kritik sayembara sastra

SEKALI LAGI seandainya dewan juri bisa membaca entri-entri blogmu yang lain, hols, mereka akan menemukan surat berseri-mu, travelogue-mu, potongan chat-mu, mini play-mu, reportase-mu, penggalan teka-teki silang-mu, etc, etc. jadi, apa bedanya blog-mu dengan kotak yang menyimpan oeuvre fernando pessoa dengan segala macam heteronym-nya itu?

apakah setiap karya itu milik masing-masing heteronym-nya atau seorang (yang katanya) homo yang kebetulan bernama fernando pessoa itu? apakah setiap entri blogmu ditulis oleh holiday_sendiri atau dirimu yang sebenarnya, siapapun itu? siapakah yang tersimpan di kotak itu, fernando pessoa atau heteronym-heteronym-nya, di blogmu, holiday_sendiri atau kau sendiri? dan yang menulis di blog friendstermu, siapa itu? berapa blog yang sebenarnya kamu punya?

kalau pembacamu yang lihai cyberstalking mau, ia bisa menggabungkan semua posting blog milikmu dan menganggapnya seperti sebuah volume collected poems/stories/works dan menilaimu dari totalitas itu. atau tetap hanya memilih beberapa yang dia suka dan menyimpan mereka di notes scribefire-nya. jadi semacam selected works pilihan dia sendiri. pembaca tidak dipaksa membeli buku berisi tulisan-tulisan pilihanmu atau editormu, satu lagi revolusi buat pembaca bukan? END OF SEKALI LAGI (penting nek)

begitulah hols, hal baru sejak tahun 2000 yang paling kunikmati adalah kelihatannya aku jadi punya pilihan bacaan begitu banyak. walaupun tentu setiap harinya aku hanya membaca blogmu, atau dia, atau dia, setiap ada update yang kucek dari bloglines atau mengulangi membaca postingan lama yang tersimpan di archives, tapi bayangan bahwa kalau aku mau, masih banyak kemungkinan lain di luar sana, membuatku merasa seperti sejarawan renaissance di vatican library.

SEKALI LAGI LAGI soal bahasa inggris yang makin merajalela itu, aku jadi sering berandai-andai seperti nirwan 1, mungkin salah satu efek ‘globalisasi’ yang ditanyakan oleh dewan juri itu adalah suatu saat nanti, mungkin tidak selama yang kita bayangkan, indonesia akan punya patois inggrisnya sendiri, seperti karibia, india, singapura. inglish? indonglish? apapun julukannya, menarik melihat sampai segawat apa kita bisa mematahkan tulang belakang bahasa yang diam-diam begitu sensitif dengan kemurniannya itu. apa suatu saat hollywood akan membuat film yang meledek inglish kita seperti yang mereka lakukan kepada afringlish dengan lord of war? END OF, penting juga nek soalnya menurutku

aku baru lihat lagi, salah satu syarat sayembara kritik itu eseinya harus ‘ditulis dalam Bahasa Indonesia.’ aku sempat mau bilang, semoga itu tidak berarti sastra yang dikritik harus berbahasa indonesia juga, tapi kemudian aku sadar mungkin mereka sudah akan mengeluh duluan dengan sisipan-sisipan bahasa inggris-ku di esei ini. tapi kemudian aku juga malas memohon supaya bahasa yang kupakai diterima orang seperti penulis-penulis kata pengantar buku-buku yang tadi. kalau aku bisa bahasa manggarai aku akan tulis esei ini pakai bahasa itu saja, kan jadi satu lagi hal baru.

menyedihkan kalau seniman indonesia, sekarang, waktu mereka bebas dan bisa (walaupun tetap kurang duit) untuk menikmati seni lain dari seluruh penjuru dunia, mencontek dan memanipulasinya untuk memajukan seni sendiri, masih saja merasa perlu mengatakan hal seperti, ‘Gue masih mencoba mendalami blues ini sehingga gue ngga perlu merasa ‘bersalah’ karena memainkan musik yang (katanya) ‘ngga Indonesia’.’

get with the program, people.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s