antareja

tik-tik-tik. ‘pernah menghitung air hujan?’ ‘aku belum edan.’ bunga mata sapi bergoyang dangdut bersama angin. ‘goyangannya salah. itu tango, bukan yang kuajarkan kemarin.’ aku mencoba marah kepada pohon setinggi lutut itu. ‘kemarin kau ajarkan apa? gambyong?’ tumbuhan itu menelan cuilan biskuitku yang terakhir. ‘bukan, kemarin aku mengajarimu bambangan.’ ‘hah, bambangan sama siapa? tari itu butuhContinue reading “antareja”