pi lih

di depan klenteng bergenteng naga itu pilihannya selalu sama, sayap yang utuh, atau dada yang disuwir-suwir seperti berita tentang ibumu yang menolak meninggalkan rumah dan kakakmu yang datang dengan pedang di hatinya. tapi waktu kalian bercakap, semua itu tak ada, hanya nostalgia tentang Kota Tua, bistik Belanda, dan mrica berwantek merah muda menyewa video Megaloman,Continue reading “pi lih”