(Tak Berjudul)

Diayun deru angin embun putih di pucuk-pucuk rumput musim gugur lepasbagai mutiara dari tali kalungnya. Keterak angin, bun putihing pasuketan mangsa ketigasumyur kadya pedhoting kalung. Bunya No Asayasu, dari versi Inggris Kenneth Rexroth di One Hundred Poems from the Japanese, New Directions, 1955, hal. 13. Terjemahan bahasa Indonesia oleh Mikael Johani, basa Jawa oleh IsContinue reading “(Tak Berjudul)”

Puisi Porno

Tujuh perwiraKuba dalampengasinganmengerubutiku semalaman.Tipe Spanyolan,tinggi,licin,ramping,hitam mengkilatberototbodinyarambutseperti arang basahdi atas kepaladan sela selangkangan.Aku tak bisa menghitunglagi berapa kaliaku disetubuhimerekadan bagaimana sajaposisinya.Sekalimereka berdirimengelilingimelingkarikudan aku harusmerangkakdari satu selangkanganke selangkangan lainmengisapsatu-satu penis merekasampai berdiri.Setelahtujuh-tujuhnyaberdiri semuaaku bergidikmendongakpada penis-penis tegang ituperbedaan panjangnyadiameternyadan aku tahusatu demi satu mereka semua akan masukke lubang pantatku.Merekasemuakeluar paling tidak duabeberapa tiga kali.Sekali mereka mendorongkuberlutut di kasur,satuContinue reading “Puisi Porno”