Like Death

Like a simple death the shadow of a clock tower stretches slowly to the village square.

In the last quarter of an afternoon a man lies with his back to the sun and listens for the blackbirds returning to the hills in the distance.

Arrest dusk in windows before the sky goes limp and the season goes sour.

Above everything: tian, en couleur locale, streched taut, old and square, runs a ring around this mortal coil.

– Goenawan Mohamad, Kompas, 23 October 2005. (a kind of draft.)

IN JAKARTA, DAAR IS PAS CULTUUR!

Pada suatu malam aku pergi ke Kota untuk menonton sebuah festival
wayang. Di situ aku melihat bayang-bayang Inul dan pantatnya yang
ngebor, diiringi dram TAMA, gitar YAMAHA, dan bas yang tak jelas
mereknya apa. Blencong di situ telah dilistrikkan tapi apa daya PLN
benci peristiwa budaya yang listriknya suka ngemplang, yang disubsidi
pula dan sudah seratus tahun kemurahan. Byar! Pet! Exeunt anak-anak
kecil yang menangis dan ingusan dan orang tua-orang tua yang kelelahan.

Aku sendiri menumpang Kangjeng Kyai Garudo Yekso ke Galeri Nasional yang
tengah malam pindah ke Matraman. Duduk mepet di kanan dengan kaki
disilangkan, biar tersisa tempat untuk Ratu Kidul yang suka kangenan.
Galeri sudah tutup jadi tak ada yang bisa kulakukan kecuali santai saja
berjalan menembus dindingnya yang sudah lama tak dibersihkan. Di dalam
selasar pameran yang penuh bau cu ada kulit kuda yang menggembung jadi
bantal, kubus mulus berisi dua gadis di sebuah taman impian, dan OK,
video instalasi yang sumpah begitu membosankan.

Aku terbang saja ke sebuah teater bawah tanah yang biasanya dibuka
dengan menggebuk gong di depan. Penggebuk gongnya sudah lama pulang jadi
aku gebuk saja sendiri, DONG! Di dalam anak-anak kinclong telah
berdesakan. Puisi-puisi yang dibacakan, pembacaan yang dipuisi-puisikan.
Seorang buruh iklan berkaos Belle & Sebastian menggelincir zig-zag di
lantai yang hitam berkilauan. Mungkin dia hanya ingin berjalan di tempat
sambil memberi hormat tapi apa daya lantai itu telah menjelma jadi
danau es dan teater itu menyuguhkan komedi romantis kacangan. Sajak itu begitu
membosankan, kaki-kaki itu melesat begitu menakjubkan!

Kupinjam saja kakinya untuk berselancar ke Kelapa Gading. Kompleks ruko
yang penuh dengan tempat pelacuran, dan satu studio post-production
penuh laki-laki yang belum pernah pacaran. Di situ mereka sedang
mengedit sebuah film “yang membicarakan secara terbuka seks dan
obat-obatan di kalangan post-adolescence [italics not mine] dan tanpa
penghakiman.” HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! BAHKAN KUTIPAN INIPUN BERRIMA MURAHAN! Not to mention ditulis dengan semangat baja mendukung industri film sebuah negeri antah-berantah yang seperti Indonesia tapi bukan Indonesia. Yang berantakan. HAHAHA! Oke deh Eric-san!

Aku pikir sekarang bagaimana kalau mengakhiri subuh dengan menonton di
megaplex yang penuh dengan ABG-ABG setan? Ide bagus teman! Let me see,
di situ ada satu film Kim Ki-duk yang mengharukan dan enam ratus enam
puluh enam film horor Thailand. So much for your promise of
enlightenment thou grand bourgeois tenant! Jariku mengambang di atas
layar touchscreen yang menawan, lalu kupencet hidung si usher yang
menyebalkan.

Setelah merapel turun ke lantai bawah secara menunggu lift di Grand
Antah-Berantah ini bakal selalu kelamaan, aku mengobati kepala yang
pening karena terlalu banyak kebudayaan dengan secangkir maKKhiato
doppio yang dikoreksi si barista menjadi maCChiato, strong coffee lho!
Ya, itu satu, dan satu kursus kilat bahasa Itali dengan Profesor Ostelio
Remi di Instituto Kuningan! To go!

Kenapa, JKT KDG-KDG BGT MNYBLKN? Kenapa pagi yang mekar seperti kelopak-kelopak
mawar harus dibungkus halaman-halaman sastra koran? Kenapa Minggu ini
persis sama dengan Minggu kemarin dan Minggu depan? Kenapa heran? Kalau
UNESCO tak keberatan, Borobudur pun akan mereka pindah ke Sudirman. Aku
yang philistine, atau memang Hasif et al. yang sialan?

Stadion utama hidup ini

soal tak mau apa apa itu pastinya tidak seluruhnya benar. mereka ingin sedikit lebih bahagia. seperti menonton tv dan ingin receptionnya sedikit saja lebih jelas lagi, seperti ingin channelnya nambah ya paling tidak RAI-lah, atau seperti ingin serabi yang plain saja tapi diterbangkan dari solo pagi ini. atau seperti ia ingin menulis seperti lorrie dan ia ingin berkelana seperti vollmann. tapi dalam skala negara yang berlomba lomba bahagia ini mereka sering merasa mereka tak ingin bangun terlalu cepat hanya untuk nyolong start. soal tak mau apa apa itu pastinya tidak seluruhnya salah. ia hanya ingin berlari dan ia hanya ingin diam, pasangan yang cocok untuk sebuah simple life bukan? ia hanya ingin sendiri dan tidak ditelpon pacar dan ia hanya ingin sendiri dan tidak ditelpon pacar. ia hanya ingin sendiri dan ia hanya ingin seseorang yang ingin sendiri sekali sekali. dan mereka ingin berjalan satu sore mengelilingi stadion utama senayan lambat lambat seperti layaknya orang jawa, bergandengan tangan mungkin juga tidak bergandengan tangan toh hidup mereka sudah tak bisa dipisahkan lagi walaupun kadang kadang itu yang mereka inginkan. sekali sekali. dan mereka akan berhenti untuk duduk sebentar di trotoar, memesan teh botol, dua, kemudian ia akan berdiri dan mengulurkan tangan dan ia akan menangkapnya atau ia akan mengulurkan tangan dan ia akan menangkapnya dan soal tak mau apa apa itu soal apa itu tadi?

What you want to do you want to dowanttodofineinene

kadang ada siang waktu moodnya tak lagi lorrie maupun vollmann. maupun lorrie vollmann. hanya lagu kawinan, kipas kayu yang berbau menyan. tentu saja tak bisa mengusir panas di pantat yang berkeringat dari jarik yang terlalu ketat. dan selalu selalu selalu kalau melankolia ini sudah sedemikian parahnya dia membayangkan kawinan itu adalah kawinannya, dengan seorang sahabat yang sama-sama hanya menganggap semua ini adalah permainan yang tidak bisa tidak diledakkan. mereka akan sama sama duduk di kursi hadirin, keras, merah, melihat ke mata masing masing yang lelah, keringat di sela sela sinomnya yang merimba, di ujung hidungnya yang terlalu lebar, dan tidak tertawa. tidak pula sedih. saling mengerti saja. hidup ini susah dan kita tak mau apa-apa. hanya sebuah permainan yang meledak sebentar, salaman yang hambar, cium pipi kiri kanan, kewajiban yang menyenangkan. toh besok mereka hanya akan nongkrong di kamar, memandang selèpan yang seperti danau garam, dengan bau kenangan yang melaju bersama truk truk dyna di depan.

kritisisme sinisisme

halo melissa,

kalau memang topik artikelmu “those who can’t, teach” yah mungkin seharusnya jawaban gue tadi adalah justru itu masalahnya, banyak kritikus film Indonesia (bukan sinemaindonesia!) yang menggunakan tempat yang disediakan untuk mereka untuk itu tadi “teach”, benar2 menggurui. di review leila s. chudori tentang banyu biru di tempo misalnya, dia panjang lebar menjelaskan sejarah magic realism itu apa dan bagaimana (yang mungkin juga cuma dia google aja). itu tidak perlu. kritik2 eric sasono juga misalnya yang menang piala dkj untuk kritikus terbaik, walaupun lebih dalam mencelupkan penanya dalam isi film itu sendiri tetap saja sering membahas panjang lebar tentang teori2 film textbook yang seharusnya tidak muncul di halaman2 untuk pembaca umum. tapi ini mungkin ada hubungannya dengan sejarah halaman2 review dalam media2 indonesia yang memang sudah dari dulu ditongkrongi oleh teoris2 garing.

menurut gue tugas seorang kritik adalah pertama menganalisa. seperti kamu bilang tadi, seniman berjiwa halus etc. dan menggunakan perasaan untuk berkarya. nah, tugas kritiklah untuk menggunakan otaknya dan memeriksa, perasaan macam apa yang coba dituangkan oleh si sutradara/penulis scenario/sinematografer etc. dalam filmya dan apakah berhasil. apakah ada ambivalensi antara apa yang ingin dia utarakan dan apa yang akhirnya berhasil dia utarakan? atau mungkin juga dia berhasil mengatakan sesuatu yang tidak ingin dia utarakan? secara tidak sadar?

banyu biru itu misalnya. perasaan yang ingin disampaikan di situ kelihatannya simpel saja bukan, tora sudiro merasa dibuang oleh bapaknya slamet rahardjo, kenapa? terus kemudian apa perlu tora melakukan road trip bertemu berbagai karakter yang nggak jelas siapa dan apa maksudnya sebelum dia berhasil ketemu bapaknya? kalau misalnya poinnya adalah betapa susah mendapatkan penjelasan dari seorang bapak, apa memang mengungkapkannya dengan cara begitu, memusingkan jalan menuju kepadanya, adalah jalan yang paling efektif? atau sebenarnya semua itu hanya untuk memuaskan ambisi magic realist rayya makarim dan teddy surya?

kritik juga sebuah karya juga. jadi jelas, pasti dia akan berusaha untuk bercantik2 juga, kalau di sinemaindonesia mungkin kadang2 ada godaan untuk menulis jokes hanya karena ada adegan di sebuah film yang memberi kesempatan untuk membuat jokes itu. ini jangan dianggap terlalu seriuslah. kan itu juga sebuah gaya kritik tersendiri yang memang tidak terlalu banyak ada di media besar Indonesia, aneh juga, seakan2 begitu kita menulis buat kompas atau tempo kita harus garing, padahal lihat saja anthony lane dan david denby di the new yorker atau mark steyn di the spectator atau joe queenan di mana2. dan jangan lupa, kritik2 film lama di Indonesia jaman dulu oleh umar kayam, usmar ismail, asrul sani, etc.

menurut gue kemunculan sinemaindonesia sendiri alami saja. musik sudah lama punya deathrockstar, buku/sastra sudah banyak sekali dibahas di berpuluh2 milis, film pun sempat punya layarperak.com, walaupun ini kelihatannya akhirnya diisi oleh penulis2 yang ditolak di kompas. (saking seringnya menulis di layarperak, eric sasono akhirnya ditarik juga untuk menulis di kompas oleh editor filmnya, jb kristanto yang menulis katalog film Indonesia.)

kelihatannya semua bentuk seni di Indonesia sekarang sedang lahir kembali, musik indie, film indie, sastra indie, whatever, natural selection juga, banyak seniman2 tua yang baru saja mati, pramoedya, mochtar lubis, dan tentu yang sudah lama tidak produktif tapi kok ya nggak mati2 juga. dan tentu saja pas saat2 seperti sekarang banyak salip2an antara seniman tua yang nggak mau nyerah dan seniman2 muda yang ingin memaksa mereka untuk nyerah (atau mati).

kritik film di tempo dan kompas masih didominasi nama2 lama, leila s., akmal ns basral (yang walau namanya baru tapi sudah tua), jb kris, baru eric sasono aja yang agak muda walaupun gayanya cukup tua. masalahnya, beberapa film2 indonesia sekarang ini, contoh yang paling bagus realita, cinta etc., mulai dibikin oleh anak2 dari angkatan yang lebih muda. yang besar dengan menonton dvd2 bajakan, bukan cuma film2 hollywood di 21. bisakah leila s. menikmati realita, cinta, etc.? bisa saja, ya, tapi sedekat apakah dia pada dunia realita, cinta & rocknroll anak2 muda itu? contoh satu saja, rambut vino g dan the other guy, mungkin leila s. akan melihatnya sekedar sebagai ‘rambut punk anak muda’ sementara kita mungkin bisa lebih asyik berspekulasi apa mereka potong di firman atau potong sendiri di tangga belakang parc?

film juga kan bentuk seni yang paling merakyat, tidak semua orang sempat setiap kamis malam ke thusrday riot tapi hampir (hampir) semua orang di indonesia pada akhirnya akan punya kesempatan untuk menonton ya contohnya realita cinta etc. tadi. makanya di message board sinemaindonesia bisa dilihat orang2 dari berbagai macam daerah, tidak terlalu jakarta sentris misalnya dibandingkan dengan deathrockstar yang jakarta-bandung pp. saja, dan itu masalahnya sederhana, band tidak bisa bergerak secepat film.

sinemaindonesia juga bagus karena kelihatannya penulis2nya berusaha untuk tidak terlibat dalam industri film itu sendiri. seharusnya begitu. sederhana saja, supaya tidak ada kesungkanan atau kenggakenakan harus mengkritik teman sendiri. ini problem lama di Indonesia, bukan hanya dalam kritik film. di buku katrin bandel, sastra, seks dan perempuan, ada esei bagus tentang bagaimana kritik sastra yang diterbitkan di koran2 indonesia biasanya juga ditulis oleh sastrawan2, paling tidak orang2 yang memang gaul dengan sastrawan2 yang dikritiknya. yang menimbulkan dua problem, ada godaan besar untuk jadi tidak obyektif, baik untuk memaki2 lawan maupun memuji2 kawan, dan obrolan2nya jadi insular banget sehingga sulit dimengerti pembaca biasa yang nggak tertarik2 amat mengikuti hubungan pribadi di antara mereka tapi ingin tahu buku baru itu bagus atau nggak atau paling tidak seperti apa kira2 sesuai dengan seleranya atau tidak. kritik film juga spt ini. eric sasono juga membuat film pendek, leila s. menulis ftv dan terlibat di lentera merah kalau nggak salah, etc. bahkan kritikus film yang diam2 bagus, garin nugroho sendiri, bisa dibilang adalah salah satu sutradara terbaik yang pernah muncul dari ikj. sementara misalnya di prancis thn 60-an sutradara2 nouvelle vague dikritik di cahiers du cinema dan beberapa dari kritik itu, andre bazin misalnya (dibahas di film animasi richard linklater waking life) tak pernah membuat film tapi teori2 dan kritiknya, misalnya tentang total cinema atau kritik yang simpatik (yang mengkritik sebuah film sebaiknya kritik yang cukup suka film itu) diakui sangat membantu kerja sutradara2 tadi.

makanya gue kemarin mungkin keceplosan ngomong bahwa sinemaindonesia itu adalah suara rakyat. sebenarnya mungkin tidak terlalu baik menganggapnya begitu. beberapa reaksi dari pembuat film tentang sinemaindonesia kelihatannya menunjukkan bahwa mereka memang menganggap sinemaindonesia itu sebagai gerundelan penonton yang nggak pernah puas saja dan mereka bahkan merasa tidak perlu membacanya (katanya riri riza bilang begitu). kalau memang begitu betapa menyedihkan! bacalah review2nya. gue rasa hampir semua review2 di sinemaindonesia cukup cerdas menganalisa apa kelemahan dan kelebihan film2 akhir2 ini. dan jujur. mungkin kalau miles&co. membaca sinemaindonesia dan apa yang sering kita keluhkan tentang kecenderungan jelek film2 yang mencoba bercerita tentang kehidupan anak muda, mereka tidak akan menghasilkan garasi. i mean, kalau sampai riri riza merasa tidak perlu membaca kritik tentang garasi, wah, delusional sekali.

jadi menurut gue kritik adalah pekerjaan serius. justru mungkin tidak seharusnya dilakukan oleh ‘those who can’t make movies’, karena yang kaya gini seperti yang bisa dilihat juga di message board sinemaindonesia cenderung mempermasalahkan hal2 nggak penting seperti boom bocor, kalibrasi warna yang kurang apalah. justru mungkin sebaiknya dilakukan oleh orang2 yang ambisi terbesarnya dalam hidup ini cuma menonton bulan tertusuk ilalang di wijaya 21 kursi j15.

p.s. gue nggak suka dengan pembaca2 yang bilang di message board si “wah makasih si, untung gue sebelum nonton baca si dulu, ngak jadi buang duit deh, thanks!” tidak dibodohi oleh review2 menyanjung ala leila s. tidak berarti terus langsung percaya aja review lain. itu sih jadi sama bodohnya. mungkin itu justru kenapa orang kadang2 takut dengan review2 sinemaindonesia, karena mereka malas mikir sendiri dan takut orang2 lain juga begitu. padahal kan nggak semuanya begitu juga.

jakarta, 20 something and 5

O, Y Control

Tiba-tiba aku ingin menulis tentang Banda Aceh. Tentang debu yang beterbangan, kantong plastik dingin berisi ikan, dan muadzin yang bertengkar di jalanan. Who can control what you think, man?

Tentang tiga jam di kedai kopi yang berisi pria-pria tua bersafari, seorang backpacker lokal yang ragu-ragu mencomot roti kaya dari piring plastik, dan pasangan yang menjaga jarak di bangku depan. Why control, man?

Sebenarnya banyak yang ingin kutulis long weekend ini, tentang Paris, Je T’Aime yang biasa-biasa saja kecuali cerita tentang Miranda Richardson bermantel merah dan seorang Daniel Auteuil lookalike yang,

Ingin kujelaskan padamu, itu semua karena di mataku semua aktor Prancis tampangnya seperti Daniel Auteuil. Mereka semua memang Daniel Auteuil. Tentang Wicker Man yang mengejutkan, dan 3-Iron yang,

Ingin kuteriakkan pada semua orang, puts all these nouvelle crap Indonesian movies to shame. Simple as. Tentang trailer 3 Hari Untuk Selamanya yang kampungan. Tentang Jakarta yang,

Dibanding Seoul paling tidak, masih sebuah desa yang ramah dan penuh orang. Sulit untuk menjadi sendiri di megalopolitan yang kerdil ini. Tentang pintu-pintu terkunci yang ingin kau masuki dan pintu-pintu yang kau kunci

Dan dalam hati kau mengharap, suatu hari kau akan meminta seseorang untuk membuat duplikat kuncimu di warung Stempel Ujang. Semuanya ini runtuh seperti tebing di Puncak Pass dan yang tersisa sekarang hanya

Ini, sebuah keinginan untuk mengingat tentang kota dengan jalan-jalan lebar, menahan pintu labi-labi dengan dengkul yang memar, dan berjalan-jalan sendiri di selasar pasar. Jadi untuk apa menunggu?

Apakah ada gunanya berpikir apakah ada gunanya bertanya apakah ada gunanya menulis semua ini seperti Afrizal? Dia selalu menulis tentang ikan, sesuatu yang meledak dalam badan, dan buah-buahan yang berair

Di mata pacar. Mungkin aku seharusnya mencukur habis rambutku, supaya ide-ideku bisa keluar, tidak mampat di selokan. Selokan di dalam kepalaku tentu, yang bermuara di telinga, sehingga sering becek waktu kau masukkan

Kelingkingmu ke lubangnya. Seperti itu. Mungkin benar adanya apa yang dikatakan bosku malam yang syahdu, paling tidak untukku, itu. Omonganmu terlalu sering nyebrang, dan itu hanya membuang waktu. Kalau dia salah,

Tentu sekarang halaman ini sudah penuh dengan debu yang beterbangan, kantong plastik dingin berisi ikan, dan muadzin yang bertengkar di jalanan. You need control man.