Yang hilang dalam Ellipsis

Ellipsis: poems and prose poems
Laksmi Pamuntjak
Jakarta: Pena Klasik, 2005
89 halaman

Buku kecil berwarna biru gelap berisi sajak dan sajak prosa bahasa Inggris Laksmi Pamuntjak ini mengejutkan karena saya tidak menyangka Laksmi bisa menulis seperti ini. Dia lebih terkenal (dan mungkin hanya di antara gastronomer Jakarta) sebagai penulis Jakarta Good Food Guide yang isinya terlalu banyak penyedap rasa. Laksmi lebih peduli menciptakan kembali suasana restoran, sehingga sering lupa memberitahu sebenarnya rasa makanannya seperti apa. Contohnya dia mengutip salah satu temannya yang setelah makan foie gras di Oasis langsung berteriak, “I thought I had died and gone to heaven!” (“Mati aku, dan sekarang aku di surga!”), sementara kita yang belum pernah ke surga tetap bingung rasa foie gras Oasis itu seperti apa. Karya terakhirnya sebelum ini pun mengecewakan, kumpulan terjemahan puisi-puisi Goenawan Mohammad ke bahasa Inggris yang kehilangan banyak kekuatan aslinya karena Laksmi terlalu banyak menerjemahkan maksud dan arti daripada gambar (eg. “and allow the globules of blood in the glass to mold” untuk “membiarkan gumpal darah di gelas itu menghijau” di “Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”—’menghijau’ mungkin maksud/artinya memang ‘mold’, menjamur, tapi dengan memilih kata ‘mold’, bukan ‘go green’ misalnya, Laksmi jadi kehilangan warna hijau itu).

Tapi anehnya, perhatian Laksmi yang besar kepada rekonstruksi suasana, seperti polisi yang mencoba merekonstruksi TKP seakurat mungkin, jadi hal yang menguntungkan di buku berjudul Ellipsis ini. Detail yang dikumpulkannya begitu banyak sehingga mereka akhirnya tanpa diminta pun menumpahkan artinya sebagai tanda terima kasih untuk kebaikan Laksmi memungut mereka sebelum lenyap: “… the break / of day from a moving train: / it leaks its sheen little by little, / as if from a level distillery; spreading sideways as opposed to top down, …” “pagi / dari balik jendela kereta / bocor rintik-rintik cahayanya / dari tong telentang / jatuh bukan ke bawah, ke samping malah, …” (“Night Train: Mid-March”), atau waktu dari balik jendela pesawat yang baru tinggal landas dari La Guardia dia melihat New York “… the city lies tall … a magic cathedral; all, seemingly, / within the span of a human hand.” “… kota itu, jangkung, … katedral ajaib; semua, sepertinya / muat di telapak tangan.”

Laksmi menulis tentang banyak tempat-tempat asing, dengan idiom asing (paling tidak, bukan Indonesia) pula (‘level distillery’—tidak dijelaskan metafora ini dari mana, yang jelas bukan dari pabrik anggur Cap Orang Tua) sehingga buku ini kadang terasa seperti Lonely Planet: Lyric Poetry, yang memuat ulasan tentang kota-kota yang membuatnya tergoda untuk mengambil pena dan menggubahnya menjadi sajak. Dari judulnya saja (banyak tempat lain di sajak dengan judul-judul lain yang bukan nama tempat, baik yang disebutkan maupun dirahasiakan): Vermont, La Guardia, Shanghai, Bourbon (New Orleans), Picasso Museum (Barcelona). Tentu Laksmi bukan penyair Indonesia pertama yang melakukan ini, dia hanya mengikuti jejak petualang-petualang lain, Sitor Situmorang, Rendra, Goenawan Mohammad. Yang membuat saya menanyakan hal tidak penting itu: tapi buku ini ditulis dalam bahasa Inggris, bisakah dia dianggap sebagai sastra Indonesia?

Tidak penting, kecuali kalau dalam sajak-sajak ini Laksmi, baik dengan bahasa, tema, ritme, jiwa, atau apapun, ingin menunjukkan keindonesiaannya. Kalau memang begitu, akan ada dua masalah, bagaimana menunjukkan keindonesiaan dengan bahasa Inggris, dan berhasilkah ia? Tapi kalau tidak, ya, tidak ada masalah. Kalau begini kita bisa tenang membaca buku ini dan menilai sajak-sajaknya hanya dari sisi estetika formal, seperti apakah bahasa(Inggris)nya bagus? Apakah dia berhasil menggubah kepuitikan yang dia lihat di La Guardia, di Vermont, di Bourbon, menjadi puisi yang bisa membuat kita merasakannya lagi?

Dalam soal bahasa, selain menggunakan kata ‘bubur ayam’, ‘rendang’, dan ‘wayang purwa’ tanpa dimiringkan seperti yang, misalnya akhir-akhir ini, dilakukan Monica Ali dengan patois Bengali di Brick Lane dan Rattawut Lapcharoensap dengan istilah-istilah Thailand seperti ‘luk’ di Sightseeing, mengeja nama Bisma, Salwa, Wisnu, Siwa, Krisna, Karna, Gayatri dan Amba dengan ejaan Indonesia, dan sekali menyebut Taman Ria, tidak begitu banyak keindonesiaan di 35 sajak di buku ini. Beberapa kali Laksmi menulis tentang ‘love motel’, satu puisi bahkan berjudul “The Love Motel”, dan ini adalah sesuatu yang (selain khas Spanyol, juga) khas Indonesia. Orang Jakarta menyebut tempat seperti ini antara lain sebagai Hotel Transit, dan perbuatannya sebagai ‘check-in’ (“Gila, check-in di situ murah banget ya!”, misalnya), tapi Laksmi memilih memakai idiom Inggris untuk menggambarkan tempat ini (dan yang halus juga, bukan yang lebih kasar, Fuck Motel misalnya, walaupun dia memakai kata itu sendiri, ‘Fucking’, di baris ketiga, mungkin karena dia ingin melihat yang indah di perbuatan yang kotor ini, mungkin karena ‘fucking’ tidak sepenting ‘love’: “Fucking came second on the agenda, …”, “Seks? Itu urusan nanti, …”). Ini bisa diinterpretasikan dua cara: dia tidak melihat kemungkinan untuk mengembangkan, paling tidak untuk dia sendiri, patois Inggris-Indonesia (Indonglish?) yang sekarang mungkin salah dan tidak idiomatik tapi menarik sebagai eksperimen dan mungkin di masa datang akan menjadi cukup kuat untuk menerobos masuk Oxford English Dictionary, seperti yang sudah terjadi dengan patois India, Karibia dan Singapura misalnya, atau dia melihat kemungkinan itu tapi memilih untuk menggunakan Inggris yang benar dan idiomatik tapi aman. Dan memang (untungnya!) menurut saya di antara penulis-penulis Indonesia lain yang menulis dalam bahasa Inggris, saat ini Laksmilah yang idiomnya paling terdengar alami.

Isi tentang Indonesia tidak banyak, yang paling menarik mungkin di “The Love Motel” waktu pasangan yang sedang check-in di cerita ini (bentuknya sajak prosa 4 paragraf) keluar makan bubur ayam dan menemukan “… wedged between the parsley, the spring onions and the fried shallots was the omelet (sic), rolled and sugared like tamago. Though they were suckers for Chinese food, they were both Javanese—quick to appreciate sweetness in unexpected places.” “… di antara seledri, daun bawang, goreng bawang: telur dadar, digulung dan digula seperti tamago. Mereka paling senang Chinese Food, tapi mereka juga Jawa—suka yang manis-manis, apalagi yang tidak seharusnya.” Ada juga sajak prosa tentang rumah lamanya, “Home” (yang menyebut ‘rendang’), cerita Amba di Mahabharata (“After Bisma Defeated Salwa”), sindiran tentang tamu pesta kawin (‘all 1,400 of them’, di “Lives”), dan kritik tentang jilbab (“so clearly a mock skin that belies / what simmers beneath.” “jelas hanya kulit palsu yang membungkus / yang mendidih di baliknya.”) di “Woman Child” yang juga menyebut ‘Taman Ria’ dan ‘wayang purwa’ tadi, tapi mereka pengecualian. Kelihatannya memang lebih baik, paling tidak untuk sementara, untuk meninggalkan masalah keindonesiaan sajak-sajak ini dan memeriksa estetika formalnya lagi.

Bicara tentang estetika formal, bentuk, bahasa, tema, etc., tentu kita harus bicara tentang pengaruh. Tersangka pertama adalah Sylvia Plath, bukan hanya karena salah satu sajak di sini berjudul “Afternoon of the Petunias: An Ode to Sylvia Plath” “Bunga-bunga Petunia Siang Itu: Oda untuk Sylvia Plath”, tapi juga karena gaya Laksmi mirip. Banyak menyebutkan bunga, ‘verbena’, ‘magnolia’, ‘petunia’, ‘begonia’, ‘jasmine’ dan menjelaskan anatominya; banyak menyebut warna ‘blue’ (warna duka?) bahkan “the slate blue of / de Chirico” “hijau biru de Chirico” (“La Guardia …”)—Plath menulis paling tidak dua puisi “Conversation Among the Ruins” dan “The Disquieting Muses” diinspirasi oleh/tentang lukisan de Chirico berjudul sama; banyak menggunakan nada kalimat, seperti nada di baris-baris sajak Plath, yang sering terdengar ingin membuka obrolan, pernyataan yang kemudian diikuti pertanyaan ragu-ragu, eg. “Heaven’s palette, Louisiana kitsch, Vasculum. In which order?” “Palet surga, kitsch Louisiana, Vasculum. Mana dulu?” (“Box”); banyak mengabsen nama dewa-dewi Yunani Kuno (walaupun ini biasa di penyair-penyair Anglo-Saxon lain, angkatan manapun), ‘Artemis’, ‘Hades’, ‘Hera’, ‘Athena’, ‘Aphrodite’, dan beberapa manusia biasa (sekalipun mitos), ‘Antigone’, ‘Creon’, ‘Helen’ (dua kali).

Secara visual, pembagian stanza vers libre Laksmi lebih acak daripada Plath yang mengatur jumlah baris dalam tiap stanzanya dengan sangat ajek. Pengaturan visual sajak-sajak Laksmi lebih mirip, misalnya saja, dengan sajak-sajak prosa Goenawan Mohammad.

Kebanyakan sajak di kumpulan ini ingin saya sebut sebagai sajak lirik duduk-duduk, sajak lirik yang idenya muncul waktu penceritanya sedang duduk-duduk (adakah yang ditulis saat itu juga? Dalam Moleskine yang menolak duduk anteng di atas paha?). Sekedar contoh, di kereta malam, “Night Train”, dua kali, “Mid-January” dan “Late March”, dan “In the Train, Like Before”); di kafe, “Two Women Sitting at a Window Table in a Café”—di mana Laksmi duduk? Meja di sudut?; di bandara dan dalam pesawat, “La Guardia One Blue Saturday Afternoon”; di Picasso Museum, dua kali juga, “11 am at …” dan “4.30 pm at …”). Kemudian, sambil sesekali mencontek catatan di tumpukan Moleskinenya dia berceloteh tentang segala macam hal yang tadi berhasil dia amati dari kursinya. Seperti yang sudah saya katakan, Laksmi cukup berhasil merekonstruksi tempat-tempat yang dia lihat itu dengan kumpulan detail seperti laporan pandangan mata wartawan gonzo (mungkin dia harus ganti Moleskinenya setiap beberapa hari!). Contoh yang bagus, ya, cuplikan dari “La Guardia …” di atas tadi: puisi yang hampir saja terjebak menjadi apa yang pernah dijelaskan Pound kepada Eliot sebagai ‘hanya fotografi’, diselamatkan oleh komentar pendek “semua … muat di telapak tangan”, yang menjadi caption mengharukan untuk potret panorama kota New York dan pesawat-pesawat yang sedang menunggu di landasan. Caption ini pun tempatnya pas, di stanza terakhir setelah pesawat (yang ditumpangi penceritanya) tinggal landas. Laksmi menjadikan saat dia menyadari apa arti semua yang dilihatnya itu sebagai puncak sajak, menempatkannya pas di puncak iramanya, pas saat pesawat naik meninggalkan banalitas di darat. Di sajak ini kepuitikan yang dilihatnya (di bangku plastik keras La Guardia!) berhasil diceritakannya kembali kepada pembacanya.

Kebanyakan sajak lirik bercerita tentang kehilangan, begitu juga sajak-sajak Laksmi (judul bukunya saja Ellipsis!): kehilangan tempat tinggal tetap (“Home”, “The Dough of You”, dan saya curiga semua petualangan keliling dunia Laksmi adalah usaha untuk mencari rumah baru, atau paling tidak untuk mengobati kehilangannya), dan kehilangan kekasih (“The Bed Last”, “Love is Like a Bruise”, “The Love Motel”—walau yang terakhir ini berakhir dengan seorang wanita yang, kalaupun dia tetap belum menemukan rumah maupun kekasihnya yang sebenarnya, akhirnya paling tidak menemukan siapa dirinya sebenarnya).

Kalau melihat apa yang ingin dia bicarakan, Laksmi terasa sangat dipengaruhi oleh para penyair pengakuan. Penyair yang menjadikan semua tentang dirinya, hidupnya, keluarganya, dosa-dosanya, sebagai subyek utama. Setiap sajak adalah bilik pengakuan. Plath salah satunya juga, dan, yang membuat memamerkan borok sendiri (dan keluarganya) pertama kali jadi hip dengan Life Studies, Robert Lowell. Sajak-sajak seperti ini (tapi hanya yang berhasil) mengejutkan kita dengan keberaniannya untuk jujur, karena tidak seperti di bilik pengakuan, sebuah sajak pengakuan bisa didengar siapa saja. Kelemahannya tentu saja kalau si penyair terus-terusan terobsesi memamerkan dosa-dosanya, dia akan kehabisan dosa untuk diakui (dan apakah dosa selalu menarik?) dan membuat kita bosan dengan obsesinya untuk mengakui dosa-dosanya (satu dosa tersendiri juga!).

Ada dua pengaruh langsung Lowell yang bisa dilihat jelas di Ellipsis, satu, sajak prosa panjang (15 halaman) berjudul “Lives” mengingatkan saya tentang lives di “91 Revere Street”, selingan prosa panjang tentang rumah masa kecil Lowell di Life Studies. Dua, permainan kata ‘blue’ beruntun di “La Guardia …” (“blue collar confessional. / Topaz blue, cornflower blue, the slate blue of / de Chirico …” “pengakuan kerah biru. / Biru topaz, biru Bunga Jagung, hijau biru de Chirico …”) mirip dengan yang dilakukan Lowell di “Father’s Bedroom” (“blue threads … blue dots … blue kimono … blue plush straps.” “benang biru, bulatan biru, kimono biru, tali [sandal] biru.”), juga di Life Studies.

Pengaruh Plath yang langsung seperti ini juga ada. Dua sajak “Picasso Museum” Laksmi mengingatkan saya akan “All the Dead Dears”, yang ditulis Plath tentang Museum Arkeologi di Cambridge. Ketiga-tiganya merenungi benda-benda mati yang dipamerkan di situ dan ketiga-tiganya diakhiri dengan munculnya waktu, ‘clock’ dan ‘4.30’ di sajak(-sajak) Laksmi dan “tick / And tack of the clock”, “tik / dan tak jam dinding” di sajak Plath, yang mengingatkan penceritanya akan kematian itu sendiri.

Selain itu, penggunaan waktu di kedua judul sajak “Picasso Museum” Laksmi (“11 am” diikuti oleh “4.30 pm”) adalah sesuatu yang pernah juga dilakukan Plath dengan “Monologue at 3 a.m.” dan “The Surgeon at 2 a.m.” Tentu penyair-penyair lain dari manapun dalam bahasa apapun sering juga memakai waktu dalam judulnya, tapi kalau Laksmi menulis odanya untuk Plath karena dia memang senang dan sering membacanya maka pencopetan-pencopetan kecil seperti ini sangat mungkin terjadi, bahkan secara tidak sadar. Tidak apa-apalah, seperti kata Wilde, “Genius steals!” Kita hanya perlu memastikan bahwa kita tahu kemungkinan pengaruh ini, karena Laksmi memilih untuk bekerja di bawah payung tradisi Barat dan kita, pembacanya di Indonesia, harus berjaga agar dia tidak puas berteduh, apalagi sampai bersembunyi, di situ. Jangan sampai rusuh Rendra-Lorca terulang lagi. Ribut-ribut oh, ternyata, betapa besarnya! pengaruh Lorca pada Rendra tidak perlu terjadi seandainya kritikus sastra Indonesia tidak terburu-buru memuji Rendra seakan-akan dia anak ajaib yang jatuh dari langit baru kemudian jingkrak-jingkrak, jenggot terbakar malu sendiri saat kemudian menyadari betapa kental darah Lorca dalam nadi Rendra.

Ada perbedaan yang (mungkin) mendasar antara sajak-sajak Laksmi dan sajak-sajak pengakuan yang berhasil. Di “Afternoon of the Petunias” (oda Laksmi untuk Plath) tertulis bait ini, “Keeping mum: isn’t that what this means?” “Bungkam: bukankah itu arti semua ini?”, sementara mantra sajak-sajak pengakuan justru bicara, bicara dan bicara. Borok bernanah seperti apa yang ada dalam hidupmu? Pamerkan!

Pernyataan Laksmi yang terakhir ini bisa diinterpretasikan dua cara juga: satu, dia sedang melakukan otokritik terhadap sajak pengakuannya, karena dia sadar Plath pun pada akhirnya (setelah Ariel kira-kira) kehabisan subyek untuk dibicarakan. Dia hanya mengulang-ulang motif dan tema yang sama, kematian, kematian, kematian. Dan mengulang-ulang diri sendiri bukankah sama saja dengan diam? Laksmi (mungkin) sadar dengan kemungkinan ini di sajak-sajaknya sendiri dan karena itu dia mengakuinya. Atau, dua, Laksmi salah mengerti raison d’être Plath dan Lowell dan penyair-penyair pengakuan lainnya dan memutuskan bahwa semua sajak pengakuan, baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil, akan berakhir sebagai obsesi tentang diri sendiri dan karena itu tidak ada salahnya juga bicara, bicara, bicara dan menyumpal mulut dengan kata-kata sendiri (wong tidak akan ada yang peduli juga kok, siapa tahu ini kebisuan yang enak).

Kalau hanya melihat sajak-sajak yang dimuat di Ellipsis ini, kelihatannya jawaban kedua lebih benar. Pada akhirnya membaca sajak-sajak di Ellipsis menjadi membosankan karena walaupun Laksmi berpindah-pindah tempat dan waktu tapi semua sajaknya selalu berbentuk keluhan; kira-kira setelah sajak ke-9 di kumpulan ini, “The Bed Last”—tentang sebuah kamar hotel (nanti diulangi lagi di “Hollow” dan “The Love Motel”), kita sudah tahu Laksmi itu seperti apa dan kira-kira nanti kalau dia pergi check-in lagi misalnya, keluhannya akan bagaimana. Chairil Anwar pernah bilang bahwa “pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman” adalah “percintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan”. Di Ellipsis ada percintaan (banyak), kelahiran (di sajak-sajak tentang anak, “Silent Prayer for My Daughter on Her 9th Birthday”, “by the recovery room”—diakhiri dengan bayinya mati, “A Tiny Seed”) dan kesepian (“Ellipsis” dan hampir semua sajak yang ditulis di perjalanan), tapi berulang-ulang terharu di kumpulan ini tidak diikuti dengan berulang-ulang menciptakan cara baru untuk mengungkapkan keharuan (yang berulang-ulang!) itu.

Buku ini perlu lebih banyak kematian. Ada, dia ada, tapi dia muncul terlalu indah, tidak berbau busuk, tidak terasa seperti mati, seperti maskara hitam di muka segar merah muda. Seperti Goenawan Mohammad, Laksmi juga punya semacam sentimentalisme untuk keindahan, obsesi patologis untuk mencari keindahan di kesedihan yang paling dalam sekalipun, ada, ada, pasti ada kalau kita mau melihatnya, kebiasaan yang berguna untuk seorang penyair tapi bisa juga menjadi kacamata kuda yang membuatnya tidak bisa melihat, apalagi merasakan, penderitaan (karena penderitaan itu juga indah).

“And so you nod / and fold your wings / neatly, like / a napkin laid aside. Welcome back, death.” “Dan kau mengangguk / melipat sayapmu / rapi, seperti / serbet untuk nanti. Mati, kau datang lagi.” (“Words”.) Saya kira penggambaran kematian yang indah, bersayap rapi seperti serbet di sini lebih dari sekedar ironi, kelihatannya Laksmi memang melihat kematian sesopan dan setidakberbahaya itu. Ini salah satu contoh bagaimana sentimentalitas untuk keindahan di buku ini benar seperti yang digambarkan Wallace Stevens, “Sentimentality is a failure of feeling.” “Sentimentalitas adalah kegagalan merasakan.”

Untuk itu saya usul, Laksmi, lirik lagi keindonesiaanmu. Tinggalkan pastiche Plathmu. Sudah terlalu banyak penyair yang mencat sajaknya dengan haru hijau biru de Chirico. Kalau memang kamu akan terus menulis sajak dalam bahasa Inggris, turuti nasihat il miglior fabbro itu, Pound, buat sesuatu yang baru, yang belum pernah dibuat orang lain. Seperti pelacur-pelacur yang memilih bule di untaian fuck motels khatulistiwa kita, juallah keetnikanmu! Barat (paling tidak bahasa Inggris) masih buta tentang itu. Dan mungkin juga dengan mulai memperhatikan Indonesia yang tidak sering kamu kunjungi di buku kecilmu ini mungkin kamu akan menemukan hal-hal baru yang tidak bisa kamu lihat dari balik mejamu di sudut gelap kafe itu, dan bayangkan, mungkin juga kamu akan menemukan cara-cara baru untuk mengungkapkan keharuanmu. Bungkam: bukan itu lagi artinya! Menarik bukan (paling tidak) kalau misalnya kamu justru menulis “the slate blue of the South Sea”, dengan alusi Nyai Roro Kidul dan Nyi Blorong! Baru, dan bahkan, seperti juga banyak hal lagi yang bisa kamu temukan di Indonesia, lebih berbau kematian (menyan!) daripada seribu kanvas de Chirico.

Mikael Johani tinggal di Ciledug, Tangerang. Tidak giat di komunitas manapun.

Advertisements

2 thoughts on “Yang hilang dalam Ellipsis

  1. HAHAHA…UNTUNG TUH “KRITIKUS” PAKISTAN YANG NULIS DI THE HERALD SKOTLANDIA GAK BACA RESENSIMU INI! BISA MALU DOI!!! HAHAHA…SILVIA PLATH, EH!I LOVE DEAR OLD SILVIA, FUCK HIS JEALOUS HUBBY THE STUPID WODWO MAN, HEHEHE… SOME POET LAUREATE TOO, EH!LAKSMI? HM… TO BOURJOIS FOR MY TASTE!!!HAHAHA…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s