Brilliant disguise (so not)

Restoran itu punya semacam Hindia Belanda chic, dengan pelayan2 tua berambut klimis, berjas putih dengan trimming merah di kerah dan ujung lengan yang menyembunyikan daki, piring logam berkompartemen yang tergantung dari film apa saja yang menemani anda waktu remaja bergaya kafeteria sekolah atau penjara, dan poster2 kaleng bergambar menu2 makanannya circa Pemilu 1955.

Tak ada AC. Hanya beberapa fan yang berdiri di pojok2 ruangan yang berdinding kayu seperti manekin telanjang.

Siang jam 2.

Paman Gembul duduk di salah satu meja yang bertaplak kotak2 merah putih dan berlapis plastik, di depannya beef stroganoff yang sudah beberapa menit ia aduk2, sebotol bir besar yang berpeluh, dan sebungkus rokok Gaulois yang belum dibuka.

Sudah setahun ini Paman Gembul makan siang di sini setiap hari Sabtu. Lebih baik daripada siesta sendirian, pikirnya.

Paman Gembul sejak kecil selalu punya fantasi hidup sebagai sinyo dengan nyai2nya. Rijsttafel buat makan siang, kemudian dipijit nyai2nya sampai ketiduran.

Sampai setahun yang lalu fantasi Paman Gembul ini sempat terpenuhi. Dia bertemu dengan Bibi Titi Teliti di sebuah party di Kemang, dilanjutkan dengan ngiprit semalaman, dan berakhir dengan breakfast pizza dingin dan Coca-Cola di kos2an Paman Gembul di Menteng Dalam.

Sejak itu mereka bagai alis monobrow. Tak bisa dipisah.

Seminggu setelah mereka bertemu Paman Gembul bilang kepada Bibi Titi Teliti tentang fantasinya. ‘Ajolah, akoe djadi Jan Boon dan kaoe djadi Njaikoe, koeberi nama kaoe, Njai Ogoh2.’

‘Nyai Ogoh2? That’s a ridiculous name. Don’t be stupid. Gimme a grande dame old name, like Ontosoroh, or Sanggramawijaya Dharmaprasada Utungga Dewi. What about that?’

‘Batavia boekan poenya orang Djawa, Njaikoe. Bagaimana kalaoe nama jang lebih nétral sadja, seperti Germaine Greer?’

‘OK. Asal belikan aku iPamper untuk memijatmu.’

‘Tabik, Njaikoe.’

Jadilah sejak itu setiap Sabtu (karena di hari2 lain mereka harus kerja, dan di hari Minggu mereka harus makan siang bersama keluarga) Bibi Titi Teliti akan menyiapkan rijsttafel dengan srundeng, sayur lodeh, cumi woku (‘Aku diimpor ke Batavia sebagai budak dari Manado’), dan susu nihorbo (‘Terserah aku’), mereka berdua menyantapnya bersama di depan TV di kamar kos Paman Gembul yang lapang dan ber-AC (2,5 juta per bulan), dan setelahnya Paman Gembul akan tengkurap di lantai di depan TV yang dingin sambil punggungnya menikmati getaran iPamper di tangan Bibi Titi Teliti yang memainkannya maju mundur seperti Hoover sambil nonton TV.

Tidak lebih dari 5 menit Paman Gembul akan jatuh ketiduran, Bibi Titi Teliti akan melanjutkan nonton Nip/Tuck di DVD, atau Paman Gembul tidak ketiduran dan menyadari betapa Bibi Titi Teliti mencintainya dan dadanya akan penuh dengan gelombang samudera, ombak pecah, kapal karam, dan dia akan mencabut kabel iPamper yang menyelip di bawah tangannya dari tembok dan dia memeluk Bibi Titi Teliti sekuat tenaga dan mereka kemudian bercinta dengan kasih sayang dan nafsu yang sama-sama besarnya. Atau kadang2 Paman Gembul akan bangun dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Bibi Titi Teliti yang mendengkur lirih pas di depan mukanya. Saat itu dia akan tertawa dan membelai rambutnya yang jaguran.

Sampai suatu Sabtu siang setahun yang lalu waktu Paman Gembul pulang ke kosannya dari mengantarkan manuskrip kumpulan puisinya ke rumah Laksmi Pamuntjak di Wijaya, dan di situ yang dijumpainya bukan Bibi Titi Teliti yang sedang memindahkan cumi woku dari rantang Beautika tapi lemari pakaian yang pintunya terbuka, isinya kosong melompong, dan sepotong kartu pos bergambar Monas dan Hotel Marcopolo yang di belakangnya tertulis, dalam tulisan tangan Bibi Titi Teliti yang rapi seperti gigi peri, ‘Aku bosan bermain nyai-nyaian.’

Sebulan setelah itu Paman Gembul tidak pernah keluar rumah. Dia hanya menonton Taufik Hidayat menang Olimpiade Athena, berkali2 menonton Dogville, dan hanya sekali2 mencoba menulis puisi. Tapi susah sekali. Rasanya seperti ada kereta api tanpa masinis berjalan pelan di terowongan antara kepala dan dadanya. Tanpa jadwal dan di gerbong Eksekutif-nya hanya ada satu kursi yang berlumuran darah.

Sekarang Paman Gembul duduk di depan stroganoffnya yang berlumuran telalu banyak Lea & Perrins, merokok Gaulois yang terasa seperti kardus di mulutnya yang bau bir, dan memandang ke luar jendela lattice kawat yang membatasi dirinya dan jalan Gondangdia V yang menyerap panas lembab seperti cawat.

Panas lembab yang mengalir pelan menggoyang poni Paman Gembul yang berat berkeringat. Senyum simpul menyerobot mulutnya yang sedari tadi hanya garis coklat. Di kepalanya terlantun nada sebuah lagu Bruce Springsteen dari album Greatest Hitsnya yang kata Bibi Titi Teliti, ‘meninabobokkanku waktu hatiku digergaji pertama kali,’ dan yang sampai dua minggu lalu chorusnya ia pikir berbunyi:

IS IT YOU BABY, OR JUST A BREEZE IN DISGUISE?

Advertisements

5 thoughts on “Brilliant disguise (so not)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s