Aku Berhenti Sebentar Membaca Antologi Sajak Tiongkok Dinasti Sung, Hanya Buat Mengagumi Betapa Panjang Tapi Tetap Jernih Judul-judulnya

Kelihatannya penyair-penyair ini tidak menyembunyikan apa-apa

di balik lengan baju mereka yang menggantung kedodoran
mereka membuka semua kartu mereka dari awal,
memberi tahu kita bahkan sebelum baris yang pertama,
apakah hari ini cerah atau sedang hujan,
malam atau siang, musim apa sekarang,
berapa guci anggur sudah mereka minum.

Mungkin saat ini musim gugur dan dia sedang menonton seekor burung gereja.
Mungkin dia sedang berdiri di sebuah kota dengan nama yang indah dan salju mulai turun.
“Memandang Bunga Peoni di Klenteng Mujur
di Satu Siang Berawan”, itu judul salah satu sajak Su T’ung-po.
“Mengambil Air dari Sungai dan Merebus Teh”,
satu lagi, atau singkat saja
“Di dalam Perahu, Mata Terbuka, Hari Sudah Malam.”

Dan Lu Yu-lah yang pantas dapat kue tar untuk
“Di atas Perahu di Suatu Malam di Musim Panas
Aku Mendengar Jeritan Burung Air.
Kedengarannya Sedih Sekali dan Kelihatannya Seperti Ingin Memberi Tahu
Istriku Kejam-Aku Sangat Tersentuh, Karena Itu Kutulis Sajak Ini.”

Tidak perlu lagi harus membuka dulu pagar besi berat
seperti “Vortex dalam Benang,”
“Tanduk Neurosis,” atau apalah.
Tidak perlu lagi menerka-nerka apa arti pesan misterius
yang tertulis di keset di depan pintu.

“Aku Keluar Rumah di Suatu Pagi Musim Semi
Diiringi Suara Burung dan Air Terjun,”
rasanya seperti horden kulit kerang yang membelai bahuku.

Dan “Hujan Musim Semi Selama Sepuluh Hari Memaksaku Tinggal di Rumah Terus”
adalah pembantu yang mengantarku ke sebuah kamar
di mana seorang penyair berjenggot tipis
sedang duduk di tikar dengan seguci anggur di sampingnya
membisikkan sesuatu tentang awan dan angin yang dingin,
tentang penyakit dan ditinggal mati sahabat.
Dia telah membuat semuanya jadi gampang, supaya aku bisa masuk ke sini,
duduk di sudut kamar,
bersila seperti dia, dan mendengarkannya bicara.
Billy Collins, Poetry, Juni 1999.

Catatan Pinggir Minggu Depan

Merleau-Ponty Rorty Hegel Heidegger Benjamin Paz Bespaloff Weil Kadare Pamuk Condorcet Le Brun Corot Seurat Sitor Chairil Balzac Sebald Havel Rumi Eagleton Brecht Chekhov Mayakovsky Yevtushenko Che Borges Vargas-Llosa Popper Wittgenstein Plotinus Pythagoras Monet Manet Renoir Cocteau Cousteau Plato Cavavy Homer Euripides Aeschylus Balzac Gide Bordieu Antonioni Bergman Eisenstein Wenders Picasso Gericault Kant Wagner Dilthey Singer Gao Xinjiang Russell Whitehead Keynes Ha Jin Chen Tien-Wen Brook Paglia Kristeva Fellini Schopenhauer Nietszche Dario Fuentes Gelman Cortazar Neruda Achebe Mahfouz Walcott Coetzee Gordimer Adorno Arendt Feuerbach Gadamer Habermas How Could I Forget Husserl Kierkegaard Hamsun Lukascs Schiller Rammstein Kiarostami Erice Bakhtin Ibnu Arabi Eco Levi Satrapi Nagel Nussbaum Strauss Bazin Mallarme Rimbaud Apollinaire Queneau Grass Naipaul Andangjaja Valery Sastrowardojo Dante Botticelli Genet Beckett Ibsen Ionesco Jelinek Racine Soyinka Zweig

kritik sayembara sastra

SEKALI LAGI seandainya dewan juri bisa membaca entri-entri blogmu yang lain, hols, mereka akan menemukan surat berseri-mu, travelogue-mu, potongan chat-mu, mini play-mu, reportase-mu, penggalan teka-teki silang-mu, etc, etc. jadi, apa bedanya blog-mu dengan kotak yang menyimpan oeuvre fernando pessoa dengan segala macam heteronym-nya itu?

apakah setiap karya itu milik masing-masing heteronym-nya atau seorang (yang katanya) homo yang kebetulan bernama fernando pessoa itu? apakah setiap entri blogmu ditulis oleh holiday_sendiri atau dirimu yang sebenarnya, siapapun itu? siapakah yang tersimpan di kotak itu, fernando pessoa atau heteronym-heteronym-nya, di blogmu, holiday_sendiri atau kau sendiri? dan yang menulis di blog friendstermu, siapa itu? berapa blog yang sebenarnya kamu punya?

kalau pembacamu yang lihai cyberstalking mau, ia bisa menggabungkan semua posting blog milikmu dan menganggapnya seperti sebuah volume collected poems/stories/works dan menilaimu dari totalitas itu. atau tetap hanya memilih beberapa yang dia suka dan menyimpan mereka di notes scribefire-nya. jadi semacam selected works pilihan dia sendiri. pembaca tidak dipaksa membeli buku berisi tulisan-tulisan pilihanmu atau editormu, satu lagi revolusi buat pembaca bukan? END OF SEKALI LAGI (penting nek)

begitulah hols, hal baru sejak tahun 2000 yang paling kunikmati adalah kelihatannya aku jadi punya pilihan bacaan begitu banyak. walaupun tentu setiap harinya aku hanya membaca blogmu, atau dia, atau dia, setiap ada update yang kucek dari bloglines atau mengulangi membaca postingan lama yang tersimpan di archives, tapi bayangan bahwa kalau aku mau, masih banyak kemungkinan lain di luar sana, membuatku merasa seperti sejarawan renaissance di vatican library.

SEKALI LAGI LAGI soal bahasa inggris yang makin merajalela itu, aku jadi sering berandai-andai seperti nirwan 1, mungkin salah satu efek ‘globalisasi’ yang ditanyakan oleh dewan juri itu adalah suatu saat nanti, mungkin tidak selama yang kita bayangkan, indonesia akan punya patois inggrisnya sendiri, seperti karibia, india, singapura. inglish? indonglish? apapun julukannya, menarik melihat sampai segawat apa kita bisa mematahkan tulang belakang bahasa yang diam-diam begitu sensitif dengan kemurniannya itu. apa suatu saat hollywood akan membuat film yang meledek inglish kita seperti yang mereka lakukan kepada afringlish dengan lord of war? END OF, penting juga nek soalnya menurutku

aku baru lihat lagi, salah satu syarat sayembara kritik itu eseinya harus ‘ditulis dalam Bahasa Indonesia.’ aku sempat mau bilang, semoga itu tidak berarti sastra yang dikritik harus berbahasa indonesia juga, tapi kemudian aku sadar mungkin mereka sudah akan mengeluh duluan dengan sisipan-sisipan bahasa inggris-ku di esei ini. tapi kemudian aku juga malas memohon supaya bahasa yang kupakai diterima orang seperti penulis-penulis kata pengantar buku-buku yang tadi. kalau aku bisa bahasa manggarai aku akan tulis esei ini pakai bahasa itu saja, kan jadi satu lagi hal baru.

menyedihkan kalau seniman indonesia, sekarang, waktu mereka bebas dan bisa (walaupun tetap kurang duit) untuk menikmati seni lain dari seluruh penjuru dunia, mencontek dan memanipulasinya untuk memajukan seni sendiri, masih saja merasa perlu mengatakan hal seperti, ‘Gue masih mencoba mendalami blues ini sehingga gue ngga perlu merasa ‘bersalah’ karena memainkan musik yang (katanya) ‘ngga Indonesia’.’

get with the program, people.

seharusnya ini posting hari minggu tapi kemarin atau minggu depan atau depannya lagi gue kira gak gitu ngaruh juga

CatatanNya akan terbit besok. Di halaman yang sama sejak Dia berumur 30-an. Dengan gaya yang kira-kira sama sejak Dia berumur 18-an. Menjadi sebuah permainan untuk menebak-nebak Dia menulis apa minggu ini. Wibisana? Plotinus? Kadare? Atau sebuah meditasi tentang onta dan kebahagiaan? Entahlah, sama sulitnya menebak isi kepalaNya yang sudah lama hanya mulai membotak itu dengan mengira-ngira apa yang dipikirkan Parikesit waktu sekali lagi tombaknya mental dari dada Jakasombo.

Aku kira Dia akan menulis sesuatu yang agak ringan minggu ini. Karena minggu kemarin Dia menulis tentang Sang Fundamentalis. Seorang evangelis Amerika. Heavy stuff. Messiah, Armageddon, liberalisme, sekularisme, Al-Qaidah, Ku Klux Klan, Jemaah Islamiyah, kubur, surga sejarah. God help us.

Sebelum itu tulisan terburu-buru tentang mall baru yang penuh hot pants itu.

Biasanya Dia akan menulis tentang sesuatu yang terjadi pekan sebelumnya (Falwell meninggal) atau buku yang baru dibacaNya, atau lebih jarang, sesuatu yang terjadi padaNya. Jadilah ketergesa-gesaan esei mall itu.

Mungkin sudah setahun ini dia lebih marah daripada biasanya. Atau paling tidak aku jadi teringat fotoNya entah di mana, bersinglet dengan rambut berminyak acak-acakan, di depan mesin tik di kantor majalahNya yang lama. Jendela terbuka di belakangNya. Sebuah sore di Senen. Bukan lagi Dia rapi dengan dan turtleneck di tepi sebuah danau. Danube.  

Sesuatu telah berubah dalam dirinya.

Mungkin itu dimulai dengan sajak-sajak aneh yang dimuat di Kompas Minggu dua tahunan lalu. Sajak-sajak kasar yang sengaja tidak mau berbunyi manis seperti biasanya. Hanya penuh dengan tank, bom, meriam yang tak lagi meledak dalam cuaca. Hanya serentetan mesin pembunuh manusia.

Setelah itu Dia mulai memakai kata Ajal, dengan A kapital, di sajak-sajakNya setahun kemudian, yang menurutku, seratus tahun yang akan datang, akan dianggap sebagai mahakaryaNya. Atau mungkin juga sebagai satu lagi contoh  karya-karya menjelang ajal seorang seniman besar, yang mencoba membunuh dirinya sendiri sebelum benar-benar mati.

“ada nama yang mati / namaku yang mati”

Supaya Ia kekal, abadi.

who the hell cares if the author’s dead or alive

padahal blog menyediakan begitu banyak tools yang bahkan tidak memerlukan kita paham bahasa html yang bisa kita gunakan untuk men-subversi (meng-hack?) tatanan sastra indonesia. seperti fasilitas comment di setiap posting dan kebebasan menggunakan bahasa apapun (kalau mau, bahasa html juga bisa), bukan hanya inggris dan indonesia, di situ.

pertama, fasilitas comment. sebuah posting yang populer seperti ini misalnya, bisa punya (sampai sekarang, 11/9/2007) 80 comments/replies. posting yang awalnya berupa review tentang kala (mencela) berubah menjadi diskusi massal tentang identitas, identitas, identitas, dan foto bugil faharani. buatku posting yang seperti ini berhenti menjadi milik penulisnya saja, dan posting awalnya tadi hanya menjadi semacam kata pengantar (kalau aku arif bagus prasetyo aku akan bilang ‘prolegomena’) untuk sebuah esei penuh digresi tentang apapun itu yang ditulis oleh sebuah jungian collective consciousness (mungkin aku memang arif bagus prasetyo). the author is dead, long live co-authors!

seperti pernah aku singgung, mungkin (sekarang aku berandai-andai seperti nirwan 1) sebenarnya keinteraktivitasan blog yang seperti ini bisa dimanipulasi menjadi sebuah cara penulisan kolektif yang praktis. seperti yang sudah dilakukan orang ini misalnya. atau hyperlinks yang menjamur di posting mereka bisa saja sebenarnya mereka karyakan menjadi penyambung novel hyperlink mereka. hasilnya mungkin sama saja dengan cerita-cerita seri ‘pilih sendiri petualanganmu’ yang sering kubaca waktu sd dan entah kenapa selalu dari jerman, tapi mana pernah cerita-cerita yang ini berlanjut ke halaman berisi HTTP 404 Not Found? :p aku sendiri pernah mencobanya di sini, memakai salah satu tokoh ciptaan temanku di ceritaku, tapi ya baru sekali itu saja. mungkin walaupun sebagai bangsa, kata orang jawa, kita makan tidak makan suka kumpul, dan kata para indonesianis kita sebuah close-knit collective society, sebagai artis, artiste apalagi, kita adalah makhluk-makhluk individualistis!

kemudian soal demokrasi/bahasa atau demokrasi bahasa tadi. soal keinteraktivitasan di atas juga ada hubungannya kelihatannya dengan demokrasi ini, if the author is dead, the mob rules, right? soal bahasa, lihat ini. kebetulan aku orang jawa jadi hanya bisa bahasa jawa, tapi aku yakin pasti ada beribu-ribu blog yang berbahasa batak, sunda, manggarai, dani, etc. sekarang melihat blog yang itu tadi saja, aku yakin para editor panjebar semangat, jayabaya, dan damar jati tidak perlu panik menyerukan matinya bahasa jawa setiap kali mereka berkumpul di kongres bahasa jawa. masih rame ing gawe kok, hanya makin sepi ing pamrih aja. coba klik ini, scroll down ke posting tanggal 1/11/06 dan 5/11/06. diskusi di antara dua orang yang tak pernah bertemu muka tentang bahasa jawa, menerjemahkannya ke bahasa indonesia, inggris, perbandingannya dengan bahasa indonesia, inggris, dan william carlos williams, dalam bahasa jawa! lucu ya. if i may say so myself. and i have been saying so myelf, so i will. i did! again!

lost and found in translation

saat yang pas untuk segue ke masalah terjemahan. ya, setelah tahun 2000 bermunculan banyak buku terjemahan baik dari inggris ke indonesia (soal contoh salah satu masalahnya baca saja ini), dan mungkin ini yang agak-agak baru, dari indonesia ke inggris. puisi pula. dan bukan terbitan lontar. goenawan mohamad, sitok srengenge (‘on nothing’? how appropriate), eka budianta. masih nama-nama besar. tapi ada juga ini. hehehe. kau pikir aku akan membiarkan satu pun hal lepas dari gurita hyperlinks-ku?

kualitas terjemahan buku-buku itu biasanya masih pas-pasan, kritik terbaik tentang itu ada di review richard oh di majalah jakarta java kini tentang ‘on nothing’-nya sitok srengenge. (aku belum bisa menemukan arsipnya, ada di kolom review buku tetapnya.) kalau tidak salah dia bilang nukila amal terlalu banyak menggunakan gerund, -ing, sehingga membuat baris-baris sitok menjadi kata benda yang pasif daripada kalimat aktif yang menarasikan sesuatu seandainya nukila memakai kata kerja aktif biasa saja. aku sendiri akan berargumen puisi sitok memang tidak pernah menceritakan apa-apa (on nothing! how appropriate!), kecuali mungkin keinginannya menyanggamai dia dan dia dan dia, tapi sutralah, nek.

yang semakin berkurang justru terjemahan puisi dari bahasa asing (selama ini sih biasanya inggris) ke bahasa indonesia. sejak seri ‘puisi dunia’ m. taslim ali kelihatannya belum ada penyair indonesia, selain sdd (buku terjemahan terakhirnya ‘love poems’ yang dikemas buat pembaca remaja lengkap dengan sampul warna es krim, bagus sekali isinya sebenarnya, tapi selain sampul try-hard itu tera ternyata juga memilih font tulisan tangan (ide sok muda mereka ’80-an banget, dan tanpa maksud revival!) yang bikin semuanya jadi lebih susah dibaca daripada tulisan tangan mamakku—dia dokter) yang secara reguler menerjemahkan puisi asing. terakhir mungkin terjemahan octavio paz arif bagus prasetyo, dan kolaborasi nukila amal dengan salah satu teman peserta iowa workshop-nya di koran tempo, tapi ya itu tadi, sporadis, tidak ajek.

aku sendiri sudah berusaha tentu, di sini. dan di situ aku berusaha menerjemahkan penyair yang agak kontemporer, anne carson, jaya savige, pemenang kontes seryu dai-ichi. tapi masih terlalu awal untuk bisa dibilang aku akan sporadis juga atau penuh dedikasi.