IDIOTIC THINGS PEOPLE SAY #1

“Kami merasa sulit menulis dalam bahasa Indonesia. Bukannya mau gaya, tapi hanya orang-orang cerdas yang bisa menghasilkan lirik dalam bahasa Indonesia dan jadinya bagus, tidak norak, atau klise.” (Goodbye Electric, area, Juli 2007, p. 12.)

what a bunch of cunts. so it assumes two things: one, that one doesn’t have to be “orang cerdas” supaya “bisa menghasilkan lirik dalam bahasa [Inggris yang] jadinya bagus, tidak norak, atau klise” and two, that they no doubt “bisa menghasilkan lirik dalam bahasa [Inggris yang] jadinya bagus, tidak norak, atau klise.” fuck you. “what about distance, around me, the distance, around you?” distance around? educate yourself, you twats. get adidas to endorse you a fuckin dictionary. or better still, shoot yourself in the head. or is that on?

(and i was obviously wrong to think it’s the sole prerogative of indo selebritas and TK dian harapan toddlers to answer “merasa sulit menulis dalam bahasa indonesia”, when pressed to explain why they seem to live in a parallel universe where the language consists entirely of  MTV sound bites, eg,  “like”, “like”, “like, you know”. you actually just have to be a fuckwit.)

memulung

Interesting TimesLast updated less than one minute ago

—>learnedly and single-handedly transforming the map
of Anglo-American poetry

Make me popular! is a leitmotif

“Till death do us part.” Total bullshit.

“We’ll be together forever.” Fuck you!


Bungaaaa is in your overextended network

’nuair dh’ēireas mi’s tu gheobh a chiad sgailc*

Write when you feel moved to, in response to some inner necessity,
or
attempt to force your talent
never
let it develop at its own pace

‘when I rise up it is thou who wilt get the first slap or blow’**

*We suggest that you try clearing your internet history, cookies, and temporary files, including offline content.

**ta to sinds 4 da scribefiah magik

Powered by ScribeFire.

Akhirnya (1966)

Di ranjang kematiannya, Akhmatova berbaring dikelilingi perempuan-perempuan

yang saling bersiasat menguasai warisan arsipnya.

Akuma dulu selalu makan roti buatan kami, kata mereka galak.


Kau dilarang masuk Lev, tampangmu akan membunuhnya.


Akhirnya, ajal juga yang membunuh Akhmatova


suatu pagi di bulan Maret, waktu angin sibuk menggeret daun jendela


berisik suaranya seperti bukan suara, tapi persis suara manusia

yang terbang pergi, ke sana.

Waktu kudamu berhenti memutuskan mau ke mana di puncak bukit


kau bisa merasakan, kaki belakangnya terbenam—


ingat itu.

– Anne Carson, Men in the Off Hours, Vintage International, 2000, hlm. 112.

keangkuhan dan prasangka

tiga tahun yang lalu saya mencoba untuk lebih banyak membaca sastra indonesia. saya kira, kalau memang saya akan tinggal di negara ini selama hidup saya, mungkin sudah waktunya saya pernah membaca ronggeng dukuh paruk, subagio sastrowardoyo, atau apa ya, ya saya juga tidak tahu apa lagi. yang jelas waktu itu saya bahkan memaksakan diri membaca catatan pinggir.

saya juga langganan koran minggu, dan di tempat kerja saya yang baru saya tinggalkan beberapa minggu yang lalu setiap senin saya pergi ke perpustakaan dan menggunting lembaran-lembaran sastra di koran-koran minggu lain yang saya, walaupun seberdedikasi apapun, tetap tak sudi berlangganan. pertama-tama saya gunting semuanya, cerpen, puisi, esei, tapi lama-lama saya hanya gunting yang kira-kira saya tertarik. di rumah semua guntingan-guntingan itu saya tempel di buku gambar ukuran besar merek kiky. pertama-tama saya tempel semuanya asal muat, kalau sebuah esei terlalu panjang saya potong hati-hati dan sisanya saya tempel di sebelahnya atau pas di baliknya biar tidak merusak aliran argumennya. saya menghormati penulisnya. lama-lama esei-esei itu, puisi-puisi itu, cerpen-cerpen itu, saya potong-potong sesuka saya, kemudian saya tempel-tempel sesuka saya, cerpen itu bersambung dengan esei itu bersambung dengan puisi itu bersambung dengan catatan pinggir senin itu bersambung dengan iklan phone sex lampu merah.

ada kenangan-kenangan manis, seperti sedimen senja, novel sn ratmana—saya juga mulai pergi ke gramedia—tentang guru sekolah tua di anytown, jawa tengah, yang ketahuan beraffair dengan guru sekolah yang sama yang kebetulan juga isteri kepala sekolah sekolah yang sama itu setelah si isteri itu meninggal dan meninggalkan surat-suratnya untuknya. novel itu berakhir dengan si guru ini ketiduran di bus antar kota yang mengantarnya pulang dari reunian di jakarta; dia telah menulis surat-surat bekas kekasihnya yang suaminya masih hidup tapi untung sudah tua jadi sudah pensiun dari sekolahnya tadi menjadi novel epistoler dan tangannya pegal menandatanganinya untuk bekas murid-muridnya di sebuah gedung pemerintah yang disewakan menjadi tempat reunian tadi.

novel itu tidak membuat saya berpikir, kenapa harus begitu sih, norak banget.

selain itu juga ada cantik itu luka, yang jorok dan lucu, tidak seperti saman dan larung dan buku-buku djenar maesa ayu yang jorok dan lugu. o ya, juga ada jakarta kafe yang bersampul ala chicklit dan dipajang di rak chicklit tapi di tangan kanannya bergoyang payung / tangan kirinya mengibaskan tangis (this is how deep i’ve got into this indo lit thing). juga subagio sastrowardoyo sebelum dia terobsesi dengan kematian, toety heraty sebelum dia menjadi filsuf,f rahardi (ya, tanpa titik setelah f) kalau tidak sedang protes, rita oetoro dan potongan-potongan dialog casablancanya, goenawan mohamad misalkan dia tidak pernah ke sarajevo, srintil dan rasus, pramoedya dalam bahasa aslinya, ya banyak juga. tapi saya juga baru sadar, saya hanya suka orang-orang tua. (toety heraty is like, 74 years old!)

mungkin hanya ada satu cerpen di kompas minggu yang membuat saya agak tidak marah. koh su karya puthut ea. tentang nasi goreng koh su yang sudah hilang resepnya dan sekarang dicari-cari. itupun sebelum akhirnya ternyata si koh su dan resepnya hilang karena deng! deng! mereka pki.

o ya dan saya harus menyebutkan rita utari. girl, mentioning death cab for cutie in a sob story about you and your boyfriend that’s really only, literally, a shadow of your present self might fool hasif amini into thinking that you’re like cool and stuff, but not me. not anyone else. in fact, mentioning death cab for cutie in anything is never cool.

unless you’re an o.c. whore.

karena itu kemarin setelah membaca sajak joko pinurbo di kompas tentang mata yang sajaknya atau sajak yang matanya atau apalah who gives a fuck dan satu lagi cerpen karangan seseorang yang aktif di komunitas ilalang lebah, saya memutuskan untuk tidak lagi membaca sastra indonesia.

karena saya capek berpikir, kenapa harus begini sih, norak banget.






Of Garingotology

“Kendati begitu, Goenawan sempat menyebut nama Muhammad Alfayyadl, penulis buku tentang Derida [sic]. Penulis dari Yogyakarta yang belum berumur 20 tahun itu belajar bahasa Prancis [sic] tiap petang dan hidup dalam lingkungan pesantren. ‘Dia mampu mengungkap tesis tentang teologi negatif pada tradisi Islam Sufi,’ katanya.” (Koran Tempo, Rabu, 27 Juni 2007, C3.)

– and whatever happened to reading Bobo and just being plain lazy?

Dude Harlino Terlalu Sering di RCTI

Saya ibu rumah tangga. Keseharian saya hanya mengurus rumah dan nonton TV. Dan kebetulan hanya RCTI yang bagus siarannya. Saya mau usul, kalau bisa jangan Dude Harlino terus yang main sinetron, lama-lama jadi bosen. Setiap hari pasti ada dia, kan masih ada artis-artis lain. Terimakasih genie.

    Sarah Triharti
   
Kebumen – Jawa Tengah

genie[us], Edisi 01-Tahun Ke IV [sic but who cares!], 04-10 Juni 2007.

Une étape autour de mon ville

But when is around town when
I live très isolée? Am I
out of the loop or breaking out
of here? Remember, I can still see
the peaceable kingdom on widescreen
evenings and the chanai stalls promoting
Egypt on their window displays.

When do I have to start worrying?
When I have to start building walls
in front as well as at the back
of my house? Or when I can tear
down my iron fence and replace it
with pickets? Which I will repaint
white for the happiness conceit
for which I will ask permission
not from nature but from the nods
or otherwise of close neighbours.

Watch me miss my mark and strike
white the red earth.

But still these are oblique concerns
of mini-DV close-ups. Dull. I’ve
forgotten Kiarostami’s misgivings
and shot ahead when what I really
want is a wide angle and a new tripod
for my ego. It’s like at the end of Taste
of Cherry, when no one knows if it’s real

or an approximation
of magic.

Bulk (1)

NJONJA TERHINDAR DARI KEPOETIAN,

    KAPAN NJONJA SERING – MAKAN :

HARMONIE – PILLEN


Speciaal boeat kaoem istri goena menghindarken dan menjemboehken gadis dan iboe dari penjakit Kepoetian (Pektaij of Wittevloed), dateng boelan tida tjotjok, tida bisa dapet toeroenan jang sehat.

HARMONIE-PILLEN poen menambahken katjahajahan paras moeka, katjantikan jang gilang-goemilang dan mentjotjoken penghidoepan orang prampoean sebagi gadis dan iboe, soepaja perobahan dalem badan pada waktoenja bisa ambil tempat serba tjotjok zonder mengganggoe kasehatan kaoem istri.

HARMONIE-PILLEN tjotjok boeat IBOE dan GADIS di Indonesia goena basmi segala rerasahan dan ganggoean kasehatan. Per flacon 200 pil f 6.— 100 pil f 3.—. Kirim wang lebi doeloe, vrij ongkos kirim.

Ini pil soeda 20 TAHON terkenal kamandjoerannja jang belon perna gagal boeat tjega dan menjemboehkan kaoem istri dari penjakit kapoetian (pektaij of Wittevloed). Kita poenja kwaliteit sekarang lebi bagoes dari bebrapa tahon jang soeda, kerna zonder bantoean “Obat Pompa”, ini obat sekarang bisa menjemboehken lebi lekas penjakit kapoetian. Toch harganya tinggal tetep moerah, tida dikasi naek.

Boekhandel “Sunrise”, Batavia.


CXVIX

Ini mungkin tidak akan menjadi sesuatu yang utuh:

Aku hanya ingat tentang kau di beranda rumah orang tuamu di Lismore
pohon mangga di sudutnya masih kuncup, banjir belum lama surut
tanah masih berdarah seperti langit sebelum jam enam.
Bau pohon gum. Knalpot ute yang mendentam.

Kau seperti sedang bersenam tai chi, atau falun gong, atau hanya salah satu
Broadway numbers yang kau hapalkan dari kaset-kaset VHS dari Harry’s.
Rambutmu sudah abu-abu. Berandamu sekarang tertutup kasa nyamuk,
Tidak seperti dirimu dulu yang senang dengan angin semriwing dari kutub.

Kau sedang memandang ke luar, ke pinto Co-Op yang masih tertutup,
muka Rosalind tua yang tergambar di sekelilingnya. Hidung yang bercuping lebar
tepat di atasnya. Aku masih ingat waktu kau tiba-tiba bilang di kali ketiga kita bertemu, “Berarti selama ini orang-orang masuk keluar lewat mulutnya.”

Kau meleleh di mataku. Udara seperti menekan ujung-ujung jarimu
untuk melengkung, membulat, membentuk tinju. Betapa susah
untuk mengenang kenangan seperti aslinya. Tidak seperti mengagumi foto hitam putih
Jendral Sudirman ditandu Oerip Soemohardjo di buku sejarah anakku.

“The smoke-flowers are blurred over the river,” ya, ya, terus apa lagi
yang kau lihat di seberang sana? B&B mungil bercat biru di Watego’s
satu unit lagi kali ini dengan pemandangan satu juta dolar di utara jembatan,
pensiun awal dengan super-annuation yang super dermawan.

Kenapa kita pernah heran kenapa kita tidak pernah bisa utuh?