]
]
]
hear people listen
]
]
]
]
]
]
decid[ ]
what
]
hang
Why was Energy so listless, Jim?
“Tekun download dan CD-R
Ruang sempit tiga kali empat
Lorong kelas di kala malam”
“Tanpa house music hey na na na
Bukan break beat fa fa fa fa”
“Hanya Aku, musik dan lantai
Kita pun bergembira [pertimbangkan kembali, siapa ‘kita’?]
Sumpah gembira
Pestapora Pestapora [pertimbangkan lagi, siapa sekarang berpestapora?]
Dan kau tak diundang
Tak diundang”
“Suasana disana meriah
Dengan dj, musik berdansa
Pengeras suara
Kudapati bintangnya malam
Di tepi mereka [italics mine]
…
Aku kan segera di sana
Bukan untuk berdansa”
“Semua tenang
Hingga tanpa suara terdengar
…
Hingga suasana heningnya”
“Tak guna antrian panjang
Apalgi hanya popcorn yang mahal
Karena kita gembira
Bermodal awal lima ribuan
Kan ku ajak kau dara
Menyaksikan tutur gambar di rumah
Bertumpuk keping bajakan
Masih sempatnya kita berwacana”
“Ruang gemerlapan yang hingar bingar
Namun berat kaki terhadap nada
…
Apa ku ada di mars
Ataukah mereka mengundang
Orang Mars
Apakah aku ada di Mars
Atau mereka mengundang
Orang Mars”
(kemudian Jimi
menutup pintu kos
dan mulai berhikikomori.)
Man in His Off Hours
(dan ini terjadi 33 menit sebelum aku membaca Anne Carson’s Men in the Off Hours di pojok Picture Books, Kinokuniya On Five)
“please do not unwrap books seek assistance from our staff”
the staff
thin waifish
girls in
unstable pumps
tapi ingat ini terjadi 33 menit kemudian.
sebelum itu
setelah mendengar
kondektur mendongeng
tentang sore:
glodok kosong!
seorang pengamen berpunggung tembok art nouveau
bandung circa nineteenthirtyfour
seorang gadis berlengan
naga dan daun-daun
hijau
bertopi nelayan
bersuara kawakan
Lomba Karaoke Tingkat Nasional
i don’t know what’s wrong with odysseus
what is wrong with him?
polumetis non compos mentis!
perasaan yang aneh:
di kota yang membuatku
merentang busur:
to try to resist the song of Parthenope
kemudian menunduk
karena sesuatu yang menggantung
dari mata dan keinginan
mencium bumi.
or the
staff thin
waifish girls
in unstable
regular issue
pumps.
SEEK ASSISTANCE FROM THOSE WHO KNOW BETTER!
(mungkin kau anne, walaupun aku yakin aku sudah terlambat, lebih dari 33 menit dan 7 tahun yang telah berlalu setelah Vintage International mencetak bukumu dalam versi paperback.)
klutemnestra
you look like you’re about to cry
(hanya pertanyaan yang kusimpan dalam hati)
hanya pertanyaan
yang kusimpan dalam hati
Why I suck at this ritin biz:
What was your favourite book as
a child?
the little house series. we lived in a small town in java called madiun.
no we lived in a village on the outskirts of that city. my mother was a GP, the
only one in a radius of what seemed like the distance between our tiny doctor’s
house and the moon. when we think of her in those days my brother and i both
have visions of the queues in front of her clinic. but she sent us to a good
school in the city and no she didn’t do this everyday but we’d go to this
stationery store in the central market which was also a bookstore (in our
country a bookstore is always already a stationery store) whenever my mother
found out that the latest installment in the series had been translated and
published by this old christian publisher. we’ve never worked out how my mom
found out that the newest title had arrived but soon she didn’t have to anyway
because we’d no i, my brother didn’t like them, would pester her into going to
the store almost everyday. the newest title used to be kept in a tall glass
cabinet along with fake parkers in their velvety fountain pen coffins. propped
up with black wooden picture frame holder. i think the whole series took about
five years to come out, roughly the time from when i first learned how to read
to when we had to leave the city. we lost all the books, each of which except
the later spin-offs that were written by laura’s daugthers and grand- i’ve
reread maybe 324 times. my favourite stories were laura finally getting the
minx coat that was at the top of the collective xmas tree during that long
winter and pa’s escape from the hungry puma in the big woods. oh and how laura
repeatedly tells us that pa used to be able to fit ma’s waist within the span
of his hands. used to be able to. no need to tell you i hate michael landon’s
version of pa. where’s the fuckin beard? i used to try to superimpose the
(bearded) face of the guy who played mr. edwards onto mr. landon’s
marble-smooth monstrosity. and that journey hair!!! a couple of years ago i
tried to get the complete series again and went to the publisher’s HQ office/store
in the city where we now live. the books had just been rereleased with new
horrible covers, grey newspaper papers that look like they’d dissolve in whatever
liquid you accidentally pour upon them, and a uniform, smaller size that’s too small even for children’s hands. the books were kept in the sunday school
section upstairs. so that’s why. mary and laura walking to their sunday school
in their sunday dresses, their good shoes, and the millions of indonesian
children running after them.
When you were growing up did you have books in your home?
like mumu, maybe not as many books as magazines. we subscribed to three,
femina, tempo and hai. bobo used to be a femina supplement. bimba in kartini.
donald duck comics. sometimes you could still see the original dutch text under
the indonesian translation. how’s that for a palimpsest mr. vidal! playboys,
penthouses and hustlers my mother kept in the bottom shelf of her clothes
drawer. i learned this language in penthouse forum. the story of the girl with
the mini vagina. madonna, june 1985. the month i was born. oh i also read my
mother’s medical textbooks, that had this creepy pencil sketch of a pregnant
woman who looked about 12. the sequence shots of a baby’s head boring through
his mother’s cunt. the kriminal stories in tempo. jurnalisme sastrawi? eat shit
andreas harsono! balada si roy.
(too many fights to be a real ballad for me.) this was when we lived in madiun.
later i had stop (that scene where they swam naked in a lake and the guy who
had a crush on the only girl in the team swam under water. they were germans.),
trio detektif, lima sekawan (lidah for bacon!), malory towers (lacrosse!), and
then pramoedya. that was when the fun stopped.
Was there someone that got you interested
in writing?
no. maybe john updike? or nicholson
baker. no one in real life.
What made you want to write when you were starting out?
i don’t think i ever had a moment
in my life that i can identify as a ‘starting out’ moment. i haven’t even done
it yet!
Do you find writing easy?
fuck no. it gets harder everyday.
it’s scary. i guess you just never know if what you write is important or any
good. or how you wrote that particular piece (of shit) or this. you accumulate
craft, sure, but the more craft you have the worse your longing is for the kind
of magic that you had when you wrote as a kid. how the fuck did i do that
treatise on ‘the day you took the sky out of my eyes’? genius.
What makes you write now?
part therapy, part megalomania.
How do you write?
at the office in between day-long yahoo! messenger conversations, late
(from about 10 p.m.) at home in between downloading porn.
How do you survive being alone in your work so much of the time?
what a stupid question. i never get the time to be ‘alone so much of the
time’.
What good advice was given to you when you were starting out?
‘put your name down after the title.’
What advice would you give to
new writers?
‘live.’
Anything else?
you’ll never feel like you’re good enough. there are times when you know
you’re the smartest person in the world. reconcile those feelings.
What are you working on?
my life.
Rest, Assured
Satellite, thou art
way out of time, but
worry not my cling-wrapped love
I will grow wings and fly through space,
dock and wipe the bug off thine interface.
Thy will be done, before Mars goes past its prime.
Binhad Nurrohmat Has Got No Balls, Or Brain!
Salah satu “kritik gadungan” ini adalah F Rahardi yang menurut Binhad “menuduh puisi penyair generasi terkini kalah oleh puisi penyair generasi terdahulu, puisi penyair Jakarta tertinggal jauh dari puisi penyair Bali dan Lampung, dan puisi penyair generasi terkini kalah mutu dengan cerpen dan novel terkini.”
Menurut saya kesimpulan Binhad tentang tuduhan F Rahardi itu agak melenceng. Tuduhan F Rahardi pada puisi generasi terkini sebenarnya jauh lebih kejam. Dalam tulisannya (“Umbu dan Puisi Indonesia Modern”, Kompas, 14 Mei—seminggu sebelum balasan Binhad) F Rahardi menyatakan, “… dalam sepuluh tahun terakhir … tidak ada puisi bagus.”
Sesungguhnya kalau Binhad ingin membuktikan bahwa tuduhan ini salah, gampang. Tunjukkan saja sebuah contoh “puisi bagus” dari sepuluh tahun terakhir ini! Satu puisi pun akan sekaligus menjadi “data yang komprehensif, fakta yang tepat, dan analisa serta pembuktian yang meyakinkan” yang didamba-dambakan Binhad dari tadi.
Tapi pembuktian yang diberikan Binhad justru argumen-argumen ad hominem yang sekedar menempelkan stiker-stiker mengerikan pada jidat komentator-komentator puisi Indonesia: “nostalgis”, “provinsialistik”, “suka mencomot kesimpulan dari gerundelan pribadi”, “dangkal”, “antik”, “omong besar”, “melantur”, “ajaib”, “berbunga-bunga”, dan masih banyak lagi.
Sekalinya Binhad mengalihkan perhatian dari mencerca kritik gadungan dan mencoba memberi pembelaan untuk yang dikritik dia hanya menyatakan, “Hampir sepanjang dua dasawarsa ini, hampir semua koran edisi Minggu di negeri ini dan juga situs-situs puisi di internet menampilkan puisi-puisi para penyair generasi terkini yang jumlahnya tak tertandingi sepanjang sejarah puisi Indonesia modern.” Jumlahnya! Begitu cepat Binhad lupa bahwa yang dikeluhkan F Rahardi, dan yang membuat Binhad sendiri begitu murka, adalah bahwa “tidak ada puisi bagus”. Bukan bahwa tidak ada puisi.
Memang kemudian Binhad meneruskan bahwa mungkin masalahnya “puisi-puisi yang jumlahnya tak tertandingi sepanjang sejarah puisi Indonesia modern” tadi (“data”-mu “yang komprehensif” untuk ini mana, Binhad?) “belum semuanya dijamah, diendus, dan dirogoh secara representatif dan saksama oleh kritikus manapun”. Tapi bukannya ini satu lagi kesempatan, pas sekali, untuk menunjukkan satu, satu saja ayo, “puisi bagus” tadi? Kalau tidak ada yang mau merogoh, ya rogoh saja sendiri!
Tapi tidak, Binhad sampai akhir tulisannya hanya memaparkan bagaimana kehidupan para penyair generasi terkini begitu berbeda dari penyair generasi sebelumnya (eg. “bisa ‘berguru’ melalui internet”, tidak perlu “ngutil buku semacam Chairil Anwar”). Yang gampang ditebak mengarah ke permohonan klise supaya “kritik-kritik gadungan” tadi jangan menilai puisi-puisi penyair generasi terkini dengan nilai-nilai yang mereka pakai untuk menilai penyair-penyair generasi sebelumnya.
Tetap saja, menyatakan bahwa “zaman sudah berubah dan bergerak cepat” tidak sama dengan membuktikan bahwa zaman itu sudah menghasilkan puisi bagus. Binhad tetap tidak bisa melihat bahwa yang perlu dia lakukan hanyalah memberi satu contoh saja sebuah “puisi bagus”; itu cukup untuk mematahkan tuduhan F Rahardi.
Kenapa, misalnya, Binhad tidak menyebutkan saja sajaknya “Columbus” yang dimuat di halaman Sajak Sajak Kompas Minggu 30 April 2006, dan menantang F Rahardi untuk membuktikan bahwa puisi itu bukan “puisi bagus”? Atau membandingkannya sendiri dengan, misalnya, sajak F Rahardi “Burung Madu” yang dimuat di halaman yang sama seminggu kemudian? Menurut saya beberapa larik dalam “Columbus”, eg. “Tak ada rindu di punggungmu yang kekar”, “dan api tualang membakar alamat rumah”, atau “mata jangkar capek merobek punggung udara”, cukup memenuhi syarat-syarat “kepenyairan tulen” yang dituntut Binhad sendiri, yang “intim dengan suka-duka, manis-getir, serta bobrok-mulianya kenyataan zamannya luar dalam.” Apa Binhad kurang percaya diri?
Tulisan Binhad ini, selain tidak bisa membuktikan salahnya tuduhan F Rahardi bahwa “sepuluh tahun terakhir ini tidak ada puisi bagus”, justru secara tidak sadar membuktikan tuduhan (antara lain) Katrin Bandel dalam eseinya “Sastra Koran di Indonesia” bahwa “[i]nformasi yang jelas, apalagi argumentasi yang masuk akal, sangat jarang terdapat dalam esei-esei [koran] itu. Entah karena memang tak ada penulis yang mampu atau karena ‘memukul’ dan menjelekkan lawan dan memuji-muji kawan dianggap sudah cukup.” (Sastra, Perempuan, Seks, Jalasutra, 2006, hlm. 49.) Dalam kasus tulisan Binhad ini, saya rasa Katrin bisa menghapus “Entah” dan mengganti “atau” dengan “dan”.
Sayang, Binhad. Karena kalau anda berhenti “memukul dan menjelekkan” sebentar saja, mungkin anda akan punya waktu untuk menemukan ini:
Re: Kota [2]
ada kota penuh kaki
muda, mulus, dan liar
inilah kaki dari senja emas
(Edo Wallad, Antologi Bunga Matahari, Avatar Press, 2005, hlm. 146.)
Sentimentil mungkin. Tapi bagus. Dan ditulis sepuluh tahun terakhir ini (6 Januari 2003 menurut keterangan bukunya). Habis perkara.
Mikael Johani sekarang tidak lagi harus menghabiskan waktunya pura-pura bekerja sebagai penyunting di Jurnal Perempuan.
Halo Sayang
Tadi aku
makan plum
yang
di kulkas
itu bekalmu
untuk
sarapan besok
ya?
Maaf sayang
habis mereka enak
manis
segar sekali
– barbarisme dari ‘This Is Just to Say’, William Carlos Williams, Selected Poems, New Directions, 1985, hlm. 74.
Now We Go To A Live Interview With Cicero
Pasti, Archias akan puas
dengan ingatan tentang rumah
dan jendela yang membuka ke sawah.
BURUNG GEREJA
Seratus ribu burung gereja turun ke halaman rumah yang kosong
Beberapa berkumpul di pucuk pohon plum, bercakap dengan langit malam yang terang,
Sisanya berterbangan ke sana ke mari, bising menusuk ulu hati,
Tiba-tiba semua mengepak pergi, dan sekarang tinggal sepi: tak ada suara sama sekali.
Yang Wan-Li, dari versi David Hinton di The New Directions Anthology of Classical Chinese Poetry, New Directions, 2003, hlm. 177.