freckles and bun

gee you look older tonite

and you you you’re thinner sort of your cheek’s sort of gone gaunt

you look taller

i’ve grown a centimetre this year it’s a late growth spurt happened after my dad died

and you’re wearing those imitation manolos

they’re real manolos

really you’re that loaded now?

yes all the sinetron moneys

you really are looking pretty tonite

thank you

youre fringe reminds me of a geisha’s bun you know how they always look like they’re made of shiny black plastic combs

my forehead gets cold easily nowadays where’s your girlfriend

she’s sick and i wish you were my girlfriend that’s mean i know but sometimes one just has to let out what one’s heart says

you do have a mean heart everyone says so

Abdoh Rinbo’s Odyssey

pulang gampang bagimu al-wajid
yang selalu menemukan detik ini juga apa yang ingin kau temukan

jalan pulang menembus semak belukar
telur paskah bercat ungu menempel di lebam mata

kau tak punya alasan untuk bermurah hati al-mu’akhkhir
kau yang maha bisa menggagalkan segalanya

tapi sudilah berikan kami kapal portugis
dengan layar setengah terbakar pun tak apa

asal tak kau cat langit malam dengan tinta cina
o al-dhar kau yang maha penyiksa

biarkan angin dan konstelasi bintang
menuntun kami pelan-pelan, ke ithaka

pulang kantor gandengan tangan dengan ney di sini

AL-SHU’ARAA’

‘Lihatlah, penyair selalu dibuntuti oleh orang-orang yang kalah
lihatlah mereka terseok-seok di setiap ngarai yang mereka lewati
menjual obat yang tak pernah mereka minum sendiri.’

Tapi Al-Mudhill, Tuhanku Yang Maha Penghina
pilihan apa lagi yang kupunya
kalau kau telah berkomplot dengan Plato dan mengusir kami dari cetak biru surgamu?

Selain kata-kata yang mengalir di benang-benang optik antar dunia
9 to 5 Waraney di sana, siesta sepanjang hariku di sini
O Al-Qabidh, Tuhanku Yang Maha Membatasi?

Memang enak kau punya paling tidak 99 nama
kami hanya punya satu
itupun sering salah dieja.

jaringan puisi liberal didirikan di sini

HIKAYAT USMAN BIN AFFAN VOL. 1

di sudut tendanya usman bin affan menghitung merjan mengkilap
upeti kurir yang mengantar pesan menyerah dari raja-raja sejazirah arab

tahun depan, kordoba! pikirnya. dielusnya janggut yang keriting seperti sulur anggur
dibelainya kuran dari kulit onta, percikan-percikan darah di sudutnya

ya muhammad, jalan pedang membawa kejayaan lebih cepat
daripada badai gurun melenyapkan pucuk tenda pedagang kurma!

di paris akan aku tegakkan, scimitar dan bulan sabit
di puncak bukit montmartre, akan kubangun masjid di sana

dengan hamam gratis di basement-nya, buka 24 jam
bagi kita laki-laki yang selalu berkeringat darah!

sebentar lagi ya muhammad, akan kusempurnakan kitabmu
dengan tinta emas dan sampul kulit manusia-manusia kafir

lailahaillallah muhammaddarrasulullah
biarkan aku menyulap mukjizat atas nama-namamu.

hasil beradu pedang dengan ney di sini

general stuw peed*

tanda pangkat di bahu jendral itu sudah lama tidak disetrika
kerut-kerut menyaingi cakar ayam di sudut-sudut matanya

diam-diam si jendral suka menulis puisi. segepok telah ditulisnya,
di sela-sela menulis skenario kamera ria, ‘produksi indonesia

menunjang sistem senjata armada terpadu’, bualnya,
tanpa pernah percaya di lautan pun panser bisa berjaya

semua ia simpan rapi di bawah kasur, di samping tumpukan playboy tua
madonna, juni 1985, betapa lebat bulu tangannya!

suatu hari ditulisnya puisi buat istrinya, yang selalu setia
membuatkan teh dengan iris-iris jahe yang mengambang di bibir gelas

seperti mayat-mayat Falintil yang ditembaknya sendiri
tahun ’75 di perbatasan Dili

dia ingat, sungai yang dia tak kenal namanya itu
tidak cukup coklat untuk menyembunyikan merah darah yang menebar seperti awan

dibayangkannya istrinya, perempuan berseragam daster
dengan bordir beruang di dada kirinya

sungguh cute, kenapa selalu ditinggalkannya?
tour of duty? alasan saja!

ditulisnya sebuah sajak, tentang dia dan istrinya
dan penginapan tua di jogja, tempat mereka minggat

bertahun-tahun lalu. malam tahun baru, kembang api mekar
di langit kota. ia melihat istrinya berdiri di dekat jendela

berseragam daster yang sama, diam menatap langit
yang menyala-nyala.

ingin disapanya istrinya yang waktu itu masih pacarnya
tapi dia merasa malam terlalu dingin, dan dia hanya kembali meringkuk

menarik selimut semakin tinggi
menutup dagunya.

jendral itu ingin sekali menambah satu bintang lagi di tanda pangkatnya
menyematkannya di bahu istrinya yang setia: jendral besar (anumerta).

*judul dicuri dari sini

hikikomorikami


dongeng buat coreng


youre like deep inside a big cave where nobody can see you

not even those wolves

youre wearing a miniskirt made out of tree bark and one of those bras made of polished coconut shells

youre painting bisons and moons and stars and wolves on the damp cave walls

in the dark

the bisons will turns out like wolves and the moons like stars and the stars like you

you paint them with yr own blood

menstrual blood

though youre not regular

last time was september and now its april

according to the stick calendar you keep off yr head

so mostly you cut yrself with a lil piece of glowing rock

broken off a stalactite

and yr blood glows too as if in cahoots

then one day youre half asleep

when from the corner of your eyes you see

a light moving in

its a small light

like a kunang2

but you hvnt seen the light for so long

like 200 years

and you dont know anymore what that moving yellow thing is

you try to say the word out loud so you remember

but you forgot you havent spoken to anyone for 200 years

so what comes out was just gibberish

lousdfiusbfsudyc;oiasb;ch;s!

asbdfsldbyflyrfoweyo!

youre so frustrated you start to tear at yr hair and yr coconut shell bras except youve worn them for so long theyve grown into yr skin or yr sin into it who knows

yr SIN into it! wow thats better!

so finally you just run at the little yellow light that floats in the darkness like the darkness was a slow river

and you swam in the darkness

and the light gives off this scent

that makes your head feel so light

like youve got no head

and you feel so happy

and you wanna hug the light

but it was so small it kept escaping your embrace

so you think

but youve got no head so you wonder how you cd still think

and think how u cd still wonder

you think maybe you could just sing to the light

after all you went to the cave 200 years ago when you felt so lonely

maybe the light was lonely too

maybe it would like to listen to something pretty

like a lullaby

something that wd remind it of its mothers bosom

her gendong batik

how warm and safe that must feel

so you start to hum that song

you still cant remember or say the words

cos you hvnt spoken in 200 years

but you know the notes cos you used to play the piano

and youve got good ears

and in human language it still sounds like dcvfklbslbfh;obf;obyf;

isbdcfiscflibye

oiyeroiybeiybeyv

except to the light it sounds beautiful

its so beautiful

the little light slows down

then stops

right in front of yr chest

yr coconut-shelled chest

you could almost touch it

but you were too busy singing

because the words start to make sense now

n n a b b

n n n i a oo oo

niii aaaa nooo bbbb ooo

nih       nah

ni na

bbbb

ooooo

bbboooooooo

and the light is so happy it stops moving entirely

it feels so safe and warm

and you can feel it too

the cave

the hairy bisons on the walls

the world

the everythings safe and warm like a mothers bosom

and the light doesnt even realise it starts to grow dim

dimmer

and dimmer

and you were so caught up in singing and listening to yr own words
that you dont realise the light

when you raise yr head to see if it was still there listening to you

WAS GONE

the pretty little light was gone!

you cant believe it

just as much as you cant believe youve started to speak human words again

what use are human words in a world without light?

the next day you tell yrself never to pay so much attention to any single light like that again

you paint yr bisons and yr wolves and yr stars and you sign it THE END

grave design

terakhir kali aku mengunjungimu o nenekku yang sudah kulupakan bau gendong batikmu

aku masih punya ide-ide idealis tentang bagaimana kuburan seharusnya

tentang nisan bertatahkan kata-kata mutiara yang dijiplak dari oscar wilde

atau paling tidak, keats; sesuatu yang membuat orang tertawa sekaligus berkerut dahinya

tapi sekarang o nenekku yang sudah kulupakan bau gendong batikmu

aku hanya bisa memandang padi kuning yang merunduk di sekitar kuburanmu

kerikil di atas makammu yang berhiaskan daun jati kropos membentuk hati

sungai kecil dengan air kemricik yang menembus earphones ipod-ku

(aku sedang mendengarkan leif erikson o nenekku yang sudah kulupakan

bau gendong batikmu: it’s like learning a new language!—semua ini)

di dekat pintu masuk; bebek-bebek berbaris oleng bersama cah angon yang

o nenekku yang sudah kulupakan bau gendong batikmu! kali ini ternyata

seorang kakek-kakek dengan benjolan-benjolan kusta di jari-jarinya

begitu lambat waktu berjalan di sekitar kuburanmu o nenekku yang sudah kulupakan

bau gendong batikmu, aku bisa menghitung berapa lembar lumut baru telah tumbuh

di sisa-sisa tanggul yang menandai jalan pulang ke rumahmu sejak terakhir kali

aku mengunjungimu. lihatlah! o nenekku yang sudah kulupakan bau gendong

batikmu, petani-petani bermalasan merendam kaki di sodètan bengawan solo,

melambaikan tangan yang berkerak lumpur ke arah clurit berkarat di tanganku.

tapi tak ada rumput untuk disiangi sore ini di makammu o nenekku

yang sudah kulupakan bau gendong batikmu! yang ada hanya keinginan aneh

untuk tinggal dan menjahit baju lebaran dari daun-daun jati yang bertebaran di sekitarmu.