Memotret dan merekam Indonesia

Detik-detik Indonesia/Indonesisches Sekundenbuch
Martin Jankowski
IndonesiaTera, Desember 2005
120 halaman

Buku ini saya temukan di rak Novel Indonesia di Gramedia Plaza Semanggi. Sampulnya potret pasar basah sehabis hujan, dua orang perempuan muda tertawa lebar di atas sepeda motor bebek Yamaha merah, seorang ibu-ibu cemberut berjilbab hot pink naik sepeda jengki di belakangnya, semuanya di atas jalan yang terbuat dari batang-batang kayu pipih menghitam karena usia dan air hujan. Sepertinya pasar ini ada di sebuah dermaga, atau di atas sungai, mungkin pintu masuk sebuah pasar terapung.

Sampul ini mirip dengan sampul-sampul buku akademik tentang Indonesia (eg., lihat seri non-fiksi Equinox, sampul-sampulnya juga dibagi dua antara potret dan blok warna polos dengan teks judul dan pengarang sekecil mungkin, hanya potret mereka ditaruh di atas, baru blok warnanya di bawah, buku ini kebalikannya), menjual semacam kitsch penderitaan manusia Indonesia: lihatlah, betapa miskinnya mereka, betapa joroknya pasar ini, dunia mereka, tapi betapa bahagianya! Tertawa-tawa di atas sepeda motor berbensin timbel yang setiap hari memelorotkan IQ mereka! Betapa berwarnanya hidup, merah, merah muda, hijau sayur, oranye dan biru terpal! Oh, betapa lucunya!

Tapi dari komentar Goenawan Mohammad di sampul belakang (satu-satunya, sebuah esai mini?) ketahuan bahwa buku ini ternyata adalah buku puisi. Dan setelah membuka bungkus plastiknya yang menjengkelkan (kenapa bungkus plastik itu selalu begitu ketat, begitu kuat, dikukupun tak langsung tembus? Kenapa percetakan tidak menyimpan tenaga mereka untuk memperkuat jilidannya saja?), ketahuan bahwa ternyata ini adalah buku puisi dwibahasa, Indonesia dan Jerman. (Komentar Goenawan Mohammad tidak memberitahukan ini—catatan untuk cetakan ulang, kalau ada.)

Benar-benar dwibahasa, bahkan kolofonnya pun didwibahasakan (hanya “Catatan”-nya yang tidak diterjemahkan, dan sayang, karena saya justru ingin tahu bagaimana hal-hal yang biasa buat orang Indonesia, eg., “Tofu/Tahu”, “Waringinbaum/Pohon beringin”, “Ojek” dijelaskan pada pembaca Jerman—catatan satu lagi untuk cetakan ulangnya).

Sebenarnya banyak juga buku-buku puisi dwibahasa seperti ini bergeletakan di rak-rak toko buku (loak biasanya) di Indonesia. Tapi memang kebanyakan terjemahan puisi-puisi Indonesia ke dalam bahasa Prancis atau Inggris, eg., Santa Rosa, edisi dwibahasa Indonesia-Inggris sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany—penyunting buku ini—terjemahan Harry Aveling, atau antologi dwibahasa, eg., Anthologie Bilingue de la Poésie Moderne Française suntingan Wing Kardjo. Jarang ada penyair asing yang satu bukunya komplit diterbitkan berdwibahasa di Indonesia. Apalagi penyair asing yang menulis sajak-sajak tentang Indonesia. Sajak berbahasa asing tentang Indonesia yang pernah diterbitkan dalam bentuk dwibahasa seingat saya hanya sajak R.F. Brissenden “Walking Down Jalan Thamrin” (yang satu ini “Jalan Thamrin di Denpasar”, baris pertamanya), yang diterjemahkan jadi Menyusuri Jalan Thamrin oleh Sapardi Djoko Damono dalam antologi dwibahasanya Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia.

Menyertakan bentuk asli bahasa Jerman sajak-sajak ini (Martin Jankowski memang orang Jerman, selengkapnya klik saja http://www.martin-jankowski.de) banyak keuntungannya. Kita bisa melihat bentuk wadag asli sajak-sajak ini (biasa saja, vers libre, dengan stanza cukup panjang), dan, karena sajak-sajak ini semuanya tentang Indonesia, kita bisa melihat dengan kata-kata apa Martin menerjemahkan apa yang dilihatnya di Indonesia (atau tidak perlu diterjemahkan? eg., becak tetap becak, angkot tetap angkot, ojek tetap ojek. Bahkan bis pun, yang seharusnya bus, tetap bis (dalam “lalu lintas dalam kota, versi Indonesia”)), kemudian akhirnya kita bisa melihat kata-kata apa yang dipilih oleh penerjemahnya untuk menerjemahkan sajak-sajak berbahasa Jerman tentang Indonesia ini (kembali) ke dalam bahasa Indonesia (atau bukan bahasa Indonesia? eg., klopfen lässige sprüche diterjemahkan jadi “berlagak santai dan cool” dalam “Bali Beach Boys” (judul asli “Bali Beach Boys”)), dan ini jadi lebih menarik lagi karena penerjemahnya adalah Katrin Bandel, orang Jerman juga! (yang sudah sejak kira-kira tahun 2001 menulis esai, puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia. Kumpulan esainya Sastra, Perempuan, Seks mungkin kritik sastra Indonesia paling sedikit basa-basinya akhir-akhir ini.)

Seorang penyair berbahasa ibu Indonesia mungkin akan tergoda untuk menerjemahkan puisi yang ia lihat dalam rangkaian kata-kata Martin daripada rangkaian kata-kata itu sendiri. Karena toh rangkaian kata-kata itu usaha untuk menerjemahkan sebuah puisi yang Martin rasakan, atau lihat bukan? Kalau menurut penyair Indonesia ini kata-kata yang dipilih Martin kurang pas, pantaskah ia sebagai penerjemahnya memilih kata-kata yang lebih pas, dengan alasan ia lebih tahu bagaimana menerjemahkan puisi, oke, roso, tadi dalam bahasa Indonesia? Jawabannya mungkin boleh-boleh saja asal kalau terjemahannya jadi cukup jauh dari kata-kata aslinya, ie., kalau terjemahan vers libre Martin jadi terlalu libre, si penyair penerjemah ini akan punya kewajiban untuk menyebut terjemahannya, eg., Imitasi, ala Robert Lowell.

Katrin Bandel, sebagai orang Jerman yang menulis dalam bahasa Indonesia dan Jerman dan menerjemahkan puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia mungkin justru tidak punya godaan ini. Mungkin dia tidak akan tergoda untuk sok lebih tahu, ataupun tersentil egonya karena hei, ini bahasa ibuku, tentu aku lebih tahu! Yang tersisa hanyalah masalah klasik penerjemah yang menerjemahkan ke dalam bahasa yang bukan bahasa ibunya: bagaimana membuat terjemahannya jadi sealami, seasli, seidiomatik mungkin?

Kalau melihat dari bahasa Indonesianya di buku ini, dan di esai-esainya di Sastra, Perempuan, Seks, Katrin juga tidak punya masalah ini:

Jakarta itu besar
taruhlah kau mau ke
pertama kau naik ojek sampai
lalu pakailah angkot ke
di situ masih ada becak tapi becak itu hanya boleh membawamu sampai
setelah itu kau mesti melanjutkan perjalanan dengan bajaj

(“lalu lintas dalam kota, versi Indonesia”)

Mungkin hanya “pakailah” dan “melanjutkan perjalanan”, terutama “-lah” dan “me-“-nya di atas yang kedengaran agak kaku, terlalu formal. Mungkin Katrin ingin menghindari penggunaan “naik” di atasnya dan belum senyaman Amir Hamzah memenggal bentuk resmi kata kerja. Tapi pemenggalan baris-barisnya setelah preposisi ke, sampai, ke, sampai, yang menipu seakan-akan itu awal sebuah enjambment dan ada lanjutannya di bawah, terdengar sangat segar, hanya sehelai rambut dari bahasa lisan.

Justru ini menunjukkan mungkin Katrin di sini melakukan apa yang saya kira bisa saja dilakukan oleh penyair penerjemah berbahasa ibu Indonesia tadi. Apakah baris-baris berbahasa Jerman Martin terjemahan dari transkrip dari penggalan-penggalan petunjuk arah yang dia dengar waktu tersesat di Jakarta? Saya tidak tahu. Apakah Katrin tahu? Seberapa dekat hubungan penyair-penerjemah mereka? Saya tidak tahu. Tapi coba bayangkan seandainya iya, bisa saja cara penerjemahan yang tergampang adalah Katrin bertanya pada Martin penggalan-penggalan tadi aslinya bagaimana? (Coba lihat trasnkripnya, apa kamu sempat merekamnya?) Dengan cara ini Katrin akan menerjemahkan sebuah terjemahan kembali jadi bentuk sebelum ia diterjemahkan. Semacam usaha untuk mendekatkan puisi Martin pada kenyataan di sini (Jakarta, kelihatannya, dalam sajak ini). Semacam usaha William Carlos Williams menulis sajak-sajak tentang Paterson menggunakan “the speech of Polish mothers”, penduduk kota itu.

Cara yang lain tentu, dan bisa saja ini justru lebih gampang lagi, menggunakan imajinasi kepenyairan Katrin sendiri untuk membayangkan kira-kira bagaimana petunjuk-petunjuk arah dalam bahasa Jerman itu akan terdengar dalam bahasa Indonesia dan bagaimana merangkainya menjadi sebuah sajak.

Tapi mungkin sebenarnya tidak begitu penting mengira-ngira bagaimana Katrin menerjemahkan sajak-sajak Martin. Yang lebih penting adalah hasilnya. Dan sebagai sajak-sajak Indonesia, ada yang sangat menyenangkan: kejernihannya. Seperti menonton kembali hal-hal yang sering kita lihat setiap hari di jalan-jalan, setelah disulak dulu debu-debu di permukaannya:

manusia dengan kaki kotor
dan kemeja bersih di tengah asap

(“tiba di Jakarta”)

Martin sering menangkap sulawan-sulawan seperti ini. Seperti juga preman yang lebih “punya harga diri” daripada polisi di “Razia dekat Lembar di Lombok”, atau penjaga pura di Bali yang menuduh orang Jawa “kotor” kemudian “membungkuk … minta sumbangan sepuluh kali lipat dari yang biasa” (di “Pertukaran budaya”), atau Sri Sultan yang “Sekretarisnya komputer, kereta kencananya Mercedes” (Sri sultan sedang tidur (Bangsal Itu)”).

Kelihatannya ini yang dimaksud Goenawan Mohammad dengan “nada dasar … terpesona, … terbelalak” sajak-sajak Martin di komentarnya di sampul belakang. Tapi kurang tepat menyimpulkan nada (apalagi nada dasar!) sajak-sajak Martin sebagai sesuatu yang terpesona dan terbelalak. Yang sering diamati Martin, seperti dalam contoh-contoh di atas, adalah kemunafikan, anakronisme, mungkin keabsurdan poskolonial dunia ketiga yang kelihatannya lebih sering membuatnya nyengir, tertawa kecil (mungkin sekali dalam hati) daripada terpesona atau terbelalak, yang kemudian diungkapkannya dengan sulawan dan ironi yang nadanya cukup datar, deadpan (dengan muka tenang anggota-anggota Rammstein saat menghadapi panah api di panggung, khas orang Jerman?), dan tidak jarang lucu, membuat kita nyengir hehehe juga.

Goenawan membandingkan puisi-puisi “perlawatan”, “tualang” Martin yang terpesona dan terbelalak dengan Sitor Situmorang yang “terpekur”. Saya rasa kalau memang mereka harus dibandingkan, perbedaannya bukan itu. Sajak-sajak Sitor jauh lebih banyak “aku”-nya. Sajak-sajak tualang Sitor terasa sepi dan terpekur karena “aku” Sitor adalah aku si anak hilang yang memang sering merasa sepi dan terpekur:

—luka dalam pun terus menganga—
sayatan panah kenangan di dasar jiwa
bisikan purba, air dan langit Danau Toba.

“Sayatan panah kenangan” yang biasa saja mungkin, kalau saja ia tidak ditembakkan oleh angin danau Zürich! (“Angin danau Zürich” juga judul sajak ini.)

Sementara sajak paling terpekur dan sepi di buku Martin adalah sajak terakhir, “Surat musim gugur ke Bandung”, satu-satunya sajak (seperti yang diisyaratkan judulnya) yang tidak berlatar Indonesia, walaupun tetap tentang Indonesia juga, tentang betapa si aku merindukannya:

dalam gelap kamar-kamar jerman cahaya
selatan masih menyala

di mataku
aku buta

Apa si aku buta karena matanya becek dengan air mata? Atau kenangan-kenangan indah menyilaukan bersinar neon 100 watt?

Sitor terpekur dan sepi di tualang, sementara Martin sepi menangis sendirian di negeri, rumah, kamarnya sendiri. Itu perbedaannya. Itu bukan terus berarti selama tualangnya di Indonesia Martin kemudian selalu gembira, terpesona, terbelalak. Seperti juga saat Sitor mampir ke rumah, kesepiannya juga tidak terus langsung hilang:

gembira—barangkali—pulang
bingung mencari tanda-tanda asli
di tengah malam
asal semula.

(“Di pegunungan Tanah Karo (alam asal semula)”)

Tidak banyak aku lain di sajak-sajak Martin karena mungkin raison d’être mereka adalah ini:

hanya orang yang pernah menyaksikan ramainya arakan ke pura di hari raya
yang mengenal cahaya berkelip-kelip di tengah hijaunya padi muda
dan melihat warna langit di atasnya akan percaya pada lukisan-lukisan itu
bahwa burung-burung bunga teratai ikan-ikan selembut mimpi
penggembala itik dan perempuan di pemandian itu
sungguh ada dan cahayanya pun sungguh seperti itu

(“Perpisahan dari Ubud”)

Supaya orang-orang yang tidak pernah menyaksikan ramainya arakan ke pura percaya bahwa semuanya sungguh ada dan sungguh seperti itu, kelihatannya dalam detik-detiknya di Indonesia Martin memutuskan untuk melupakan aku-nya, mebuat sajak-sajaknya menjadi potret-potret Indonesia yang tentu saja sudah dia manipulasi dengan magic wand Photoshop Penyairnya, distort di sini, blur di sana, sharpen di mana-mana.

Semua orang yang berusaha mengekspresikan puisi yang dilihatnya di tanah asing mengalami kegalauan sama yang dialami Van Gogh di Nuenen, waktu dia memutuskan untuk menjadi perekam kehidupan petani. Van Gogh merasa dia harus melukis mereka seperti bagaimana mereka akan melukis mereka sendiri. Melihat dunia dengan kacamata mereka (atau tanpa kacamata, karena mereka terlalu miskin untuk membelinya!). Dengan obsesi inilah Van Gogh melukis Pemakan Kentang.

Dalam sajak-sajak Martin ada obsesi yang sama. Yang dia wujudkan dengan memberi tempat sebanyak mungkin pada suara-suara orang Indonesia sendiri (eg., “Ayu” di “percakapan di tengah macet lalu lintas di Menteng, Jakarta”). Dengan rendah hati meminjam suara-suara mereka, dan membuka hatinya pada apa sebenarnya yang terjadi di tempat-tempat yang dikunjunginya (Wonosari, Depok, Kebun Rendra, &c.)—kehangatan Martin (eg., “dan menerima semangkok / gado-gado yang / harum bumbunya mengisi hari / aku tidak memesan dessert / tapi ketika aku pergi tanpa pamit / dia berkata sampai bertemu besok” – “Gado Gado”) membuat saya jadi semakin sebal dengan V.S. Naipaul yang gelisah skeptis waktu dia datang ke Indonesia di Among the Believers dan nyinyir sinis waktu dia datang lagi untuk Beyond Belief—Martin berhasil membuat sajak-sajaknya terdengar asli tanpa kehilangan suaranya sendiri.

Mikael Johani tinggal di Ciledug, Tangerang, di atas jam 9 malam dari Gambir naik angkot C01, lima ribu sampai depan kompleks.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s