Pas di hari ABRI 5 Oktober kemarin, saya membaca komentar Felix Dass, penulis dan promotor musik yang sudah malang-melintang di skena sejak pertengahan tahun 2000-an tentang band The Jeblogs di X: “Generasi baru telah tiba. The best thing in Synchronize Festival 2024: The Kick x The Jeblogs. Selesai. No debat.” Post ini disertai video penampilan kedua band tersebut di festival itu — seru, mengingatkan tentang gig-gig screamo di bar BB’s di awal tahun 2000-an di mana band dan penonton menyatu, panggung lenyap, yang tersisa hanyalah euphoria dan histeria massa. Seorang fan membelai-belai rambut drummernya. Ekstatik. Orgasmik.
Saya terpancing untuk bertanya, bukan untuk pertama kali, kenapa klaim Felix di atas tidak disertai argumen, analisa, atau bukti, sekecil apapun. Hanya asersi yang enggan dipertanyakan kebenarannya. “No debat”. Elon boleh bilang X adalah “alun-alun dunia”, orang boleh pidato di atas soap box merk apa saja, namun “no debat” bagi saya langsung menjelma jadi taplak merah yang dilambai-lambaikan di depan hidung banteng di plaza de toros.
Alasan saya bertanya, selain beneran pengen tahu The Jeblogs seperti apa dari seorang penulis musik senior yang saya asumsikan punya banyak hal untuk diceritakan tentang band yang dia anggap sebagai “generasi baru”, juga karena dari pengamatan saya penulisan musik di Indonesia sedang diwabahi banyak penulis yang terlalu cinta pada kata sifat, pujian lebay, atau liner notes ala advertorial yang nggak ada isinya (halo Pophariini), dan atau sok gonzo mengarang-ngarang frase jurnalisme sastrawi ala-ala yang hanya ngomongin dirinya sendiri daripada musik yang dibahasnya (halo Rio Tantomo). Dari karya-karya jurnalisme musik yang sudah berbentuk buku sepuluh tahun terakhir mungkin hanya Bandung Pop Darlings Irfan Popish yang ditulis dengan SPOK dan 5W1H prima serta riset independen mendalam (termasuk wawancara langsung dengan narsum primer, eg, anak dan penggerak skena, dan pengarsipan sumber vernakular, eg, tiket gig, poster gig, review zine, etc) sehingga, mengutip moto majalah Tempo dulu, baik narasi maupun informasinya jadi bener-bener enak dibaca dan perlu.
Jawaban Felix:
Kemudian juga:
Oke kalau begitu, yang mau melanjutkan menikmati masturbasi sama-sama antara @mekitron x @felixdass langsung saja ke X.
Tapi sebelum mulai membahas album debut (sejauh saya tahu) The Jeblogs yang berjudul Sambutlah, baik saya sebutkan komentar nyamber dari netijen yang bermurah hati memberi saya jalan masuk untuk membahas band ini:
Sejak keterangan singkat tentang The Jeblogs ini dipost di X, beberapa hari kemudian ternyata berkembang diskursus di antara anak-anak skena musik yang mendebatkan (Yes debat) tentang ekosistem gig dan rilisan di Jawa Tengah dibandingkan dengan di Jawa Timur. Gembira melihat wacana berkembang biak sendiri dimulai oleh sekedar kemurahan hati untuk berbagi pengetahuan.
Sementara saya dari X-war singkat vs. Felix langsung menuju ke YouTube Music (karena kualitas suara >>> Spotify) untuk mendengarkan Sambutlah. Pertama kali dengar dari awal sampai akhir, di kuping saya album ini terdengar tidak baru, justru dengan setia meneruskan tradisi garage rock, indie rock, post punk (revival) dari era awal 2000-an: The Upstairs via Morfem, The Strokes (perhatikan kemiripan sampul Mapplethorpe ala-ala di album Is This It vs sampul Sambutlah yang sama monokromatiknya) via The Brandals, bahkan Netral — suara gitar rhythm yang fuzzy, gitar solo yang melankolis, dan lirik yang diam-diam puitis (dalam hal ini juga meneruskan tradisi vokalis-penyair Jimi Multhazam, Eka Annash, Edo Wallad The Safari, bahkan Bagus Netral yang juga lowkey Afrizalian). Bahkan setelah habis mendengarkan Sambutlah, algo YouTube Music (yang menurut saya lebih jago dalam merekomendasikan musik-musik yang bunyinya mirip dibanding Spotify), otomatis melanjutkan dengan sebuah lagu Morfem:
Kesan pertama, lagu-lagu dalam album debut The Jeblogs ini, terutama title track Sambutlah yang paling banyak plays-nya, kebanyakan mempunyai chorus anthemic yang pasti akan asyik dinyanyikan bersama di GBK. Dan salah satu chorus anthemic itu ternyata adalah baris “Generasi baru telah tiba” yang dikutip di tweet Felix tadi. Entah apakah Felix mengutipnya secara literal, atau sebagai sebuah komentar tentang lagu ini sendiri, sebuah anthem motivasional tentang telah tibanya sebuah generasi baru, bisa saja bukan hanya di dalam skena musik namun juga di Indonesia secara lebih luas yang katanya sedang menanti bonus demografi yang akan membawa kita semua ke haribaan sebuah Generasi Emas:
“Benih-benih bertumbuh di sela puing
Harapan mencari jalannya
Orang-orang muda berkobar menjelma cahaya
Lajunya tak terbendung, jadi bersiaplah, maka rayakanlah”
Jadi mungkin saya salah menginterpretasi tweet Felix sebagai sekedar pujian lebay-prematur terhadap The Jeblogs? No idea. No debat. Wk. Kan saya udah minta dijelasin terus dia males jawabnya. Coba nggak males. 😛
Selain memberikan clue bahwa The Jeblogs mungkin adalah generasi penerus dari skena garage rock revivalists Ngayogyokarto-adjacent (karena mereka sebenernya dari Klaten), @alfanrahadi0079 juga memberikan beberapa rekomendasi playlist, termasuk:
Setelah mendengarkan Mati Muda oleh Jenny, saya jadi makin penasaran dengan hubungan di antara band-band dan genre-genre di atas, antara The Jeblogs, Jenny, The Strokes, garage rock, post punk, indie rock (beberapa riff The Jeblogs juga mengingatkan akan The Pixies circa Doolittle atau The Rentals circa Return of the Rentals, dst.) Awalnya saya berkomentar begini kepada Alfan:
Tapi bagaimana kita sebaiknya menyikapi referensi The Jeblogs terhadap Farid Stevy di lagu Sebat Dulu? Liriknya begini:
“Drama apa lagi yang kau suguhkan kali ini
Lebih kocak dari Aldi
Lebih payah dari seni Farid Stevy”
Saya tidak tahu siapa itu Aldi, tapi apakah seluruh stanza yang disajikan di atas riff You Only Live Once The Strokes yang dilambatkan ini sebuah tribute terhadap Farid Stevy yang di akhir lagu Mati Muda itu mengcopas pleketiplek riff Reptilia The Strokes tanpa alasan yang jelas (tribute? pastiche? sampling manual pake Fender Strat?) — dan itu satu-satunya bit yang memorable dari lagu tersebut, atau sebaliknya, apakah dalam keintertekstualitasan di antara kedua lagu ini (keempat lagu kalau menghitung dua lagu The Strokes yang dijadikan inspirasi) sebenarnya The Jeblogs sedang mengkritik, ngecengin Farid Stevy? “Gini lho kalau mau nyontek The Strokes, jangan pleketiplek dong…”
Beberapa netijen di diskursus The Jeblogs yang terus bergulir ini menunjukkan bahwa di lagunya Manifesto Postmodernisme, Jenny juga sudah mengatakan bahwa “tak ada yang baru di bawah matahari”. Mau bilang, ya, itu memang maksud kalimat terakhir di cuitan saya di atas cuma saya terjemahin aja jadi bahasa Inggris, tapi kok ga tega. Lebih menarik membahas, apakah menjadikan baris dalam manifesto itu menjadi raison d’etre Farid untuk mengcopy riff Reptilia pleketiplek seperti Kanye menyampel Harder, Better, Faster, Stronger Daft Punk, misalnya (cari sendiri contoh-contoh sampling lain artis hip-hop) adalah alasan yang cukup, karena bukankah di dalam manifesto itu Farid sebenarnya masih percaya ada hal yang baru?
“tak ada yang baru
di bawah matahari
katakan sesuatu yang baru
dari dalam isi kepalamu”
Tapi kalau isi kepalamu ternyata sama aja dengan Nick Valensi dan Albert Hammond, Jr. berarti tetep tak ada yang baru dong di Mantrijeron?
Dan, apakah ironi dari manifesto Farid Stevy ini juga dikritik oleh The Jeblogs di lagu pamungkas dalam album mereka, “Track 8” (tak ada yang baru di bawah matahari jadi ngapain juga bikin judul lagu? Lucuk):
“Sampai kapan kau diam di kepala
Sedang dunia begitu luasnya
Jangan mati membusuk di sana
Biarkan kakimu mengembara”
Apakah ini versi halus dari, “Mainmu kurang jauh, Bang…” — sebuah kritik pedas bergaya pasemon yang halus dari dedek-dedek skena musik di pinggiran Klaten terhadap abang-abangan senior mereka di pusat keadiluhungan Ngayogyokarto?
Sampai di sini saya jadi sadar, kemampuan The Jeblogs mengolah lirik yang halus dalam balutan musik garage rock post pop punk mungkin bukan hanya pengaruh lirikus pendahulu mereka, tapi juga pengaruh sastra Indonesia. Di cuplikan video gig mereka di Synchronize Fest yang diupload Felix kelihatan ada background video art yang menampangkan baris dari lagu mereka (hit mereka yang pertama?), “Bersandarlah”, “Hidup memang begitu indah, hanya itu yang kita punya”, dalam font raksasa yang sedang dinyanyikan bareng semua penonton dengan sekuat tenaga. Anak skena sastra tentu tahu ini adalah baris yang diambil dari judul buku esai Dea Anugrah, “Hidup Begitu Indah Dan Hanya Itu Yang Kita Punya.”
Seperti kita tahu, Dea juga seorang penyair, dan di beberapa liriknya, The Jeblogs mampu menyaingi kelirisan Dea maupun penyair-penyair Indonesia yang lain (misalnya Adimas Immanuel, Aan Mansyur, … pilih sendiri penyair male loneliness epidemic-mu). Misalnya dalam baris-baris ini, sekali lagi dari “Track 8”:
“Seperti rokok terbakar
Di sela-sela jari
Kau dan aku
Berjalan mundur
Menuju akhir”
Okay, pwissie. Lebih inventif daripada “Kau dan aku selalu untuk selamanya, kau dan aku selalu untuk bersama” Nidji, misalnya.
Track 8 ini juga menarik buat penyair seperti saya karena durasinya yang 8:49 ternyata juga meliputi bagian spoken word di tengah-tengah lagu yang diawali dengan pengulangan kata paling keramat dalam puisi Indonesia, “Aku, Aku, Aku…”, seakan-akan The Jeblogs ingin mendeklarasikan bahwa mereka yang bukan penyair tapi anak band juga boleh ambil bagian dalam Puisi Indonesia. Segmen spoken word ini dibawakan dengan gaya antara lo-fi/lo-energy Edo Wallad di lagu “Gadog”, kolaborasinya dengan Texpack, dan angkara Morgue Vanguard di coda spoken wordnya di lagu “Kontra Muerte”,
“Tapi tidak hari ini
Niscaya terbungkam,
Tidak hari ini
Langit pasti menutup,
Tapi tidak hari ini
Detaknya akan berdiri, rangkul kawan kalian kanan-kiri
Gelap pasti kan datang,
Tapi tidak hari ini!”
terutama di refrain “Tidak hari ini!” yang diulang-ulang dengan nada suara makin lama makin mau nangis.
Bandingkan dengan refrain spoken word di lagu The Jeblogs ini:
“Untuk hari ini untuk hari ini
Untuk hari ini untuk hari ini
Untuk hari ini untuk hari ini
Untuk hari ini untuk hari ini
Untuk hari ini untuk hari ini
Tak kusayat leherku untuk hari ini
Tak kuikat nafasku untuk hari ini
Tak kulubangi dadaku untuk hari ini
Tak kuhamtam aspal untuk hari ini
Tak kutenggak racun untuk hari ini
Tak kutenggelamkanku untuk hari ini
Aku rawat gelisahku untuk hari ini
Aku rasa khawatirku untuk hari ini
Tangis menangisku untuk hari ini
Tawa tertawaku untuk hari ini”
Hmmm, tapi sebenernya gaya spoken word The Jeblogs di lagu ini paling pas dideskripsikan memakai Twitter handle seseorang yang saya iri banget pengen kepikiran duluan: fugazi calzoum bachri
Akhirul kata, banyak sekali aspek-aspek dari The Jeblogs — yang saya sebutkan di atas belum semuanya — yang bisa dibahas, dianalisa, bukan untuk masturbasi seperti kata Felix, tapi untuk menggali lebih dalam kekayaan dan kedalaman pikiran dan cara — dari referensi musik dan lirik hingga intertekstualitas di antaranya — The Jeblogs mencerna dan mengolah ulang pengaruh pendahulu-pendahulunya dalam skena garage rock post pop punk revivalists yang sepertinya gak perlu dikasih label revival lagi karena gak pernah hilang juga. Sambutlah matahari, biarpun ia masih juga terbit di ufuk timur!