Broken english social scene

seperti kalau kau membuka multiply orang yang tak kau kenal kecuali lewat mugshot mereka yang lama kau hiraukan kemudian kau berpikir wow! hidup mereka begitu modern dan mengerikan. mengerikan karena aku berpikir, aku ingin juga seperti mereka, bermain tenis wii one-on-one di tv layar lebar, tapi mungkin aku tak akan pernah bisa. aku benci orangContinue reading “Broken english social scene”

aku suka kok. aku suka, banyak hal yang tak dijelaskan di situ. tak berlanjut. tak ke mana-mana. heavy stupid conversations yang mengambang bersama asap lints, kemudian lenyap begitu saja. ditelan postcard bergambar pantai, daun pisang, dan tumpukan kelapa. lirikan yang tak dibalas. nona napitupulu genit yang ngambek nangis kemudian berhenti begitu saja. you see deadContinue reading “–”

Akhir dari awal segalanya

restoran murahan yang baru dibuka itu menyajikan menu tiruan yang di daerah aslinya disajikan pagi-pagi untuk orang-orang yang datang bersepeda lengkap dengan jeroan dan rajangan bawang yang mengapung-ngapung seperti kantong plastik dan mayat orang di sungai berair kuning kental. dia biasanya akan memesan pisahan dan menyeka hidung yang keringatan dengan sapu tangan kotak-kotak coklat murahan.Continue reading “Akhir dari awal segalanya”

3 Tahun Sebelum 3 Hari Sebelum 3 Hari Untuk Selamanya

Mungkin hanya kau yang tahu surat ini ditujukan untukmu. Semuanya sudah hampir punah dari ingatanku. Danau itu. Anak-anak berbawahan abu-abu, nasi gila, air mancur jam dua, udara yang rasanya bergetar dengan keheningan yang sempurna. Kita di jantung kota, dan di sini masih ada sepi rupanya. Di situlah, di balkoni rumah nenekmu, di meja sempit yangContinue reading “3 Tahun Sebelum 3 Hari Sebelum 3 Hari Untuk Selamanya”

Seandainya Lorrie dan Vollmann adalah dia dan dia

dia tidak tahu juga apakah dia masih iri dengan kehidupan yang lebih fun dan penuh dengan party. kadang-kadang dia berpikir, i’ve had all that. i’ve had it with all that. tapi kadang-kadang dia juga berpikir, dia baru 31 tahun dan dia sudah terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk takut. takut seperti ini. takut seperti waktu ituContinue reading “Seandainya Lorrie dan Vollmann adalah dia dan dia”

IN JAKARTA, DAAR IS PAS CULTUUR!

Pada suatu malam aku pergi ke Kota untuk menonton sebuah festival wayang. Di situ aku melihat bayang-bayang Inul dan pantatnya yang ngebor, diiringi dram TAMA, gitar YAMAHA, dan bas yang tak jelas mereknya apa. Blencong di situ telah dilistrikkan tapi apa daya PLN benci peristiwa budaya yang listriknya suka ngemplang, yang disubsidi pula dan sudahContinue reading “IN JAKARTA, DAAR IS PAS CULTUUR!”

Stadion utama hidup ini

soal tak mau apa apa itu pastinya tidak seluruhnya benar. mereka ingin sedikit lebih bahagia. seperti menonton tv dan ingin receptionnya sedikit saja lebih jelas lagi, seperti ingin channelnya nambah ya paling tidak RAI-lah, atau seperti ingin serabi yang plain saja tapi diterbangkan dari solo pagi ini. atau seperti ia ingin menulis seperti lorrie danContinue reading “Stadion utama hidup ini”