sampai pukul tiga:

Aku merasa seperti sudah didera oleh ulasan-ulasan berbunga di koran Minggu.

Baiklah, bukankah itu maumu sayang?

Lama-lama aku tak ingin kenyataan jadi seperti mimpiku.

LAST WINTER

It was a little too early in the morning to walk to the train station
the air still wet
the pavement reeked of pot

A homeless man overtook my lazy stroll
I reached into my pocket: no quarter for you my man,
or your empty beer can

A pile of paper on ohms, impedance,
and the immortal flow of energy:
forget the discounted airfares on the shop windows
there will be no more love in the tropics
this winter!

And I thought about the Ancar river, yours,
its own immortal flow
and the unavoidable
arguments in the kitchen
the shifting of sand and water

Under the red awning of Waroeng Java
8.30 a.m.
“1 pesan diterima”
“you’re not going home this year?”

Do you think it’s ever appropriate
to thumbclick a reply
for a woman
who has given away nine months
of her womb?

I looked at Meneer Deventer across the road
his centuries of stiffness
crumpled my train ticket into a ball
and made a beeline for the postkantoor:
“Dear my island home,
you little dot on a globe,
I still hold you responsible for me, and my hopes.”

– Ida Ayu Oka Suwati Sideman, ‘Winter Terakhir’, from Perempuan Bali di Rantau

surat terbuka kepada rommy & lanny yang memblokir seruas jalan pakubuwono sabtu lalu, 14/7/07, untuk pesta house warming rumah raksasa mereka yang bergerbang tiga dan menyebabkan macet berantai dari fatmawati sampai radio dalam, barito, pertamina, hang jebat, hang lekir, mustopo, dan sekitarnya, dan kepada dishub dan polisi yang dengan senang hati membantu dan santai2 duduk2 di trotoar menghisap uang rokok mereka:

ANJING KALIAN SEMUA!