sesuatu afrizal af

oleh bebek afrizal

ledakan-ledakan kecil jadi kebakaran dalam tubuh saya

saya adalah orang yang percaya dengan referensi. abad yang berlari bukan puisi saya, itu puisi indonesia 

di senen, di dunia saya, telinga bisa dijadikan kuping

hidup adalah getaran lantai bis kota. dada datang dari dunia yang tidak bernama. saya kembali ke tubuh saya

saya percaya dengan pekerjaan-pekerjaan fisik, untuk keluar dari puisi indonesia. tubuh sayalah yang mencipta bahasa

bahasa indonesia tidak menerjemahkan saya, tapi menggantikan saya

menjadi manusia begitu repot. banyak hal yang keliru dengan eksistensialisme. yang paling sulit justru bagaimana menjadi tidak ada, menjadi nothing. itu mengharukan

saya mengerti kenapa orang pakai drugs. bagaimana keluar dari cengkeraman hotspot? saya nggak cocok pakai drugs. saya pakai pekerjaan-pekerjaan rumah, betulin genteng bocor. itu yang paling mudah untuk lupa, untuk hidup murni

saya merasa tidak wajib untuk menulis puisi

puisi sekarang mengindekskan dirinya sendiri. puisi tentang puisi itu sendiri dan soal kepenyairan. puisi mengalami krisis identitas. prosa sekarang pesta pora. puisi ketakutan. kesibukan menjaga identitas. lari ke lirisisme dan romantisme. memakai bentuk klasik tapi reinteriorisasi saja

reinteriorisasi tidak terjadi di dunia penyair yang kuper. yang cuma suka puisi

ruang dalam dan ruang luar kata itu produk jakarta. di jogja saya hidup tanpa koran. saya cenderung curiga kepada bahasa lisan

setelah teman-temanku dari atap bahasa, titimangsa saya buang. saya ingin merasakan waktu

saya tidak bisa merasakan waktu, padahal saya sudah berusaha hidup dengan sepeda

ruang-ruang di jakarta itu cacat, luka. saya menyembuhkan luka dengan naik sepeda

bahasa membuat saya jadi seekor anjing

repetisi adalah kedalaman

saya seorang komunis yang tidak menyatakan diri

saya menakuti kekerasan karena saya tidak tahu cara-caranya

sampai sekarang saya tidak tahu kuburan ayah-ibu saya

saya sering menyerahkan diri pada sesuatu yang saya anggap gelap. saya berusaha terbuka kepada yang tidak terduga, kepada momen

tidak bisa hidup di jakarta tanpa performance. masjid dulu rumah nothing, untuk menangis, berdagang, atau tidur

kadang-kadang saya mencuci pakaian teman, untuk keluar dari ego

– mashup dari sharing afrizal di acara bincang tokoh, taman ismail marzuki, 17 december 2010

aku meminta temanku memfotokopi arsitektur hujan. tapi ia tidak memfotokopi indeksnya. kenapa kamu tidak memfotokopi indeksnya? bukankah afrizal menulis puisi sebagai usaha mengindekskan semiotika dunia di sekelilingnya? bagaimana aku bisa membaca puisinya tanpa indeks? temanku pergi, memfotokopi indeks arsitektur hujan jadi satu buku sendiri. aku berencana suatu saat jika ada kesempatan baca puisi, mau membaca isi indeks ini saja: dada, dadamu, daerah, daerah-daerah, daftar, dagang, daging, dago bengkok, danau, dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang selalu baru, dangdut, danke, dansa-dansi, dapur, darah, dasi, datang, datang kata-kata mati, membawanya pergi ke daerah-daerah tanpa pengucapan. terima kasih, see you on the next tour! 

mungkin found poetry itu akan kujuduli usaha menjadi dewey decimal.

aku harus memfotokopi buku itu karena buku aslinya tidak ada lagi di toko buku. aku cuma kenal tiga orang yang punya buku aslinya. temanku yang memfotokopikannya untukku, seorang temanku lagi yang membeli buku itu bertahun-tahun yang lalu di gramedia blok m, yang menemukannya dipajang di rak arsitektur, dan seorang temanku lagi yang pernah menulis di multiply, platform medsos favorit indonesia di pertengahan-akhir 2000-an: saya pernah membeli arsitektur hujan. saya berusaha keras memahami puisinya, tapi end up gila.

buku afrizal yang pertama kali kubaca adalah sebuah novel yang malas mengisahkan manusia. buku itu kucuri dari toko buku jurnal perempuan di tebet. aku paling suka kalimat di bagian menanam karen di tengah hujan, halaman 46: wajahnya seperti kapal-kapal VOC yang terbakar, dan semangka berair di matanya.

semangka berair di matanya. aku setuju. di jakarta, semangka memang buah yang paling sedih. diiris tipis-tipis oleh tukang buah, sampai transparan seperti kaca. dibelah kemudian dibiarkan kering dan berdebu dagingnya untuk memamerkan genetic modification yang telah menghilangkan biji-bijinya. dijual dengan plang yang selalu salah eja: sedless. 

aku menulis sebuah puisi tentang temanku yang baru saja dipecat dari majalah dewi karena menghisap ganja di atap gedung femina. judulnya kau dan aku selalu baks duls selamanya. kuakhiri puisi itu dengan kalimat berikut: aku ulurkan tanganku, kubelai semangka yang mulai berair di matamu, karena aku setuju, yang kurang sekarang hanya parasol yang tak akan menyembunyikan melankoli buah-buahan di kafeteria tempat kita nanti makan siang.

seperti pernah aku tulis di twitter, aku ingin menjadi epigon dengkulmu, #afrizalmalna.

aku suruh dua orang teman untuk membeli seperti sebuah novel yang malas mengisahkan manusia dari toko buku jurnal perempuan. tinggal sisa dua kopi. kufotokopi lagi arsitektur hujan untuk seorang temanku yang pernah menulis di tumblr-nya: aku tidak pernah memikirkan uang. atau kuda-kuda yang berlarian di bulu lehermu.

ia suka arsitektur hujan, katanya kayak pengen meluk bukunya. 

suatu sore, aku pernah berbincang dengan istriku di cafe excelso senayan city. kami sedang berusaha memahami bagaimana caranya afrizal menulis puisi, dibandingkan dengan, misalnya, nirwan dewanto. kami mencoba membayangkan bagaimana afrizal akan mengindekskan semiotika senayan city. istriku, anya rompas, seorang penyair juga, pada waktu itu masih 30 tahun, berkesimpulan bahwa afrizal mungkin akan menyebutkan semua hal yang memang ada di senayan city. bicara lagi burger king-ku, hot shots-ku, bottega veneta-ku, tumi-ku, versace-ku, populo-ku, ted baker-ku, massimo dutti-ku, sushi tei-ku, food hall-ku, guardian-ku, erha-ku, sour sally-ku, j.co-ku, pizza marzano-ku, topman-ku, camper-ku, gap-ku, zara-ku, hush puppies-ku, urban kitchen-ku, pancious-ku, kiddy cuts-ku… pisau lipat victorinox.

mungkin begitu. sementara nirwan dewanto akan menyitir wallace stevens untuk membungkus perasaannya tentang spageddies. 

pembaca tidak memesan penyair modern yang telat 70 tahun menyitir modernisme, candaku pada capuccino toraja.

tapi sebenarnya kenapa jantung lebah ratu dan buli-buli kaki lima seperti tidak peduli dengan mengindekskan dunia tapi malah menuntut dunia untuk mengindekskan mereka? 

mereka seperti sibuk membangun kardus pandora dari lemari-lemari yang kosong.

temanku yang ingin memeluk arsitektur hujan tadi, namanya ratri ninditya, pada waktu itu 24 tahun dan masih bekerja sebagai copywriter di biro iklan multinasional dan penyair juga, bilang di buku itu afrizal bener-bener bicarain benda-benda, perasaan dia terhadap benda-benda itu, bukan perasaan dia yang kayak benda-benda.

aku setuju. mungkin pernyataan bahwa afrizal bisa menghidupkan benda-benda dalam puisinya telah menjadi sebuah klise yang diulang-ulang banyak orang tanpa tahu arti sebenarnya apa. misalnya dalam baris kenapa begitu ketakutan, seperti lemari? lemari itu terasa hidup – walaupun dalam sebuah kehidupan yang sureal, tapi bagaimana caranya? 

menurutku, benda-benda, oli, obat tidur, lemari, knalpot, jas, dasi, dada, suster, dll. di puisi afrizal bukanlah metonymy, tidak seperti kulit limau atau cangkang telur nirwan dewanto, misalnya. lemari kalau dipikir-pikir memang selalu ketakutan, setelah dibuka untuk mengambil sesuatu yang disembunyikan di dalamnya, selalu harus ditutup kembali, dikunci, kemudian kamarnya dikunci juga kalau perlu. benda-benda itu memang always already hidup, tapi mungkin hanya afrizal yang punya kerendahan hati untuk mengindekskan kehidupan mereka (dan hubungan-hubungan antara (tubuh) manusia dan mereka, dan antara mereka sendiri), dan bukan sekedar memulung benda-benda itu untuk dijadikan metafora bagi sesuatu yang lain yang dianggap lebih penting daripada sekedar benda.

aku pernah membuat sebuah eksperimen di facebook sebagai usaha untuk mengetahui lebih banyak tentang semiotika kehidupan benda-benda dalam puisi afrizal. aku mengganti, menggeser, menukar posisi kata benda-kata benda di dalam puisi atap bahasa yang runtuh afrizal secara acak (kayak AI ya, Afrizal Intelligence 😛). hasilnya seperti ini:

bahasa atap yang runtuh

sapi-sapi hitam itu keluar dari atap kening yang

runtuh. lubang yang tak punya merah.

batu kata di kalimat-kalimat kecil.

keringat asin dan bau rokok di 

atas sarung. aku membawa apa saja

dari yang mereka punya. mereka tidak

melupakannya. ada puntung waktu yang

membungkus bahasa mereka, seperti

piring yang lembab. bayangan me-

reka, massa yang memamahi

gang-gang pendek. mereka yang 

membuat senja pada kaki-kaki dengan 

kulit telurnya yang bersayap.

sarung itu akan menarik sebuah kota

yang kandas di tengah kuku. mereka

adalah sepatu dan bajuku, atap dari massa

bahasa yang runtuh. mereka pernah 

membuatkan ibu bapakku, sisa

bau mulut di tubuhnya mengantarku

ke rumah. mengajakku berenang

dalam telinga mereka yang dibanjiri oleh

telur. mereka menyimpan bau

bawang di lipatan massa mereka, uang

sewa sekolah bulanan, harga minyak

merah yang baru dikupas bersembunyi

di bawah kulit kapal. 

rasa takut itu harus ditarik, seperti melepas-

kan kota dari manusia kelabu. kalau

tidak senja akan menjadi kalimat

yang penuh massa. mereka membawa

akhir musim panas yang panjang. upah

harian yang memanjang dari bulan mei

terakhir pintu masuk rumahmu

setelah menerima bayangan waktu.

batu itu menyambung bau satu per

satu, seperti menyambung kembali tali

langit dari seorang pekerja bangunan

hingga bulan yang lalu. mereka

pernah membuat pakaianku, mencuci

rumahku, dan kapal yang 

bersembunyi di dalam piring.

mereka mulai menarik atap yang

kandas itu. tetapi sayap-sayap uang

tertancap dalam perut api. bau kapal

mengalir seperti keringat dan kota dalam

perut bahasa. baling-baling minyak me-

layang-layang dari kapal kota yang

runtuh itu. guru itu adalah massaku,

yang pernah membunuh rumahku,

tidak, di kaki-kaki pintu

kemerdekaan. tidak. piringnya tak 

pernah hilang seperti atap bahasa,

tidak, di setiap massa msuk kota.

tidak. pintu itu. tidak. adalah halaman

belakang kata yang melihat kalimat telah

tersalib di gelas. luka dan 

tembok kota telah berjalan meninggalkan

kota yang kandas itu, mencari kapal

baru: paman untuk semua makhluk.

memasang kembali akar rumput yang

runtuh itu, seperti memasang waktu

yang menyapamu di depan pesta.

bandingkan dengan versi aslinya, atap bahasa yang runtuh, di buku teman-temanku dari atap bahasa, halaman 8:

atap bahasa yang runtuh

massa itu keluar dari atap bahasa yang

runtuh. senja yang tak punya merah. 

kaki-kaki kata di gang-gang kecil.

kulit telur asin dan puntung rokok di

atas piring. mereka membawa apa saja

dari yang mereka punya. aku tidak

melupakannya. ada bau waktu yang

membungkus kening mereka, seperti

sarung yang lembab. bayangan me-

reka, sapi-sapi hitam yang memamahi

kalimat-kalimat pendek. mereka yang

membuat lubang pada batu dengan 

keringatnya yang bersayap.

massa itu akan menarik sebuah kapal

yang kandas di tengah kota. mereka

adalah ibu bapakku, massa dari atap

bahasa yang runtuh. mereka pernah

membuatkan sepatu dan bajuku, sisa

bau telur di telinganya mengantarku

ke sekolah. mengajakku berenang

dalam tubuh mereka yang dibanjiri oleh

mulut. mereka menyimpan harga

minyak di lipatan sarung mereka, uang

sewa rumah bulanan, bau bawang

mereah yang baru dikupas bersembunyi

di bawah kulit kuku.

kapal itu harus ditarik, seperti melepas-

kan senja dari langit kelabu. kalau

tidak kota akan menjadi bulan mei

yang penuh batu. mereka membawa

akhir bulan yang panjang. bayangan

waktu yang memanjang dari kalimat 

terakhir seorang pekerja bangunan

setelah menerima upah harian mereka.

massa itu menyambung tali satu per

satu, seperti menyambung kembali bau

manusia dari pintu masuk rumahmu

hingga musim panas yang lalu. mereka

pernah membuat rumahku, mencuci

pakaianku, dan rasa takut yang 

bersembunyi di dalam piring.

mereka mulai menarik kapal yang

kandas itu. tetapi baling-baling kapal

tertancap dalam perut kota. bau uang

mengalir seperti minyak dan api dalam

perut kota. sayap-sayap keringat me-

layang-layang dari kapal bahasa yang

runtuh itu. massa itu adalah guruku,

yang pernah membunuh pamanku,

tidak, di halaman belakang pesta

kemerdekaan. tidak. lukanya tak

pernah hilang seperti akar rumput,

tidak, di setiap pintu masuk kota.

tidak. massa itu. tidak. adalah kaki-

kaki kata yang melihat waktu telah

tersalib di tembok kota. piring dan

gelas telah berjalan meninggalkan

kapal yang kandas itu, mencari kota

baru: rumah untuk semua makhluk.

memasang kembali atap bahasa yang

runtuh itu, seperti memasang kalimat

yang menyapamu di depan pintu.

aku tidak tahu, mungkin aku salah, tapi reinteriorisasi (memakai istilah yang pernah dipakai afrizal sendiri dalam acara bincang tokoh di tim, 17 desember 2010) puisi afrizal ini sepertinya menghasilkan bukan cuma satu lagi puisi, tapi satu lagi puisi yang khas afrizal! 

aku belum tahu ini membuktikan apa. apakah bahwa atap bahasa yang menaungi (kata) benda-(kata) benda itu memang benar rapuh dan bisa runtuh sehingga (kata) benda-(kata) benda itu bisa berlarian berpindah tempat – mungkin juga berebutan tempat seperti dalam permainan musical chairs, atau bahwa usaha mengindekskan semiotika dunia di sekelilingnya sebenarnya sama mustahilnya dengan problem yang pernah afrizal keluhkan: bagaimana aku bisa menciummu kalau keningmu telah menjadi air?

aku lebih tertarik pada sebuah komentar buat mashup afrizal-ku ini, dari ugoran prasad, penulis novel, cerpen, dramawan, dan vokalis majelis lidah berduri née melancholic bitch. begini tulisnya: iya, beneran deh kaka’. masak gak pherchaya’ sih? aduuu, nawar segitu? ini barang kw1, kaka’. merk’nya sama, motifnya sama. choba deh dirasain bahannya, sapi-sapi hitamnya, baling-baling kapalnya, perut kotanya, kulit kuku dan bau waktu yang membungkus kening mereka kaka’. gak papa pegang aja ka’. ga’ keliatan bedanya kok kaka’. aku udah pake sendiri kok kaka’, saking cakepnya. warnanya itu loh, memasang kembali atap bahasa yang runtuh itu. tuh coba deh, keren kan kaka’. tuh, secara gaul, cakep kaka’. ambil berapa kaka’? dua? […] kita keluarin nota resmi kok kaka’. […] bisa, kaka’. mau ditulis berapa di notanya kaka’? […]

aku kurang mengerti komentar ini maksudnya apa. tapi aku terhibur dengan nadanya yang sepertinya jengkel. sepertinya ia merasa bahwa mashup-ku itu adalah versi kw1 dari puisi aslinya? bahwa indeks semiotika di puisi asli afrizal sudah tersusun sempurna dan tidak mungkin diacak-acak lagi urutannya. 

mungkin dunia konservatif sedang memakan jantungnya. sakit, dong, tanganmu. 🙂

di acara bincang tokoh di tim itu afrizal sempat bilang, saya adalah orang yang percaya dengan referensi. waktu aku membaca puisi dada di buku abad yang berlari, aku sempat berpikir dada adalah referensi tentang tristan tzara, andré breton, louis aragon, dan penyair-penyair dadais lain dari awal abad ke-20 setelah perang dunia satu. aku jadi ingat puisi pesta para mr. art di buku teman-temanku dari atap bahasa (halaman 34), sebuah satir sarkastik tentang borjuisme dalam skena seni rupa di indonesia (aku baru beli sebuah bis besar, 5 milyar harganya; silahkan minum, ini teh dari barcelona; kolam renang dari beijing di halaman belakang). aku yakin bahwa baris estetika penuh dengan teriakan abad yang lalu adalah referensi tentang dada, yang anti-art, anti-borjuis, anarkistis, dan akhirnya, komunis. apalagi afrizal juga bilang di puisi ini, aku kan seorang komunis yang tersisa di bingkai kanvasmu.

aku dan teman-temanku dari atap duckdown suka berpikir bahwa banyak puisi afrizal adalah puisi mash-up yang jenius. temanku edo wallad, pada waktu esai ini pertama kali ditulis 32 tahun, vokalis band dance-punk the safari dan pemandu cakram ibukota, pernah mendeskripsikan puisi afrizal sebagai mixingan DJ mash-up terjenius. katanya, entah siapa, 2manyDJs pun lewat. ibaratnya lagu trance bpm 140 bisa di mash-up dgn lagu soul bpm 80 dgn hasil yg luar biasa indah.

gara-gara dada aku jadi ingat bahwa istilah lain untuk mash-up adalah kolase, teknik favorit penyair-penyair dada. dan juga afrizal. dalam satu kalimat, afrizal bisa mengkolase berbagai macam benda dan perasaan menjadi sesuatu yang baru dan menyentuh: di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi dan mengurus makanan anjing; dengkul tidak seperti kota yang kau bangun di mulut knalpot; aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur; paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megapon; rambut palsu, lapangan basket, alat-alat kecantikan di meja: bagaimanakah caranya membaca koran?

menurutku penyair indonesia suka kegenitan menyembunyikan pengaruh mereka. sitor menyembunyikan pound, rendra menyembunyikan lorca, sutardji menyembunyikan apollinaire dan kakak beradik de campos, goenawan mohamad menyembunyikan elizabeth bishop. tapi afrizal tidak begitu, ia murah hati membagi nama-nama penulis-penulis yang kelihatannya mempengaruhinya di buku kritik puisi panjangnya yang habis kamu baca ini, sesuatu indonesia. sebelum aku beri contoh nama dan karya penulis-penulis itu, baik aku copas di sini sebagian dari ulasan buku ini – yang sekarang aku udah gak punya lagi karena dicuri seseorang indonesia dari perpustakaanku padahal sekarang di marketplace ada yang jual satu Rp800.000! – yang kutulis di goodreads:

aku sudah beli buku ini lama, bertahun-tahun [review in ditulis versi awalnya tahun 2010, first printing buku afrizal ini keluar tahun 2000 dari penerbit bentang yang pada tahun 2010 pun sudah jadi legendaris terutama karena banyak menerbitkan buku-buku puisi indonesia berukuran nyaris-saku yang sekarang dianggap klasik, termasuk dalam rahim ibuku tak ada anjing afrizal], tapi tak pernah membacanya karena berat, like literally, this book is a doorstopper/brick/a ton of bricks. berat banget. kertasnya tebal, kertas sampulnya art paper tebal. 578 halaman. makes me think mungkin ipad gak berat-berat amat kali yak. [ipad mini yang lebih ringan baru keluar tahun 2012]

afrizal adalah seorang intelektual yang cerdas, dan gila bahwa buku ini tidak terdengar gaungnya dan orang jarang menyebut atau menyitir isinya. padahal, bagiku sendiri paling tidak, buku ini tempat pertama kali aku akhirnya menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang kedengarannya tolol dan naif tapi aku memang belum pernah menemukannya di buku lain, seperti: kenapa puisi sapardi suka disebut puisi suasana? atau, apakah itu sebenarnya puisi gelap? 

afrizal ternyata memang pembaca puisi, kritik puisi, dan sejarah puisi yang tekun, pengetahuannya tentang puisi indonesia, baik yang didapatkannya dari membaca atau dari pergaulan pribadinya dengan penyair-penyair lain, sangat ensiklopedik. ternyata puisi sapardi sering disebut puisi suasana karena subjek aku-lirik suka dihilangkan. puisi gelap (duistere poezie) ternyata istilah yang pertama kali digunakan oleh chairil anwar untuk menilai puisi-puisi amir hamzah. bagi chairil puisi-puisi amir gelap karena memerlukan pengetahuan sejarah dan agama untuk memahaminya. 

selain arsipis yang tekun, afrizal juga pemikir yang orisinil. ide-idenya tentang puisi indonesia terkesan homespun/autodidact, but what a spin on things! misalnya idenya tentang puisi sebagai indeks semiotika dunia di sekelilingnya (makanya hampir setengah dari antologi arsitektur hujan-nya dimakan indeks!), dan bagaimana puisi jadi lebih menarik saat dunia jadi semakin susah untuk di-indeks-kan (terutama karena kemajuan teknologi – afrizal sudah sampai pada tahap membahas TV dan komputer, it would be interesting to know what he thinks of AI now!), yang mungkin saja mirip dengan ide-ide formalisme rusia yang memberi ponten lebih kepada puisi yang lebih rumit dan padat hubungan puitik antara tiap elemen puisinya, tapi disampaikan dengan lebih simpel, dan karena homespun, juga lebih closer to home, lebih relevan dengan kenyataan dunia puisi indonesia. 

masih banyak lagi analisa-analisa afrizal tentang dunia/sejarah puisi indonesia yang menarik. yang aku ingat off the top of my head: pembaca tidak memesan puisi modern, dan kritikus tanpa konvensi. tapi yang juga menarik dan sempat membuat aku tertegun dengan kecemerlangan ide dan ketekunannya adalah cara dia mengutip puisi-puisi yang dia analisa di buku ini. jadi dia mengutip puisi hampir semua tidak dalam bentuk asli puisi itu ditulis tapi malah dengan menghilangkan bentuk asli/tipografinya, menjadi seakan-akan baris-baris itu kalimat-kalimat (prosa) biasa. contohnya: apakah arti sajak ini, kalau anak semalam batuk-batuk, bau viks dan kayu putih melekat di kelambu, kalau istri terus mengeluh tentang kurang tidur, tentang gajiku yang tekor (subagio sastrowardoyo); atau, dalam parodi wiji thukul yang mengejek borjuisme subagio: apa yang berharga dari puisiku, kalau adikku tak berangkat sekolah karena belum mebayar uang SPP. apa yang berharga dari puisiku, kalau becak bapakku rusak. bahkan afrizal tidak memakai garis miring / // yang kadang-kadang dipakai orang untuk memisahkan baris dan stanza jika mengutip puisi dalam bentuk prosa.

afrizal melakukan ini karena macam-macam hal. salah satunya, dia percaya teks bisa dimobilisasi. katanya, teks tidak memiliki keharusan mengabdi hanya pada kesatuan orisinal dari konteks aslinya. tentu ini berguna tatkala afrizal perlu teks untuk mendukung argumennya, dia bisa memobilisasi yang perlu! 😀 

namun ada juga maksud lain (yang dia akui juga): dengan metode pengutipan seperti ini pula, kelemahan-kelemahan puisi segera memperlihatkan dirinya… cenderung berubah jadi prosa atau sekadar catatan harian ketika ia dilepaskan dari rekayasa tipografinya. ya haha, selain tekun dan cerdas, afrizal juga seorang penyindir yang sopan tapi menampar! 

itu alasan yang dia akui. menurutku ada juga satu alasan yang jelas bisa dilihat juga dari baris-baris subagio dan wiji thukul yang kukutip di atas (yang dikutip oleh afrizal berdekatan, dalam satu halaman). dia sering melakukan ini untuk menunjukkan (show, not tell!) dua atau lebih teks puisi yang saling mempengaruhi (kalau tidak saling contek) tanpa harus melancarkan j’accuse ala abang-abangan sastra. contoh satu lagi selain di atas adalah waktu dia menyandingkan dua kutipan puisi ini: meluruskan kain baju dahulu, meletakkan lekat sanggul rapi, lembut ikal rambut di dahi, pertarungan dimulai (toeti heraty, 1974); sekalian ucapan telah kuberi bingkai, jerat muslihat sebanyak rambut terurai, di tiap lipatan gaun bersembunyi isyarat. (siti nuraini, 1969) hehehe, pandai ya afrizal. 

afrizal dalam buku ini juga tidak melupakan dirinya sendiri untuk di(oto)kritik dengan cara ersatz comp. lit. seperti di atas. coba simak kutipan-kutipan puisi berikut ini:

ram tam tam tam: Naik kereta roda kaki. (Alfin Toffler & Co, salut dari gubug)… RAM RAM TAM TAM TAM RAM RAM RAM.

ada yang belajar memanggil taksi.

kata-kata hanyalah suara dari perjalanan yang terkejut. 

pembaca-pembaca-yang-tak-bersih yang akrab dengan puisi afrizal akan segera melihat kemiripan baris-baris di atas dengan baris-baris puisi afrizal. dan afrizal pun, dalam komentarnya tentang puisi yang memuat baris ada yang belajar memanggil taksi tadi, menawarkan jawaban tentang apa yang sebenarnya mirip dari baris-baris seperti tadi: semua ini bukanlah bentukan sintaksis puisi yang dilakukan sewenang-wenang. tapi ada opini di dalamnya untuk berbagai manifestasi sosial, yang bisa dibaca dengan menonton puisi ini. (sesuatu indonesia, halaman 300)

ram tam tam tam di atas bisa dibandingkan dengan rrrrrrr rrrrrrrrrrrrrr tristan tzara. tapi baris-baris di atas semua ditulis oleh penyair-penyair yang namanya tidak ter/dikenal! (atau paling tidak aku tidak pernah mendengar nama-nama mereka sebelumnya.) baris pertama oleh akhudiat dari sajak syair ke kubur yang ditulis/diterbitkan tahun 1975, baris kedua oleh t. wijaya dari sajak umar menatap kening yang ditulis/diterbitkan tahun 1995, dan baris ketiga oleh mathori a. elwa dari sajak la comedie du poete yang ditulis/diterbitkan tahun 1989.

kalau kita telusuri, kumpulan puisi pertama afrizal, abad yang berlari, yang disebutnya dalam acara bincang tokoh di tim tadi sebagai bukan puisi saya, itu puisi indonesia, diterbitkan tahun 1984, dan kumpulan kedua setelah itu (yang bukan lagi puisi indonesia), yang berdiam dalam mikropon, terbit tahun 1990. mungkin afrizal berusaha menunjukkan bahwa dalam usahanya mengindekskan semiotika dunia di sekelilingnya ia sebenarnya tidak sendiri, tapi ditemani penyair-penyair lain yang mempengaruhinya dan juga ia pengaruhi. 

bagiku sendiri, pengaruh afrizal bukan cuma dalam puisi-puisiku. sebelum aku datang ke acara bintang tokoh itu, selama dua hari di twitter aku men-tweet baris-baris #afrizalmalna favoritku. menarik melihat baris mana saja yang diretweet oleh orang lain. kupikir ada perbedaan antara orang yang meretweet aku tak suka tema tentang kesepian, aku suka tentang bunga dengan yang meretweet aku telah mengirim perang dan kesedihan, seperti mengantar koran pagi ke meja makanmu. 

setelah acara itu, aku naik taksi ke kemang bersama edo. di tengah jalan dia kebelet pipis, ingin mampir di wc pom bensin yang berada di sebelah kiri jalan dekat perempatan mampang. tapi sebenarnya dari situ kami harus belok kanan dari arah kuningan ke jalan bangka. aku bertanya, lo pengen mampir ke mesin cuci?

aku mulai berbicara dalam bahasa ersatz afrizal!

di buku ini, afrizal juga menulis: puisi yang membiarkan dunia benda membangun indeks dari rumah tangga teksnya sendiri… menerima risiko aku-lirik bukan lagi sebagai biografi utuh dalam melakukan pemaknaan yang biasa dilakukan lewat pengalaman dan pengetahuannya sendiri. (sesuatu indonesia, masih halaman 300)

sepertinya, aku merasa lebih gampang membiarkan pemaknaan dilakukan lewat puisi-puisi afrizal, daripada mengumpulkan pengalaman dan pengetahuanku sendiri.

tanpa afrizal, bagaimana aku bisa menyisir rambut?

Leave a comment