Sestina na na*

aku malas ngomong tentang pertjintaan
perut djadi mual serasa sedang menunggu kelahiran
aku lebih senang batja koran dan menjimak berita tentang kematian
mungkin itu tjuma salah satu tjaraku melupakan kesepian
seperti pagi2 aku menunggu terbitnja matahari
dan tidak melihat di kaki langit sana masih ada bulan

tapi mémang siapa pula jg masih peduli pada bulan
kecuali penjair2 tengik jg tak bosan2 bertjeramah tentang pertjintaan
jg tak puas hanja punja 20 padanan kata buat ‘matahari’
jg menuntut tukang bétja peduli djuga dengan sakralnja kelahiran
jg protes pada pohon2, satu2nja jg menurut mereka mengerti tentang kesepian
buatku hidup lebih baik dilihat sebagai permainan jg kartu as-nja kematian

sehingga kalau kau mau menang, tjabutlah kematian!
djangan tunggu sampai NASA mengirim lagi astronot ke bulan
ingat subagio, jg bakal kau temui di angkasa luar tjuma kesepian
lebih baik tinggal sadja di sini di bumi dan selami pertjintaan
asal tak usah kau embel2i dengan sesadjen lajaknja kelahiran
tjinta akan selalu bisa membuat kita terengah2 seperti habis mengedjar matahari

bukalah buku harianmu waktu SD, pasti di situ ada djuga matahari
sering kita lupa kita pernah bahagia, hanja karena hidup penuh kematian
seperti rumah sakit jg sudah terlalu sering djadi saksi kelahiran
seperti pungguk jg sudah terlalu biasa ketjéwa pada bulan
seperti tak lagi menghitung djumlah tawa dalam sebuah pertjintaan
bukalah hatimu sebelum sesak dengan kesepian

tanjakan pada seorang pendjaga lift tentang arti kesepian
tentang pasangan2 jg di matanja tersimpan matahari
tentang muzak jg menjiksanja dengan kisah2 ménjé pertjintaan
tanjakan padanja tentang kampung dan kematian
tentang sisa tanggul di bawah bulan
tentang salak andjing jg mengiringi tiap kelahiran

kota ini tak pernah peduli dengan kelahiran
buatnja tiap kafé adalah sesendok teh kesepian
dua tall lattés, carrot cake, dan sebotol bulan
di kota ini kita tak perlu berebut matahari
di setiap sudutnja 24 jam membara kematian
tetabuhan purbakala jg dilistrikkan dan api biru pertjintaan

maafkan aku sok tahu tentang affair pertjintaan dan kelahiran
maafkan lelutjonku tentang kematian, tjeramahku tentang kesepian
aku hanja ingin melihat matahari bersanding dengan bulan

*kata2 akhiran sestina ini ditjopet urut dari esei chairil anwar, ‘membuat sadjak, melihat lukisan’, di buku editan h.b. jassin, chairil anwar: pelopor angkatan 45, gunung agung, djakarta, MCMLXVIII, hlm. 150-151. kalimat terakhirnja: ‘Pertjintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan, ketuhanan — inilah pokok-pokok jang berulang-ulang telah mengharukan si seniman.’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s